Motivasi Yang Tulus Membawa Pencapaian

Saya menerima artikel ini dalam surat dan [artikel ini] menarik perhatian saya. Sekarang ini sangat jarang terdengar mengenai praktisi dengan pencapaian, jadi saya berpikir untuk membagi [informasi] ini dengan kalian.

Di biara, sangatlah umum bahwa melalui motivasi yang tulus dan latihan, seseorang bisa mencapai kesadaran yang tinggi seperti yang diajarkan oleh sang Buddha dan para Guru. Hal ini sama apakah kalian berasal dari Mahayana, Vajrayana, Theravadan, atau sekolah Buddha manapun yang kalian ikuti. Pada hari dan jaman ini, benar-benar menghangatkan hati untuk mengetahui bahwa ajaran Buddha masih hidup dan bermanfaat bagi semua. Ingatlah bahwa apa yang dicapai oleh praktisi ini bisa dicapai dengan mantra apapun yang kalian baca dengan tulus. Kalian bisa membaca Migtseyma dengan tulus, atau mantra Tara atau Setrap dan mencapai hasil yang sama. Semua mantra mempunyai kekuatan yang luar biasa dan [mantra] yang manapun yang diberikan oleh guru kalian atau berdasarkan jodoh atau keduanya, kita harus dengan setia melaksanakannya setiap hari tanpa kekecewaan dan stabilitas… tetapi kita harus sangat setia terhadapnya dan hasilnya akan luar biasa. Saya pikir saya akan menaruh artikel ini sebagai inspirasi untuk menunjukan bawah orang biasa bisa mendapatkan pencapaian melalui keyakinan dan mantra. Kalian juga bisa!! Ingatlah, kalian bisa mendapatkannya dengan mantra apapun.

Tsem Rinpoche

motivasi yang tulus1

Kisah Nyata Mengenai Praktisi Mantra Guru Vajra yang Berhasil di Masa Yang Baru

Diorasikan oleh Jamyang Dorje Rinpoche dari Taipei Padmakara Buddhist Society

Direkam oleh Pema Tsering pada tanggal 22 Agustus 2007 dengan rasa hormat

Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke Inggris dan diedit oleh Jigme Sherab dengan rasa hormat

Sembah sujud kepada Padmasambhava dan Pema Norbu Rinpoche

Mei 2006 – Di tanah suci Padmasambhava, Bhutan, Guru buta dengan pencapaiannya mengetahui waktu kematiannya sebelum saatnya dan duduk bersila dalam postur vajra ketika pergi ke parinirvana.

Karena sang pengarang takut secara perlahan melupakan detil dari cerita pembebasan sang Guru dengan berjalannya waktu, detilnya ditaruh di atas kertas dengan keahlian literari-nya yang terbatas. Diharapkan semua yang melihat, mendengar atau mengenal fakta dari sejarah ini akan dipenuhi dengan keyakinan yang dalam dan kesetiaan kepada Padmasambhava, dan karena itu menerima berkah dan pencapaian.

Individu dengan pencapaian ini berasal dari Bhutan. Ketika beliau masih hidup, orang-orang memanggilnya “Drubtop” yang berarti orang yang telah mencapai kesadaran. Terlebih lagi, karena faktanya beliau telah mencapai kesadaran dan kebebasan melalui pembacaan mantra Vajra Guru, beliau dipanggil “Benza Guru Drubtop,” berarti “Siddha Vajra Guru.”

Guru dengan pencapaian ini “Benza Guru Drubtop,” yang penampilan luarnya kotor dan tidak terawat tetapi di dalamnya sangat bebas, yang dulunya merupakan pengemis cacat yang tinggal di daerah kumuh di Bhutan.

Kemudian, karena bantuan Urgyen Lama dari biara Sangngak Thegchog Osel) dan Jamyang Dorje Rinpoche, Guru dengan pencapaian ini telah melalui kehidupan yang sulit (tetapi dengan equanimity) diundang ke biara di mana mereka merawat beliau sebagai persembahan terhadap ladang pahala yang tak tertandingi. Ini adalah alasan mengapa 10 tahun terakhir dalam hidupnya damai dan aman secara relatif.

“Benza Guru Druptop” tidaklah dilahirkan buta. Dikatakan kerusakan pada kemampuan visualnya adalah hasil dari kutukan mantra musuh terhadap beliau. Sebelum beliau buta, beliau hanyalah petani biasa yang menganut agama Bon. Pada saat itu, petani itu tidak mengerti mengenai kualitas Padmasambhava dan bahkan memiliki pandangan yang mencemarkan terhadap Guru Rinpoche dan menghinanya dengan kata-kata negatif.

Untuk mengembalikan penglihatannya, petani tersebut telah didatangi oleh banyak dokter yang tidak bisa membantu. Dengan tidak adanya jalan lain, beliau meminta bantuan dan nasihat teman spiritual dan guru mengenai praktek spiritual apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan penglihatannya.

