Motivasi Yang Tulus Membawa Pencapaian

Saya menerima artikel ini dalam surat dan [artikel ini] menarik perhatian saya. Sekarang ini sangat jarang terdengar mengenai praktisi dengan pencapaian, jadi saya berpikir untuk membagi [informasi] ini dengan kalian.

Di biara, sangatlah umum bahwa melalui motivasi yang tulus dan latihan, seseorang bisa mencapai kesadaran yang tinggi seperti yang diajarkan oleh sang Buddha dan para Guru. Hal ini sama apakah kalian berasal dari Mahayana, Vajrayana, Theravadan, atau sekolah Buddha manapun yang kalian ikuti. Pada hari dan jaman ini, benar-benar menghangatkan hati untuk mengetahui bahwa ajaran Buddha masih hidup dan bermanfaat bagi semua. Ingatlah bahwa apa yang dicapai oleh praktisi ini bisa dicapai dengan mantra apapun yang kalian baca dengan tulus. Kalian bisa membaca Migtseyma dengan tulus, atau mantra Tara atau Setrap dan mencapai hasil yang sama. Semua mantra mempunyai kekuatan yang luar biasa dan [mantra] yang manapun yang diberikan oleh guru kalian atau berdasarkan jodoh atau keduanya, kita harus dengan setia melaksanakannya setiap hari tanpa kekecewaan dan stabilitas… tetapi kita harus sangat setia terhadapnya dan hasilnya akan luar biasa. Saya pikir saya akan menaruh artikel ini sebagai inspirasi untuk menunjukan bawah orang biasa bisa mendapatkan pencapaian melalui keyakinan dan mantra. Kalian juga bisa!! Ingatlah, kalian bisa mendapatkannya dengan mantra apapun.

Tsem Rinpoche

motivasi yang tulus1

Kisah Nyata Mengenai Praktisi Mantra Guru Vajra yang Berhasil di Masa Yang Baru

Diorasikan oleh Jamyang Dorje Rinpoche dari Taipei Padmakara Buddhist Society

Direkam oleh Pema Tsering pada tanggal 22 Agustus 2007 dengan rasa hormat

Diterjemahkan dari bahasa Mandarin ke Inggris dan diedit oleh Jigme Sherab dengan rasa hormat

Sembah sujud kepada Padmasambhava dan Pema Norbu Rinpoche

Mei 2006 – Di tanah suci Padmasambhava, Bhutan, Guru buta dengan pencapaiannya mengetahui waktu kematiannya sebelum saatnya dan duduk bersila dalam postur vajra ketika pergi ke parinirvana.

Karena sang pengarang takut secara perlahan melupakan detil dari cerita pembebasan sang Guru dengan berjalannya waktu, detilnya ditaruh di atas kertas dengan keahlian literari-nya yang terbatas. Diharapkan semua yang melihat, mendengar atau mengenal fakta dari sejarah ini akan dipenuhi dengan keyakinan yang dalam dan kesetiaan kepada Padmasambhava, dan karena itu menerima berkah dan pencapaian.

Individu dengan pencapaian ini berasal dari Bhutan. Ketika beliau masih hidup, orang-orang memanggilnya “Drubtop” yang berarti orang yang telah mencapai kesadaran. Terlebih lagi, karena faktanya beliau telah mencapai kesadaran dan kebebasan melalui pembacaan mantra Vajra Guru, beliau dipanggil “Benza Guru Drubtop,” berarti “Siddha Vajra Guru.”

Guru dengan pencapaian ini “Benza Guru Drubtop,” yang penampilan luarnya kotor dan tidak terawat tetapi di dalamnya sangat bebas, yang dulunya merupakan pengemis cacat yang tinggal di daerah kumuh di Bhutan.

Kemudian, karena bantuan Urgyen Lama dari biara Sangngak Thegchog Osel) dan Jamyang Dorje Rinpoche, Guru dengan pencapaian ini telah melalui kehidupan yang sulit (tetapi dengan equanimity) diundang ke biara di mana mereka merawat beliau sebagai persembahan terhadap ladang pahala yang tak tertandingi. Ini adalah alasan mengapa 10 tahun terakhir dalam hidupnya damai dan aman secara relatif.

“Benza Guru Druptop” tidaklah dilahirkan buta. Dikatakan kerusakan pada kemampuan visualnya adalah hasil dari kutukan mantra musuh terhadap beliau. Sebelum beliau buta, beliau hanyalah petani biasa yang menganut agama Bon. Pada saat itu, petani itu tidak mengerti mengenai kualitas Padmasambhava dan bahkan memiliki pandangan yang mencemarkan terhadap Guru Rinpoche dan menghinanya dengan kata-kata negatif.

