Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 1

Konsentrasi adalah hal yang penting dalam melaksanakan Dharma dan di kehidupan biasa. Kata Tibet untuk konsentrasi adalah zhi-nay (zhi-gNas). Zhi berarti damai dan nay berarti untuk tinggal; zhi-nay adalah tinggal dalam damai atau berada dalam kondisi tanpa kesibukan.

Bila kita tidak memperhatikan pikiran dengan hati-hati, sepertinya ia damai. Akan tetapi, ketika kita benar-benar melihat ke dalam, kita melihat bahwa hal ini tidaklah benar. Pikiran tidak beristirahat pada obyek yang sama bahkan untuk waktu satu detik. Ia menggelepar seperti bendera yang berkibar di udara. Baru sebentar pikiran bersandar pada satu obyek, ia terbawa lagi pada hal lainnya. Bahkan bila kita hidup dalam gua di gunung yang tinggi, pikiran bergerak secara terus menerus. Ketika kita berada di puncak gedung kota yang tinggi, kita bisa melihat ke bawah dan melihat betapa sibuknya kota ini, tetapi ketika kita berjalan di jalanan, kita hanya melihat sebagian dari kesibukan itu. Seperti itu juga, bila kita tidak menginvestigasi dengan benar, kita tidak akan sadar sebenarnya betapa sibuknya pikiran.

Kesadaran yang primer sebenarnya jernih dan tidak tercemar, tetapi berkumpul di sekitar lima-puluh-satu elemen kesadaran sekunder, beberapa positif, beberapa negatif, dan beberapa netral. Dari kesadaran sekunder ini, pada makhluk biasa, yang negatif lebih kuat daripada yang positif. Kebanyakan orang tidak pernah berusaha untuk mengendalikan elemen mental sekunder ini; bila mereka melakukannya, mereka akan terkejut melihat betapa sulitnya pekerjaan ini. Karena elemen negatif sudah mendominasi pikiran selama kehidupan yang tak terhitung banyaknya, mengatasi mereka akan memerlukan usaha yang luar biasa. Akan tetapi Zhi Nay tidak akan dialami sampai mereka diatasi.

Karena itu, kesibukan pikiran dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. Hal ini berarti, usaha mental lebih diperlukan daripada usaha fisik untuk menghilangkannya. Walaupun begitu, ketika sedang berusaha keras untuk mengembangkan zhi-nay, sangatlah penting untuk menggunakan factor sekunder yang bersifat fisik. Sebagai contoh, tempat dimana kalian berlatih harus bersih, sunyi, dekat dengan alam dan menyenangkan bagi pikiran. Dan sahabat-sahabat yang berkunjung haruslah damai dan baik. Tubuh seseorang harus kuat dan bebas dari penyakit.

Latihan konsentrasi harus dalam posisi duduk dengan postur yang benar, yang merupakan tujuh hal berikut:

  1. Kaki bersila dan telapak kaki bersandar pada paha, dengan tumit menghadap keatas. Bila [posisi] ini menyebabkan rasa sakit, ia mengganggu konsentrasi. Dalam hal ini duduklah dengan kaki kiri berada di bawah paha kanan dan kaki kanan bersandar pada paha kiri.
  2. Tubuh diposisikan selurus dan setegak mungkin.
  3. Lengan ditekuk, dengan siku tidak bersandar pada tubuh atau menonjol keatas. Tangan kanan bersandar pada telapak tangan kiri, dengan ibu jari saling bersentuhan dengan ringan dan berbentuk oval.
  4. Leher lurus tertekuk sedikit dengan dagu mengarah ke dalam.
  5. Mata berfokus ke bawah dengan sudut yang sama seperti garis hidung.
  6. Mulut dan bibir santai, tidak melengkung ke bawah atau tertutup rapat.
  7. Lidah menekan langit-langit dengan ringan.

Ini adalah tujuh hal yang menunjukan posisi meditasi yang benar. Masing-masing merupakan simbol dari tingkat jalan. Juga, ada maksud praktis dari masing-masing ketujuh hal ini:

  1. Dengan kaki bersila, posisi tubuh terkunci. Seseorang dapat duduk untuk waktu yang lama dalam sekali duduk. Dengan kaki terkunci, seseorang tidak akan terjatuh.
  2. Tubuh yang lurus akan membantu semua saluran berfungsi secara maksimal untuk membawa energi yang vital ke seluruh tubuh. Pikiran mengendarai energi ini, jadi menjaga agar saluran-saluran ini bekerja dengan baik sangatlah penting untuk kesuksesan meditasi.
  3. Posisi lengan juga berkontribusi terhadap aliran energi
  4. Posisi leher membuka saluran energi ke kepala dan mencegah leher kesemutan
  5. Bila mata ditujukan pada sudut yang terlalu tinggi, pikiran mudah merasa resah, bila terlalu rendah, pikiran mudah mengantuk.
  6. Mulut dan bibir diposisikan seperti ini untuk menstabilkan napas. Bila mulut tertutup terlalu rapat, napas terganggu bila mana hidung menarik napas. Bila mulut terbuka terlalu lebar, napas menjadi terlalu kuat, meningkatkan elemen api dan tekanan darah.
  7. Menempelkan lidah pada langit-langit mencegah produksi ludah yang berlebihan dan tenggorokan menjadi kering. Dan juga serangga tidak akan bisa masuk ke mulut atau tenggorokan.