Akhirnya, beliau mendengarkan nasihat beberapa guru dan memutuskan untuk mulai membaca mantra Vajra Guru (OM AH HUNG BENZA GURU PADMA SIDDHI HUNG), dengan bersandar pada hal ini sebagai praktek satu-satunya, dan akhirnya beliau mendapatkan tingkat kesadaran yang luar biasa.

Ketika “Drubtop” mulai membaca mantra Vajra Guru, keyakinannya terhadap Padmasambhava mulai masak dan bertambah. Karena kebutaannya, siang dan malam hari tidaklah terlalu berbeda baginya. Beliau mulai membaca mantra tersebut dengan rajin tanpa membedakan siang dan malam.

Ketika beliau menyelesaikan pembacaan yang ke-seratus juta, roda doa milik “Drubtop,” ketika diputar mulai meneteskan nectar. Sudah diketahui secara umum bahwa roda doa berisi gulungan kertas kering dan tidak mungkin air menetes dari udara, tetapi roda doanya memanifestasikan fenomena yang aneh ini. Hal ini mendemonstrasikan keotentikan dan hasil dari praktek “Benza Guru Drubtop” dan juga menunjukan betapa luar biasanya berkat Padmasambhava. Setelah itu, beliau tidak melambat, tetapi terus lanjut membaca mantra dengan rajin dan berdoa kepada Guru Rinpoche dengan keyakinan yang besar.

Ketika “Benza Guru Drubtop” telah menyelesaikan mantranya sebanyak 300 juta kali, dalam kondisi bermimpi, beliau secara pribadi bertemu dengan Guru yang Terlahir dari Teratai dan menerima ramalan, dan karena itu memperoleh tingkat kesadaran yang tak terbayangkan.

Padmasambhava mengatakan kepada “Benza Guru Drubtop”, “Bila kau hidup selama 7 tahun lagi, penglihatanmu akan sembuh. Sebab dari hilangnya penglihatanmu adalah kau sebelumnya percaya pada agama Bon dan terutama, kau telah menghina (makhluk yang luar biasa), menyebabkan fenomena yang saling berkaitan dan membingungkan untuk muncul. Sekarang walaupun kau sudah melihatku, karena karma burukmu, kau tidak bisa mendapatkan penglihatanmu kembali dengan segera.”

Karena itu, “Benza Guru Drubtop” tidak bisa mendapatkan penglihatannya kembali walaupun beliau telah melihat Guru Rinpoche.

Dalam kondisi yang misterius, Guru Rinpoche juga meminta “Benza Guru Drubtop” untuk membuat topi dharma sebagai tanda keberuntungan yang saling berkaitan, yang dibuat sendiri oleh “Benza Guru Drubtop” dari perunggu tanpa pertolongan siapapun.

motivasi yang tulus2

Terlepas dari kesadarannya dalam diri dan kemampuannya untuk meramal melalui berkat Guru Rinpoche, karena penglihatannya yang cacat tidak ada yang ingin merawat “Benza Guru Drubtop” dengan layak. Karenanya beliau merantau di daerah “Chim” di Bhutan. Orang setempat memanggil beliau “Benza Guru Drubtop.”

“Benza Guru Drubtop” mengetahui metode rahasia untuk membalikan kesulitan yang telah ditransmisikan secara pribadi oleh Guru yang Terlahir dari Teratai. [Metode] ini bisa menghilangkan penyakit parah atau bencana yang akan segera dialami seseorang. Metode ini spesial tetapi tidak elegan. Hal ini mensyaratkan “Benza Guru Drubtop” untuk membuat torma khusus dan membaca ritual pendek, secara spesifik hanya diketahui olehnya, dan beliau harus menanggalkan pakaiannya dan dalam keadaan telanjang membawa torma tersebut ke persimpangan tiga arah. Metode ini cukup efektif, semua orang kepada siapa “Drubtop” melakukan ritual ini sembuh tanpa kecuali.

Selain itu, setiap kali seseorang meminta pertolongan “Benza Guru Drubtop,” cara divinasinya juga berbeda dari orang lain. Beliau tidak memerlukan divinasi apparatus, memerlukan orang tersebut untuk menceritakan banyak hal, tetapi beliau dapat mengetahui maksud orang tersebut dan bisa menceritakan detil dari tempat tinggal orang tersebut, lingkungan sekitarnya dan detil lainnya. Ini bukti dari “Benza Guru Drubtop” telah mencapai penglihatan yang dapat mengetahui pikiran orang lain karena berkat dari Guru Rinpoche. Beliau juga diakui sebagai “Drubtop” karena hal ini.

Kesadaran “Benza Guru Drubtop” yang rahasia tidak menyebabkan beliau berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Tetapi mengganggap kemiskinan dan penderitaan bukan merupakan kesulitan yang menghalanginya.

Apa yang tidak berubah adalah beliau terus membaca mantra Guru Rinpoche siang dan malam dengan hormat dan ketika beliau pergi ke parinirvana, seorang yang konservatif memperkirakan bahwa beliau sudah membaca lebih dari 600 juta mantra dalam hidupnya.