Untuk mengembalikan penglihatannya, petani tersebut telah didatangi oleh banyak dokter yang tidak bisa membantu. Dengan tidak adanya jalan lain, beliau meminta bantuan dan nasihat teman spiritual dan guru mengenai praktek spiritual apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan penglihatannya.

Akhirnya, beliau mendengarkan nasihat beberapa guru dan memutuskan untuk mulai membaca mantra Vajra Guru (OM AH HUNG BENZA GURU PADMA SIDDHI HUNG), dengan bersandar pada hal ini sebagai praktek satu-satunya, dan akhirnya beliau mendapatkan tingkat kesadaran yang luar biasa.

Ketika “Drubtop” mulai membaca mantra Vajra Guru, keyakinannya terhadap Padmasambhava mulai masak dan bertambah. Karena kebutaannya, siang dan malam hari tidaklah terlalu berbeda baginya. Beliau mulai membaca mantra tersebut dengan rajin tanpa membedakan siang dan malam.

Ketika beliau menyelesaikan pembacaan yang ke-seratus juta, roda doa milik “Drubtop,” ketika diputar mulai meneteskan nectar. Sudah diketahui secara umum bahwa roda doa berisi gulungan kertas kering dan tidak mungkin air menetes dari udara, tetapi roda doanya memanifestasikan fenomena yang aneh ini. Hal ini mendemonstrasikan keotentikan dan hasil dari praktek “Benza Guru Drubtop” dan juga menunjukan betapa luar biasanya berkat Padmasambhava. Setelah itu, beliau tidak melambat, tetapi terus lanjut membaca mantra dengan rajin dan berdoa kepada Guru Rinpoche dengan keyakinan yang besar.

Ketika “Benza Guru Drubtop” telah menyelesaikan mantranya sebanyak 300 juta kali, dalam kondisi bermimpi, beliau secara pribadi bertemu dengan Guru yang Terlahir dari Teratai dan menerima ramalan, dan karena itu memperoleh tingkat kesadaran yang tak terbayangkan.

Padmasambhava mengatakan kepada “Benza Guru Drubtop”, “Bila kau hidup selama 7 tahun lagi, penglihatanmu akan sembuh. Sebab dari hilangnya penglihatanmu adalah kau sebelumnya percaya pada agama Bon dan terutama, kau telah menghina (makhluk yang luar biasa), menyebabkan fenomena yang saling berkaitan dan membingungkan untuk muncul. Sekarang walaupun kau sudah melihatku, karena karma burukmu, kau tidak bisa mendapatkan penglihatanmu kembali dengan segera.”

Karena itu, “Benza Guru Drubtop” tidak bisa mendapatkan penglihatannya kembali walaupun beliau telah melihat Guru Rinpoche.

Dalam kondisi yang misterius, Guru Rinpoche juga meminta “Benza Guru Drubtop” untuk membuat topi dharma sebagai tanda keberuntungan yang saling berkaitan, yang dibuat sendiri oleh “Benza Guru Drubtop” dari perunggu tanpa pertolongan siapapun.

motivasi yang tulus2

Terlepas dari kesadarannya dalam diri dan kemampuannya untuk meramal melalui berkat Guru Rinpoche, karena penglihatannya yang cacat tidak ada yang ingin merawat “Benza Guru Drubtop” dengan layak. Karenanya beliau merantau di daerah “Chim” di Bhutan. Orang setempat memanggil beliau “Benza Guru Drubtop.”

“Benza Guru Drubtop” mengetahui metode rahasia untuk membalikan kesulitan yang telah ditransmisikan secara pribadi oleh Guru yang Terlahir dari Teratai. [Metode] ini bisa menghilangkan penyakit parah atau bencana yang akan segera dialami seseorang. Metode ini spesial tetapi tidak elegan. Hal ini mensyaratkan “Benza Guru Drubtop” untuk membuat torma khusus dan membaca ritual pendek, secara spesifik hanya diketahui olehnya, dan beliau harus menanggalkan pakaiannya dan dalam keadaan telanjang membawa torma tersebut ke persimpangan tiga arah. Metode ini cukup efektif, semua orang kepada siapa “Drubtop” melakukan ritual ini sembuh tanpa kecuali.