Ini adalah alasan yang jelas untuk tujuh postur meditasi. Alasan sekundernya terlalu banyak untuk dijelaskan di sini. Harus dicatat bahwa sifat dari energi beberapa orang membuat mereka tidak bisa menggunakan posisi ini. Mereka harus diberikan alternatif. Tetapi hal ini sangatlah jarang.

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 2

Walaupun duduk dalam posisi vajra menghasilkan bingkai pikiran yang baik, hal ini tidaklah cukup. Pekerjaan utama, yang dilakukan oleh pikiran, belum dimulai. Cara untuk menghilangkan pencuri yang masuk ke dalam ruangan adalah dengan masuk ke dalam rumah dan mengusirnya, bukannya duduk di luar dan meneriakinya. Bila kita duduk di puncak gunung dan pikiran kita selalu tertuju pada desa di bawah, hanya sedikit yang dihasilkan.

Konsentrasi mempunyai dua musuh: pikiran yang resah atau sibuk dan pikiran yang beku.

Pada umumnya, keresahan timbul dari keinginan. Obyek yang menarik muncul dalam pikiran dan pikiran meninggalkan obyek meditasi untuk mengikutinya.

Pikiran yang diam/ beku biasanya timbul dari rasa tidak peduli/ ditekannya emosi dan perasaan dalam pikiran.

Agar dapat mempunyai konsentrasi yang kuat, dua kesulitan ini harus dihilangkan. Seseorang membutuhkan lilin untuk melihat sebuah lukisan di dinding ruangan yang gelap. Bila ada tiupan angin, lilinnya akan bergerak terlalu cepat sehingga orang itu tidak dapat melihat dengan jelas dan bila lilinnya terlalu kecil, apinya akan terlalu lemah. Ketika api pikiran tidak terganggu oleh angin dari keresahan pikiran dan tidak dilemahkan oleh rasa tidak peduli, ia bisa berkonsentrasi dengan benar pada lukisan obyek meditasi.

Pada tahap awal praktek konsentrasi keresahan mental lebih merupakan halangan daripada pikiran tidak peduli. Pikiran terus terbang menjauh dari obyek konsentrasi. Hal ini bisa dilihat dari mencoba mengukuhkan pikiran dari ingatan pada wajah. Rupa wajah tersebuh langsung digantikan oleh hal yang lain.

Menghentikan proses ini adalah sulit, bila kita telah membangun kebiasaan untuk terlena dalam periode yang lama dan tidak membiasakan konsentrasi. Untuk mengambil kebiasaan baru dan meninggalkan yang lama selalu sulit. Akan tetapi karena konsentrasi adalah dasar dari semua bentuk meditasi yang lebih tinggi dan untuk semua aktivitas mental yang lebih tinggi, seseorang harus berusaha.

Keresahan mental dapat diatasi dengan kesadaran dan torpor dengan aplikasi yang aktif. Dalam diagram yang mewakili perkembangan zhi-nay, ada gajah. Gajah ini menggambarkan pikiran meditator. Setelah gajah tersebut dijinakan, dia tidak pernah menolak untuk mematuhi tuannya dan dia menjadi mampu untuk melakukan berbagai macam pekerjaan. Hal yang sama juga relevan untuk pikiran. Selain itu, Gajah yang tidak dijinakan sangat berbahaya, dan sering mengakibatkan kerusakan parah. Seperti itu juga, pikiran yang tidak terkendali dapat mengakibatkan penderitaan di enam alam.

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 3

Pada dasar diagram, warna yang menggambarkan perkembangan konsentrasi dari gajah seluruhnya hitam. Hal ini dikarenakan pada awal tahap perkembangan zhi-nay mental torpor menguasai pikiran.

Di depan gajah ada monyet yang merepresentasikan keresahan mental. Monyet tidak bisa diam walaupun hanya sebentar tetapi selalu sibuk dengan sesuatu, dan tertarik pada semua hal.

Monyet ini memimpin gajah. Pada tahap ini, keresahan mental mengendalikan pikiran ke semua arah.