Tidak seperti yang lainnya, beliau tidak tertarik untuk mempromosikan usahanya yang rajin atau tanggapannya yang ajaib, tetapi “Benza Guru Drubtop” memberikan manfaat bagi makhluk hidup secara spontan dan tanpa persiapan. Karena itu, kebanyakan orang yang mengenal beliau tidak tahu mengenai kesadarannya yang luar biasa.

Kebanyakan orang menganggap penampilan luarnya dan ritual untuk menghalau kesulitan yang terkadang dilakukannya adalah tanda bahwa beliau hanyalah praktisi dengan beberapa pencapaian. Kebanyakan tindakan dan tanggapan beliau yang rahasia, hanya diberitahukan kepada Urgyen Lama dan beberapa teman dekat yang memiliki keyakinan.

Walaupun beliau adalah seorang siddha, beliau tidak mengubah pakaian dan penampilannya, tetapi tetap terlihat seperti pengemis, membiarkan orang lain memberikan persembahan dan pakaian. Walaupun beliau diundang untuk tinggal di biara Sangngak Thegchog Osel Ling, dan dapat memilih untuk memiliki kondisi dan tempat tinggal yang lebih baik, beliau memilih untuk tinggal di sudut biara yang sederhana dan tidur dengan seprai lamanya dan menggunakan selimut yang sudah kekuningan dan berlubang.

“Benza Guru Drubtop” hanya akan menerima baju dan makanan orang lain. Bila beberapa orang mempersembahkan uang dan koin, beliau akan membaca mantra dan meniupnya sebagai berkah, sebelum mengembalikannya kepada orang yang memberikan, dan mengatakan padanya untuk tidak menggunakan uang tersebut tetapi menyimpannya dekat tubuhnya sebagai benda yang diberkahi untuk perlindungan. Ketika seseorang mempersembahkan khata, hal yang sama terjadi. Hal ini menunjukan bahwa “Benza Guru Drubtop” telah melihat kekayaan sebagai bukan apa-apa, dan tidak mempunyai keinginan atau harapan untuk memilikinya.

Pengarang pernah meminta salah seorang abot dari biara, Jamyang Dorje Rinpoche, untuk mempersembahkan uang, tetapi kemudian ditertawakan oleh Rinpoche yang berkata, “Benza Guru Drubtop” tidak menginginkan uang, bagaimana cara membuat persembahan untuk beliau? Bila kau ingin memberikan beliau pakaian atau benda yang lain, beliau mungkin tidak menerimanya atau hanya memberkatinya dan mengembalikannya padamu. Bila kau mempersembahkan makanan, beliau sekarang mendapatkan makanan dari biara, jadi beliau mungkin tidak menikmati apa yang kau persembahkan. Selain makanannya, beliau tidak menerima makanan lain. Mendengar hal ini, pengarang merasa bahwa guru Siddha ini tidak membutuhkan atau menginginkan apa-apa dan patut dihormati.

Tujuh hari sebelum beliau mendemonstrasikan tidak permanen, “Benza Guru Drubtop” memberitahukan hal ini kepada abot Urgyen Lama, “Saya akan meninggalkan dunia ini untuk pergi dan bertemu dengan Padmasambhava.” Pada saat itu, sang abot merasa bahwa Drubtop masih sehat dan berpikir bahwa beliau hanya bercanda. Beliau tidak terlalu memperhatikan perkataannya. “Benza Guru Drubtop” lalu dengan percaya diri memberi tahu beberapa teman biksunya bahwa “Urgyen Lama tidak mempunyai kebebasan atas kelahiran dan kematian, tetapi saya memilikinya. Beliau tidak mengerti arti [perkataan saya] karena saya telah menyadari dharmakaya, tidak ada kematian yang harus dibicarakan untuk saya!” Tidak bersekolah dan tidak mempelajari ajaran dharma, sutra, dan komentarnya, tetapi, “Benza Guru Drubtop” dapat mengeluarkan pernyataan seperti ini yang menunjukan ekspresi dari kesadaran Dzogpa Chenpo.

motivasi yang tulus3

Dengan tidak adanya hal yang spesial terjadi, selain dari beberapa teman biksu yang mengetahui mengenai hal ini dan merasa khawatir bahwa “Benza Guru Drubtop” akan memanifestasikan kematian, orang lain tidak merasa bahwa Drubtop dapat meramalkan waktu kematiannya sendiri, dan dapat meninggalkan dunia ini dengan mudah dan bebas. Tujuh hari kemudian, dalam cahaya pagi yang lembut, “Benza Guru Drubtop” duduk bersila dalam postur vajra dan pergi ke dharmadhatu. Pada saat itu, getaran lembut di bumi dapat dirasakan.

Setelah parinirvana, biara yang biasanya sepi dikunjungi oleh lebih dari 3000 orang mencoba untuk memberikan rasa hormatnya. Setelah beliau meninggal, setiap pagi, ada tiga burung terbang mengelilingi tubuhnya sebelum terbang pergi. Mereka dianggap sebagai dakini yang memberikan hormat.

“Benza Guru Drubtop” meninggal tepat 7 tahun setelah beliau menerima visi dari Padmasambhava, karena itu memenuhi ramalan bahwa beliau akan “mendapatkan penglihatannya.” Karena sekarang, tidak ada yang menghalangi beliau untuk pergi ke Tanah Suci Sangdok Palri untuk bertemu dengan Guru Rinpoche.