Selain itu, setiap kali seseorang meminta pertolongan “Benza Guru Drubtop,” cara divinasinya juga berbeda dari orang lain. Beliau tidak memerlukan divinasi apparatus, memerlukan orang tersebut untuk menceritakan banyak hal, tetapi beliau dapat mengetahui maksud orang tersebut dan bisa menceritakan detil dari tempat tinggal orang tersebut, lingkungan sekitarnya dan detil lainnya. Ini bukti dari “Benza Guru Drubtop” telah mencapai penglihatan yang dapat mengetahui pikiran orang lain karena berkat dari Guru Rinpoche. Beliau juga diakui sebagai “Drubtop” karena hal ini.

Kesadaran “Benza Guru Drubtop” yang rahasia tidak menyebabkan beliau berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Tetapi mengganggap kemiskinan dan penderitaan bukan merupakan kesulitan yang menghalanginya.

Apa yang tidak berubah adalah beliau terus membaca mantra Guru Rinpoche siang dan malam dengan hormat dan ketika beliau pergi ke parinirvana, seorang yang konservatif memperkirakan bahwa beliau sudah membaca lebih dari 600 juta mantra dalam hidupnya.

Tidak seperti yang lainnya, beliau tidak tertarik untuk mempromosikan usahanya yang rajin atau tanggapannya yang ajaib, tetapi “Benza Guru Drubtop” memberikan manfaat bagi makhluk hidup secara spontan dan tanpa persiapan. Karena itu, kebanyakan orang yang mengenal beliau tidak tahu mengenai kesadarannya yang luar biasa.

Kebanyakan orang menganggap penampilan luarnya dan ritual untuk menghalau kesulitan yang terkadang dilakukannya adalah tanda bahwa beliau hanyalah praktisi dengan beberapa pencapaian. Kebanyakan tindakan dan tanggapan beliau yang rahasia, hanya diberitahukan kepada Urgyen Lama dan beberapa teman dekat yang memiliki keyakinan.

Walaupun beliau adalah seorang siddha, beliau tidak mengubah pakaian dan penampilannya, tetapi tetap terlihat seperti pengemis, membiarkan orang lain memberikan persembahan dan pakaian. Walaupun beliau diundang untuk tinggal di biara Sangngak Thegchog Osel Ling, dan dapat memilih untuk memiliki kondisi dan tempat tinggal yang lebih baik, beliau memilih untuk tinggal di sudut biara yang sederhana dan tidur dengan seprai lamanya dan menggunakan selimut yang sudah kekuningan dan berlubang.

“Benza Guru Drubtop” hanya akan menerima baju dan makanan orang lain. Bila beberapa orang mempersembahkan uang dan koin, beliau akan membaca mantra dan meniupnya sebagai berkah, sebelum mengembalikannya kepada orang yang memberikan, dan mengatakan padanya untuk tidak menggunakan uang tersebut tetapi menyimpannya dekat tubuhnya sebagai benda yang diberkahi untuk perlindungan. Ketika seseorang mempersembahkan khata, hal yang sama terjadi. Hal ini menunjukan bahwa “Benza Guru Drubtop” telah melihat kekayaan sebagai bukan apa-apa, dan tidak mempunyai keinginan atau harapan untuk memilikinya.

Pengarang pernah meminta salah seorang abot dari biara, Jamyang Dorje Rinpoche, untuk mempersembahkan uang, tetapi kemudian ditertawakan oleh Rinpoche yang berkata, “Benza Guru Drubtop” tidak menginginkan uang, bagaimana cara membuat persembahan untuk beliau? Bila kau ingin memberikan beliau pakaian atau benda yang lain, beliau mungkin tidak menerimanya atau hanya memberkatinya dan mengembalikannya padamu. Bila kau mempersembahkan makanan, beliau sekarang mendapatkan makanan dari biara, jadi beliau mungkin tidak menikmati apa yang kau persembahkan. Selain makanannya, beliau tidak menerima makanan lain. Mendengar hal ini, pengarang merasa bahwa guru Siddha ini tidak membutuhkan atau menginginkan apa-apa dan patut dihormati.