Di belakang gajah ada meditator yang mengikuti dan mencoba mengendalikan pikiran. Di satu tangan beliau memegang tali, yang menyimbolkan pikiran yang terkonsentrasi, dan di tangan yang lain, beliau memegang kait, yang menyimbolkan kesadaran.

Pada level ini, meditator tidak mempunyai kendali atas pikirannya. Gajah mengikuti monyet tanpa memperhatikan meditator. Pada tahap kedua, meditator hampir mengejar gajah.

Pada tahap ketiga, meditator melempar tali di leher gajah. Gajah ini melihat ke belakang, menyimbolkan bahwa pada saat ini, pikiran bisa dikendalikan oleh kekuatan konsentrasi. Pada tahap ini, kancil muncul di belakang gajah. Ini adalah kancil dari mental torpor yang halus, yang sebelumnya terlalu halus untuk dikenali tetapi sekarang sangat jelas bagi meditator.

Pada tahap awal, kita harus mengaplikasikan kekuatan konsentrasi lebih dari kekuatan mental untuk memperhatikan karena keresahan harus diatasi sebelum mengatasi torpor.

Pada tahap ke-empat, sang gajah lebih menurut. Hanya terkadang dia masih harus dikendalikan oleh kekuatan konsentrasi.

Pada tahap kelima, sang monyet mengikuti di belakang gajah, yang dengan sukarela mengikuti tali dan kait sang meditator. Keresahan mental tidak lagi terlalu mengganggu pikiran.

Pada tahap ke-enam, gajah dan monyet mengikuti di belakang meditator dengan jinak. Sang meditator tidak perlu untuk melihat ke belakang ke arah mereka. Beliau tidak perlu lagi memusatkan perhatiannya untuk mengendalikan pikiran. Sang kancil sudah menghilang.

Pada tahap ke-tujuh, sang gajah ditinggalkan sendiri. Sang meditator tidak perlu lagi memberikannya tali konsentrasi atau kait perhatian. Sang monyet yang resah sudah pergi. Keresahan dan torpor tidak lagi terjadi dalam bentuk kasar, dan halus hanya terkadang.

Pada tahap ke-delapan, sang gajah sudah berubah menjadi putih secara keseluruhan. Dia mengikuti orang tersebut karena pikiran sudah patuh sepenuhnya. Akan tetapi, usaha masih diperlukan untuk mempertahankan konsentrasi.

Pada tahap ke-sembilan, sang meditator duduk dalam posisi meditasi dan sang gajah tidur di kakinya. Sekarang pikiran dapat diarahkan pada konsentrasi tanpa usaha untuk waktu yang lama, bahkan berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Ini adalah sembilan tahap dari perkembangan zhi-nay. Tahap ke-sepuluh adalah pencapaian zhi-nay yang sebenarnya yang direpresentasikan dengan sang meditator mengendari gajah dengan tenang.

Di luar ini ada tahap ke-sebelas, dimana meditator digambarkan mengendarai gajah, yang sekarang pergi ke arah lain. Sang meditator memegang pedang api yang membara. Beliau sekarang memasuki jenis meditasi yang baru yand disebut vipasyana, atau padangan yang lebih tinggi: (Tibetan: Lhag-mthong). Meditasi ini digambarkan dengan pedang yang membara yang menembus kesadaran akan Kekosongan.

Pada berbagai tahapan di diagram, ada api. Api ini menggambarkan usaha yang diperlukan untuk mendapatkan zhi-nay. Setiap kali api nampak, ia lebih kecil dari sebelumnya. Dan pada akhirnya akan menghilang. Pada setiap tahapan selanjutnya, usaha yang diperlukan untuk mempertahankan konsentrasi semakin berkurang dari sebelumnya, dan akhirnya hilang. Api kembali muncul pada tahap ke-sebelas, dimana sang meditator telah mengambil meditasi atas kekosongan.

Dan juga, diagram yang menggambarkan makanan, pakaian, alat musik, parfum dan kaca. Mereka menyimbolkan lima sumber keresahan mental, (i.e., lima obyek sensual: rasa, sentuhan, suara, bau, dan penglihatan, secara berurutan.

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 4

Beberapa orang menggunakan rupa Buddha sebagai obyek konsentrasi mereka agar dapat mengembangkan zhi-nay. Yang pertama, orang tersebut harus mengenal obyek yang akan mereka fokuskan dengan seksama. Hal ini dilakukan dengan duduk di depan patung atau lukisan obyek selama beberapa sesi dan menatapnya. Lalu mencoba untuk duduk di posisi meditasi, memegang rupa tersebut dalam pikiran tanpa bantuan patung atau lukisan. Pada awalnya, visualisasi kalian atas obyek ini tidak akan jelas atau kalian tidak bisa mempertahankannya lebih dari beberapa detik. Akan tetapi, cobalah untuk memegang rupa ini sejelas dan selama kalian bisa. Dengan mempertahankan, kalian akan dapat mempertahankan rupa ini selama satu menit, lalu dua menit, dan seterusnya. Setiap kali pikiran meninggalkan obyek, aplikasikan konsentrasi dan bawalah kembali. Sementara itu, aplikasikan perhatian untuk melihat bila gangguan yang tidak terlihat muncul.