Pengarang berharap bahwa cerita luar biasa mengenai Guru Rinpoche Siddha akan memberi semangat kepada semua makhluk hidup untuk mempunyai keyakinan terhadap Guru Rinpoche, dan akhirnya mencapai kondisi yang sama dengan beliau.

(Colophon: Karena penerjemah Inggris juga terinspirasi oleh cerita ini mengenai Vajra Guru Siddha, dia memutuskan untuk menerjemahkannya dalam bahasa Inggris sehingga bisa diakses oleh lebih banyak orang. Adalah permintaannya yang tulus bahwa bila ada orang yang membaca cerita ini dan merasa bahwa hal ini memberikan manfaat bagi mereka, agar disebarkan kepada orang lain dan membaca mantra Vajra Guru 100,000 kali untuk memberi manfaat bagi makhluk lain. Dengan terjemahan ini, semoga lebih banyak orang yang mengetahui manfaat dari membaca mantra Vajra Guru, melakukan prakteknya dan mendapatkan kesadaran).

Source:
http://bodhiactivity.wordpress.com/2009/09/18/hello-world/

Link to the original blog:
http://blog.tsemtulku.com/tsem-tulku-rinpoche/inspiration-worthy-words/a-true-account-of-an-accomplished-practitioner-of-the-vajra-guru-mantra-in-recent-times.html

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada.Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukanhaltersebutdenganresikopribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di – download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar – mengajar.Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi atau Phng Li Kim dari Kechara Media and Publication.

879 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Mengapa Kita Tidak Boleh Mengatakan Hal Yang Buruk Tentang Tempat Beribadah Lain

mengapa kita tidak boleh mengatakan hal yang buruk tentang tempat beribadah lain 1

Untuk membuat Dharma yang suci bertumbuh, kita memerlukan komunikasi, dukungan, dan keharmonisan antara tempat beribadah (di negara kita masing-masing). Sebagai contoh, bila satu tempat beribadah mengadakan makan malam, berjualan barang bekas, atau acara, perwakilan dari tempat beribadah lain harus mempersembahkan donasi, ucapan selamat, dan dukungan emosional. Ketika tempat beribadah lain berjalan dengan baik, kita harus turut bergembira. Karena kita berasal dari keluarga yang sama. Dan bila anggota lain atau tempat beribadah lain turut berkontribusi terhadap pertumbuhan tempat beribadah kita, kita harus menyebutkan, bergembira dan menginformasikan hal ini kepada anggota-anggota kita di masa kini dan masa yang akan datang sehingga menciptakan dukungan antar tempat beribadah di masa depan. Tidaklah perlu untuk menghadiri upacara di tempat lain ketika guru mereka datang karena kita memiliki guru, komitmen, dan praktek kita sendiri. Tetapi kita TIDAK BOLEH mengkritik, merujuk, membuat gossip, atau memfitnah guru, praktek, aliran, dan aktivitas dari tempat beribadah lain. Diceritakan dalam Lam Rim yang suci dikomposisikan oleh Raja Dharma Manjunatha Tsongkhapa bahwa bila kita mengkritik segala bentuk Dharma, karma negatif yang dikumpulkan sama dengan membunuh 1,000 Buddha. Pikirkanlah, dengan hanya membunuh seekor serangga, yang kita sebagai penganut agama Buddha berusaha untuk tidak melakukannya, bayangkanlah membunuh seorang Buddha. Tentu saja membunuh Buddha tidaklah mungkin tetapi merupakan contoh hipotetis dari akibat perbuatan seperti ini.

Bila kita menciptakan omongan yang memecah belah, dan kita berhasil dalam mencegah seseorang dari pergi ke guru mereka, atau menciptakan keraguan dalam pikiran mereka mengenai guru mereka, menghentikan mereka untuk pergi ke suatu tempat beribadah, atau menyebabkan mereka untuk meninggalkan guru dan latihan mereka… bagaimana mungkin kita mendapatkan keberhasilan???? Karma negatifnya sangatlah kuat dan berlipat ganda setiap harinya. Bila kita adalah sebab dari seseorang untuk kehilangan keyakinan terhadap guru dan latihan mereka, bagaimana mungkin keyakinan kita bertambah (sebab dari keberhasilan dalam tantra), menjadi stabil terhadap guru kita sendiri? Bagaimana mungkin kita mencelakakan keyakinan orang lain dan berharap keyakinan kita tetap stabil? Mereka yang bergosip dan terus mengkritik bisa menjadi tidak stabil dalam pikirannya dan selalu mengubah pikiran mereka untuk tidak mencapai apa-apa. Bila samaya kita (komitmen dan keyakinan) tidak stabil pada guru kita lalu bagaimana caranya pengertian, keberhasilan, dan pertumbuhan spiritual bermanifestasi dalam pikiran kita??? Kita harus berpikir mengenai hal ini dengan hati-hati.