Tujuh hari sebelum beliau mendemonstrasikan tidak permanen, “Benza Guru Drubtop” memberitahukan hal ini kepada abot Urgyen Lama, “Saya akan meninggalkan dunia ini untuk pergi dan bertemu dengan Padmasambhava.” Pada saat itu, sang abot merasa bahwa Drubtop masih sehat dan berpikir bahwa beliau hanya bercanda. Beliau tidak terlalu memperhatikan perkataannya. “Benza Guru Drubtop” lalu dengan percaya diri memberi tahu beberapa teman biksunya bahwa “Urgyen Lama tidak mempunyai kebebasan atas kelahiran dan kematian, tetapi saya memilikinya. Beliau tidak mengerti arti [perkataan saya] karena saya telah menyadari dharmakaya, tidak ada kematian yang harus dibicarakan untuk saya!” Tidak bersekolah dan tidak mempelajari ajaran dharma, sutra, dan komentarnya, tetapi, “Benza Guru Drubtop” dapat mengeluarkan pernyataan seperti ini yang menunjukan ekspresi dari kesadaran Dzogpa Chenpo.

motivasi yang tulus3

Dengan tidak adanya hal yang spesial terjadi, selain dari beberapa teman biksu yang mengetahui mengenai hal ini dan merasa khawatir bahwa “Benza Guru Drubtop” akan memanifestasikan kematian, orang lain tidak merasa bahwa Drubtop dapat meramalkan waktu kematiannya sendiri, dan dapat meninggalkan dunia ini dengan mudah dan bebas. Tujuh hari kemudian, dalam cahaya pagi yang lembut, “Benza Guru Drubtop” duduk bersila dalam postur vajra dan pergi ke dharmadhatu. Pada saat itu, getaran lembut di bumi dapat dirasakan.

Setelah parinirvana, biara yang biasanya sepi dikunjungi oleh lebih dari 3000 orang mencoba untuk memberikan rasa hormatnya. Setelah beliau meninggal, setiap pagi, ada tiga burung terbang mengelilingi tubuhnya sebelum terbang pergi. Mereka dianggap sebagai dakini yang memberikan hormat.

“Benza Guru Drubtop” meninggal tepat 7 tahun setelah beliau menerima visi dari Padmasambhava, karena itu memenuhi ramalan bahwa beliau akan “mendapatkan penglihatannya.” Karena sekarang, tidak ada yang menghalangi beliau untuk pergi ke Tanah Suci Sangdok Palri untuk bertemu dengan Guru Rinpoche.

Pengarang berharap bahwa cerita luar biasa mengenai Guru Rinpoche Siddha akan memberi semangat kepada semua makhluk hidup untuk mempunyai keyakinan terhadap Guru Rinpoche, dan akhirnya mencapai kondisi yang sama dengan beliau.

(Colophon: Karena penerjemah Inggris juga terinspirasi oleh cerita ini mengenai Vajra Guru Siddha, dia memutuskan untuk menerjemahkannya dalam bahasa Inggris sehingga bisa diakses oleh lebih banyak orang. Adalah permintaannya yang tulus bahwa bila ada orang yang membaca cerita ini dan merasa bahwa hal ini memberikan manfaat bagi mereka, agar disebarkan kepada orang lain dan membaca mantra Vajra Guru 100,000 kali untuk memberi manfaat bagi makhluk lain. Dengan terjemahan ini, semoga lebih banyak orang yang mengetahui manfaat dari membaca mantra Vajra Guru, melakukan prakteknya dan mendapatkan kesadaran).

Source:
http://bodhiactivity.wordpress.com/2009/09/18/hello-world/

Link to the original blog:
http://blog.tsemtulku.com/tsem-tulku-rinpoche/inspiration-worthy-words/a-true-account-of-an-accomplished-practitioner-of-the-vajra-guru-mantra-in-recent-times.html

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada.Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukanhaltersebutdenganresikopribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di – download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar – mengajar.Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi atau Phng Li Kim dari Kechara Media and Publication.

861 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan sebuah Komentar

SANGGAHAN SEHUBUNGAN DENGAN KOMENTAR ATAU POSTING YANG BERASAL DARI PIHAK KETIGA DI BAWAH

Untuk catatan komentar atau posting yang berasal dari pihak ketiga dari bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan dari pemilik dan/atau penyelenggara situs ini, kecuali tanggapan yang secara spesifik diberikan oleh pemilik dan/ atau penyelenggara. Semua komentar atau posting atau pendapat, diskusi atau pandangan lain yang diberikan di bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan kami dan tidak boleh dianggap seperti itu. Kami memiliki hak untuk menghapus komentar/ pandangan yang menurut kami ofensif, tetapi bila karena jumlah atau keterbatasan sumber daya komentar atau pandangan tersebut tidak terdeteksi dan tidak dihapus, bukan berarti kami menyetujui komentar tersebut.

Kami berharap para pemberi komentar, posting, pendapat, pandangan, atau peserta diskusi di bawah akan bertindak secara bertanggung jawab dan tidak terlibat atau pernyataan yang bersifat fitnah atau menghasut dan menghina atau mengejek pihak dan individu manapun atau keyakinan mereka atau melanggar hukum.