Mereka yang berbicara buruk mengenai guru kita/ orang lain, praktek, dan aliran, biarpun mereka adalah Biksu “tinggi”, lama, atau murid biasa, kita harus mengenali mereka dan biarkan masuk dari telinga yang satu keluar dari telinga yang lain. Dengan rasa kasih sayang pada orang tersebut, janganlah terlibat atau bertanya lebih jauh dan senyum dan tinggalkanlah. Bila orang lain berkomentar bahwa ada yang salah dengan guru kita dan praktek yang kita lakukan dimana samaya kita sudah dikomitmenkan, lalu apa yang bisa menghentikan orang lain untuk berkata mereka juga bisa salah walaupun mereka adalah biksu berkedudukan tinggi atau hanya murid biasa. Kapan hal ini akan berhenti?? Pilihannya adalah semua guru dihormati dan ikatan antara mereka dan muridnya dibuat sakral atau kita adalah Buddha hidup yang maha tahu sehingga bisa mengkritik, menghakimi, dan berbicara buruk dan memeriksa siapa yang “asli” dan tidak “asli.”

Apakah Buddha yang sempurna akan melakukan hal tersebut? Siapa yang menganut agama Buddha dengan tulus bisa memproklamasikan bahwa mereka adalah Buddha hidup dan mengutuk yang lain? Orang yang merupakan contoh luar biasa dari tidak mementingkan diri sendiri seperti Bunda Teresa memproklamasikan dirinya sebagai biarawati biasa atau pensil di tangan Tuhan. H.H. Dalai Lama ke-14 selalu mengatakan bahwa dirinya adalah biksu Buddha biasa walaupun lebih dari 14 juta penganut agama Buddha dari tradisi Tibet meyakini beliau sebagai Avalokitesvara. Panchen Lama yang bekerja untuk makhluk lain tanpa kenal lelah tidak pernah memanggil dirinya Amitabah walaupun banyak yang meyakini beliau sebagai [amitabah].

Jadi sekali kita bisa mengkritik praktek, guru, tradisi, dewa, tempat beribadah, kuil, gereja, murid, dll. Maka kita membuka diri kita terhadap kritik dan skism, karena pada akhirnya, siapa yang benar dan siapa yang salah?? Biarkan orang lain hidup dengan damai. Ketika kita mengkritik tradisi/ praktek/ guru lain, hal ini menunjukan bahwa kita merasa tidak aman mengenai apa yang kita lakukan sehingga kita memerlukan lebih banyak orang melakukan apa yang kita pikir ‘benar.’ Atau memberikan kita rasa aman mungkin? Hanya belajar, membaca, mempraktekan, memegang sumpah dan menghadiri sesi ajaran Dharma untuk mendapatkan pengetahuan yang akan memberikan kita rasa aman dalam praktek yang kita lakukan berdasarkan logika yang masuk akal. Orang seperti ini tidak pernah mengkritik orang lain tetapi turut bergembira, karena ketika kalian mencapai kondisi dan pengetahuan yang lebih tinggi, kalian melihat kesatuan/ kesamaan dari tujuan ini, hanya caranya berbeda dan turut bergembira atas keahlian sang Guru dalam menawarkan keragaman kepada makhluk yang berbeda. Kita tidak akan pernah ingin menyakiti makhluk lain. Karena bila ya, orang tersebut menciptakan karma untuk dipisahkan dari gurunya dan ajarannya, tidak bisa melakukan praktek dan mendapatkan hasilnya, kemarahan dan ketakutan meningkat dalam pikiran dan rasa tidak aman karena hasil dari karma yang berasal dari tindakan yang memecah belah dari pikiran dan perkataan. Orang yang sudah mengambil refuge atau menerima orang lain sebagai gurunya, kita harus mendorong mereka untuk memenuhi komitmennya.

Ketika kita menunjuk diri kita sendiri sebagai “polisi spiritual” untuk “mengambil tindakan” terhadap orang yang mengikuti Lama “yang salah” dan praktek “yang salah,” kita menciptakan suatu yang sangat berbahaya. Kita menciptakan banyak ketidak-harmonisan, keraguan dan agresi. Kita mengembangkan dan menjustifikasi rasa non-toleransi yang bertentangan dengan Dharma dari Sang Buddha. Kita harus mencari dalam diri kita dan memeriksa tingkatan dari latihan yang kita lakukan, motivasi kita. Bila motivasi kita dan praktek yang kita lakukan adalah yang terbaik dan sempurna, maka metode yang tepat sangatlah diperlukan untuk membimbing orang lain. Spiritualitas dari orang lain sangatlah halus dan harus ditangani dengan rasa peduli dan dikombinasikan dengan kasih sayang. Jangan mengkritik latihan, guru, atau tradisi mereka dengan cara apapun. Kalian harus mengawasi diri kalian sendiri. Tetaplah pada praktek yang kalian lakukan dan bertekadlah untuk mencapai pencerahan penuh untuk memberikan manfaat bagi mereka di masa depan. Pengawasan spiritual harus diberikan pada Mahakala, Setrap, Palden Lhamo, atau mungkin makhluk tercerahkan lainnya.

Bila kita memisahkan seseorang dari gurunya dan membuat mereka meninggalkan samaya antara guru-murid dan membawa mereka pada guru/ praktek kita, menurut 50 bait dari Kesetiaan pada Guru, orang tersebut dan kita tidak akan mendapatkan pencapaian. Mereka datang ke tempat kita dengan metode yang salah menciptakan keraguan kepada dan meninggalkan guru mereka. Kita mungkin dapat mempengaruhi mereka pada awalnya, tetapi ketika mereka mendapatkan pengetahuan lebih banyak di Dharma, kata-kata negatif kita akan mempunyai pengaruh yang semakin sedikit pada orang lainnya karena mereka belajar Dharma lebih banyak. Bahkan, orang tersebut bisa kehilangan kepercayaan pada diri kita dan pada kasus terburuk, mereka meninggalkan refuge mereka, buruk untuk mereka dan sangat merusak bagi diri kita. Guru, tradisi, murid dan tulisan apapun yang mengkritik guru, tradisi, dan murid lainnya, kita harus waspada karena mereka bisa merusak pertumbuhan spiritual kita. Orang yang membawa dongeng dari satu tempat beribadah ke tempat beribadah lainnya atau mengkritik guru orang lain/ tempat beribadah lain menciptakan perusakan bagi pertumbuhan Dharma Buddha. Amatilah orang-orang ini dan betapa terkadang tidak toleran-nya mereka bahkan bila motivasi mereka bagus pada awalnya. Setiap aliran agama Buddha, tradisi dan guru mempunyai hak untuk eksis, membentuk, dan memberikan manfaat bagi makhluk lain. Kami tidak memerlukan kounsil, kelompok, atau penguasa untuk mengawasi mereka. Lagi pula siapa yang akan mendengarkan di jaman sekarang? Hal ini hanya menciptakan hal negatif. Bila kelompok seperti ini ada, mereka harus terdiri dari murid-murid yang paling terpelajar, anggota yang sangat terlatih, dan ketiga pintu mereka telah dijinakan, tidak bias dan tidak berbasis denominasi. Bila tidak, kelompok ini bisa menyebabkan perusakan pada pertumbuhan Dharma Buddha dan masyarakat secara individu, bahkan bila kelompok ini mempunyai maksud yang baik. Bila suatu tempat beribadah melanggar hukum, maka hukum akan mengatasi mereka. Kalian tidak memerlukan hukum spiritual, tetapi hanya perlu mengembangkan kualitas Buddha yang benar di waktu kalian yang pendek. Kalian bisa memberi manfaat lebih bila kalian memiliki pencapaian tinggi, dari pada hanya berproskatinasi mengenai praktek yang kalian lakukan dan mengawasi orang lain dengan kemampuan yang terbatas. Mengawasi orang lain secara spiritual akan merusak bagi praktek yang kita lakukan karena hal ini mengmbil waktu yang seharusnya bisa kalian gunakan untuk mengembangkan diri kalian.

Ketika kita telah mencapai sesuatu, pada saat itulah kita akan mempunyai pengaruh lebih pada makhluk lain. Bila kalian melihat “kesalahan,” hal ini harus memotivasi kalian untuk berlatih, bertransformasi, dan lebih cepat mendapatkan hasil. Setiap hal bisa memotivasi kalian. Gunakanlah dengan cara yang benar. Untuk mengawasi orang lain secara spiritual pada jaman ini bukanlah cara yang bijaksana untuk menghabiskan waktu karena kita dapat menggunakan waktu ini untuk berlatih dan menjadi Buddha. Sebagai Buddha akan memberi manfaat sangat sangat sangat lebih dan mengubah kesalahan menjadi kebenaran

mengapa kita tidak boleh mengatakan hal yang buruk tentang tempat beribadah lain 2

Dari sisi praktis, sulit bagi satu guru, satu tempat beribadah dan satu aliran untuk mengakomodasi setiap orang dengan temperamen masing-masing. Jadi bila kalian mempunyai sepuluh tempat beribadah contohnya, dalam satu kota, akan lebih besar kemungkinannya bagi lebih banyak orang untuk mengenal Dharma di kota tersebut daripada hanya memiliki satu tempat beribadah. Saya sering mendapatkan murid dari tempat lain berkonsultasi dengan saya, meminta divinasi, nasihat, menklarifikasi ajaran Dharma, atau hanya untuk bertemu dengan saya. Tetapi saya selalu mendorong mereka ke arah guru, praktek, dan tempat beribadah mereka dan untuk tidak bergabung dengan tempat saya kecuali hal ini merupakan pertemuan umum atas kemauan mereka sendiri. Guru mereka lebih dari baik dan apa yang saya miliki belum tentu cocok untuk mereka dan hal ini tidak masalah. Bukannya saya tidak menerima mereka, tetapi saya ingin menciptakan stabilitas dan konsistensi dalam praktek yang mereka lakukan dan pikiran mereka. Tetapi saya selalu bertanya, apa yang kita inginkan dari orang tersebut? Apakah kita ingin mereka mendapatkan pencapaian, pengetahuan, kesadaran sehingga hidup mereka bisa bahagia dan mereka bisa bertransformasi untuk memberikan manfaat bagi orang lain? Atau hanya meningkatkan keanggotaan dari tempat kita untuk mendapatkan keuntungan finansial, laba atau hanya untuk terlihat baik? Bila motivasi kita adalah yang sebelumnya, maka kita harus mendorong mereka kepada komitmen mereka yang sebelumnya. Karena begitu mereka mendapatkan pengetahuan dan kesadaran yang menyebabkan transformasi pada orang tersebut, tidak masalah lagi mereka berasal dari tradisi yang mana, mereka memberikan manfaat bagi orang lain. Bukankah itu adalah maksud sang Buddha? Bila ya, itu juga harus menjadi maksud kita. Kita ingin menciptakan Buddha apapun caranya untuk mencapai tujuan yang sakral ini.

Karena itu, keharmonisan antar tempat beribadah sangatlah penting bagi pertumbuhan Dharma Buddha di masa sekarang. Bila kita tidak ingin menolong tempat lain, hal ini tidak apa, tetapi jangan mencelakakan tempat lain dengan cara apapun. Ingatlah, karma adalah untuk setiap orang. Kita harus mempertimbangkan bila kita mengharapkan Dharma suci untuk berkembang sehingga bisa menjadi manfaat yang besar dan berkontribusi untuk memberikan rasa damai di dalam yang memberikan rasa damai di luar. Bila seperti itu, pikiran saya di sini sangat relevan dimanapun kita tinggal di dunia ini. Karena agama Buddha adalah salah satu agama di dunia yang dikenal dan hanya akan berkembang. Di negara dimana agama Buddha belum berakar secara secara tradisi, ia membuat dirinya eksis melalui suatu tempat beribadah, yang berubah menjadi wihara dan akhirnya menjadi suatu institusi untuk mempelajari hal-hal luar biasa. Dimanapun agama Buddha berkembang, ia akan menambah kedamaian dan keharmonisan pada kota atau negara tersebut karena penekanannya untuk tidak menyakiti, tidak membunuh dan agenda kedamaian dalam interaksi sosial manusia yang kooperatif. Ia juga menekankan interaksi yang damai dan keharmonisan antar agama. Jadi, hal ini akan sangat penting bagi ribuan tempat Dharma di seluruh dunia untuk bertumbuh, berkembang dan memenuhi fungsi mereka sebagai kontributor terhadap kedamaian dalam diri dan akhirnya kedamaian dunia. Pikiran ini terkandung dalam harapan saya mengenai keharmonisan antara berbagai tradisi agama Buddha, dan juga keharmonisan antar-agama.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyakiti orang lain atau merujuk pada orang atau kelompok tertentu, dan juga bukan untuk menyalahkan, hal ini hanya dalam pikiran saya mengenai keharmonisan antar tempat beribadah. Saya bisa benar atau salah, tetapi ini adalah pikiran saya. Di jaman ini, toleransi, kasih sayang, dan saling memaafkan sangat diperlukan terutama dari mereka yang spiritual. Kualitas ini tidaklah unik bagi agama, tetapi harus merupakan keunikan dari penganut agama.

Tsem Rinpoche

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada.Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukanhaltersebutdenganresikopribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di – download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar – mengajar.Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi atau Phng Li Kim dari Kechara Media and Publication.

658 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Kyabje Zong Rinpoche: Birth , Death & Bardo

Artikel ini dikirimkan oleh seorang sahabat Dharma. Ketika saya membacanya, saya pikir ini SANGAT BERHARGA. Ajaran apapun yang diberikan oleh His Holiness Kyabje Zong Rinpoche akan menjadi tidak ternilai. Saya memutuskan untuk membuatnya tersedia di sini untuk berbagi dengan semua orang. Sehingga semua orang bisa mendapatkan manfaatnya.

Seseorang seperti Kyabje Zong Rinpoche tidak memerlukan banyak perkenalan. Perkataan, pikiran dan tubuhnya adalah satu dengan Heruka Cakrasamvara sejak lama. Semoga kalian terberkati oleh perkataan dan rupa Kyabje Zong Rinpoche di sini. Semoga kalian mencapai ke-buddha-an seperti yang telah dicapai Kyabje Zong Rinpoche.

Salam peduli dan Dharma untuk kalian.

Tsem Rinpoche Continue reading…

1,284 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 1

Konsentrasi adalah hal yang penting dalam melaksanakan Dharma dan di kehidupan biasa. Kata Tibet untuk konsentrasi adalah zhi-nay (zhi-gNas). Zhi berarti damai dan nay berarti untuk tinggal; zhi-nay adalah tinggal dalam damai atau berada dalam kondisi tanpa kesibukan.

Bila kita tidak memperhatikan pikiran dengan hati-hati, sepertinya ia damai. Akan tetapi, ketika kita benar-benar melihat ke dalam, kita melihat bahwa hal ini tidaklah benar. Pikiran tidak beristirahat pada obyek yang sama bahkan untuk waktu satu detik. Ia menggelepar seperti bendera yang berkibar di udara. Baru sebentar pikiran bersandar pada satu obyek, ia terbawa lagi pada hal lainnya. Bahkan bila kita hidup dalam gua di gunung yang tinggi, pikiran bergerak secara terus menerus. Ketika kita berada di puncak gedung kota yang tinggi, kita bisa melihat ke bawah dan melihat betapa sibuknya kota ini, tetapi ketika kita berjalan di jalanan, kita hanya melihat sebagian dari kesibukan itu. Seperti itu juga, bila kita tidak menginvestigasi dengan benar, kita tidak akan sadar sebenarnya betapa sibuknya pikiran. Continue reading…

914 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Keluarga Bahagia Untuk Kalacakra

Keluarga Bahagia Untuk Kalacakra 1

Howell, New Jersey, USA (rute 9)

Keluarga Bahagia Untuk Kalacakra 2

Ini adalah restoran Cina “Happy Family” tempatku bekerja di Howell di rute 9. Foto restoran ini diambil oleh seseorang yang kemudian berganti menjadi Sesame Inn (penginapan) dan kemudian dihancurkan pada tahun 2002. Continue reading…

617 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Kandang Sapi itu Adalah Rumahku Di Gaden

Kandang Sapi itu Adalah Rumahku Di Gaden

Ketika aku tiba di Gaden aku langsung menuju Zong Ladrang (rumah). Ladrang adalah kata Tibetan untuk rumah Lama.

Aku meninggalkan USA untuk terakhir kalinya pada Oktober 1987. Ditahbiskan oleh HH Dalai Lama pada Desember 1987. Lalu pergi ke Nepal dan tiba di Gaden, India selatan pada Januari 1988.

Kyabje Zong Rinpoche menginstruksikan aku untuk tinggal di Ladrangnya pada pertemuan terakhirku dengannya sebelum ia wafat. Aku mengikuti instruksinya. Zong Ladrang dijalankan oleh manager Zong Rinpoche. Zong Rinpoche wafat dan kami tidak sabar menunggu inkarnasi selanjutnya. Continue reading…

1,134 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Engkau Belum Melihat Yang Terakhir Dariku

Engkau Belum Melihat Yang Terakhir Dariku 1

Diriku saat berusia 17 tahun di Los Angeles, California

Aku menemukan lagu ini secara kebetulan. Aku kagum dengan ketahanan Chers. Dia tidak seperti bintang pop lainnya yang memudar, dia bergerak seiring waktu dan tetap seperti itu. Aku menduga itu adalah rahasia untuk bertahan pada apapun yang kau lakukan. Lakukan yang kau suka dengan antusias, tau apa yang kaulakukan, namun perbarui dirimu seiring waktu, jangan stagnan. Dunia tidak menunggumu. Kau harus mengejar, tertinggal di belakang terdengar biasa saja, tapi itu bukan sesuatu yang baik. Continue reading…

2,449 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Kakek saya pemimpin Xinjiang

Kakek saya pemimpin Xinjiang

Kakek saya Migyur Wang (dari sisi Ibu) adalah pemimpin Xianjiang. Dia adalah anggota kerajaan dan berasal dari keluarga pemimpin Mongol di kawasan tersebut. Dia merupakan keturunan langsung dari Genghis Khan. Dia meninggalkan Xianjiang ke Tibet dan dari Tibet pindah ke Taiwan. Dia menetap di Taiwan. Saya melihatnya beberapa kali di Taiwan saat aku masih sangat muda dan sebelum aku pergi ke USA. Saya tidak begitu dekat dengannya. Saya sangat dekat dengan istrinya, Ratu, Dechen Minh yang mencintai dan menyayangi saya. Saya mengingatnya dengan jelas dan merindukannya. Dia adalah tipikal nenek yang didambakan dan dicintai oleh setiap anak-anak. Dia membawa saya ke US dari Taiwan berharap saya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Continue reading…

623 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga


Jangan Menyuruhku Pergi

Jangan Menyuruhku Pergi

Foto ini adalah perjalanan pertamaku ke Malaysia pada 1992. Kyabje Lati Rinpoche memaksaku pergi dan mengajar. Aku memohon kepadanya agar tidak membuatku pergi. Aku memohon sampai berdebat dengan hormat padanya hingga dia mengatakan padaku untuk tidak berdebat dan hanya mengikuti instruksinya. Aku benar-benar tidak ingin pergi. Aku ingin melakukan pertapaan di India utara atau bergabung dengan Ibu Teresa melakukan pekerjaan sosial sebagai biksu Buddhis di Calcutta. Ketika aku berdebat dengan Lati Rinpoche, sekitar 300 biksu duduk dan mendengarkan kami saat itu di tengah-tengah rapat. Mereka semua terdiam dan tidak berani berkata-kata. Aku sungguh memohon pada Kyabje Lati Rinpoche untuk tidak mengirimku, aku sangat tertekan, namun pada akhirnya aku harus mengikuti perintah dan instruksi langsungnya. Continue reading…

609 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

In Category: Inspirasi & Kata-Kata Berharga