Seperti seseorang membawa mangkuk yang penuh dengan air di jalan yang kasar harus mempertahankan sebagian perhatiannya pada air, dan sebagian lagi pada jalan. Pada praktek Zhi Nay, satu bagian dari pikiran harus mempertahankan konsentrasi yang stabil dan bagian yang lain harus mengaplikasikan perhatian untuk menghalau gangguan. Setelah itu, ketika keresahan mental sudah mereda, konsentrasi tidak harus digunakan sesering itu. Akan tetapi, pikiran yang lelah karena melawan keresahan untuk waktu yang lama sehingga torpor menyusup.

Akhirnya, suatu tahapan datang dimana sang meditator merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Sebetulnya ini adalah torpor yang sangat halus tetapi sering disalah-artikan sebagai zhi-nay yang sebenarnya. Dengan usaha, ini juga akan hilang. Pikiran menjadi lebih jernih dan segar dan lama setiap meditasi juga bertambah. Pada tahap ini, tubuh dapat didukung sepenuhnya oleh pikiran. Seseorang tidak lagi ingin makan atau minum. Sang meditator sekarang dapat bermeditasi selama berbulan-bulan tanpa henti. Akhirnya beliau akan sampai pada zhi-nay tahap sembilan, pada tahap ini, sutra menyatakan, sang meditator tidak terganggu walaupun tembok runtuh di samping beliau. Beliau terus berlatih dan merasa kebahagiaan mental dan fisik secara total dan tidak bisa dideskripsikan. Hal ini digambarkan dengan orang yang terbang. Di sini tubuhnya tidak habis dan sangat supel. Pikirannya, sangat damai, dan dapat diarahkan pada obyek meditasi apa saja, ibarat kabel tembaga yang tipis yang dapat dibelokan kemana saja tanpa patah. Tahap ke-sepuluh zhi-nay – atau zhi nay yang sebenarnya, dicapai. Ketika beliau bermeditasi, seperti pikiran dan obyek menjadi satu.

Sekarang sang meditator dapat melihat dalam-dalam sifat dari obyek meditasi ini dan mengingat semua detil dari obyek ini di pikirannya. Hal ini memberi dia kebahagiaan yang amat sangat.

Di sini, dengan melihat sifat dari obyek meditasinya berarti beliau memeriksa untuk melihat apakah obyek ini suci, apakah obyek ini permanen, apakah kebenarannya yang tertinggi, dll. Ini adalah meditasi yang dikenal dengan nama vipasyana, atau pengertian yang lebih tinggi. Melalui hal ini, pikiran mendapatkan persepsi yang lebih dalam atas obyek ini daripada yang bisa didapatkan hanya dari konsentrasi saja.

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 5

Memiliki zhi-nay memberikan kepuasan tiada tara, tetapi bila karena hal ini kalian tidak melanjutkan ke hal-hal yang lebih baik – seperti membangun pesawat dan tidak pernah menerbangkannya. Sekali konsentrasi didapatkan, pikiran harus diaplikasikan ke praktek yang lebih tinggi.

Pada satu sisi, ia harus digunakan untuk mengatasi karma dan distorsi mental, dan di sisi lain untuk memelihara kualitas sang Buddha. Agar dapat mencapai tujuan-tujuan ini, obyek dari meditasi yang digunakan haruslah kekosongan itu sendiri. Bentuk meditasi lain hanya mempersiapkan pikiran untuk mendekati kekosongan. Bila kalian mempunyai obor dengan kapasitas untuk menyinari semuanya, kalian harus menggunakannya untuk menemukan sesuatu yang penting. Obor zhi-nay harus diarahkan untuk menyadari kekosongan karena ini adalah pengalaman langsung dari kekosongan yang mencabut akar penderitaan.

Pada tahap ke-sebelas dari diagram, dua garis hitam keluar dari hati meditator. Salah satu dari garis ini mewakili klesavarana, keretanan karma dan distorsi mental. Yag lain menggambarkan jneyavarana, keretanan insting dari distorsi mental. Meditator memegang pedang kebijaksanaan dari meditasi vipasyana, yang akan digunakannya untuk memisahkan dua garis ini.

Sekali sang praktisi telah mendekati pengertian akan kekosongan, dia sudah dalam perjalanan untuk menyempurnakan kebijaksanaannya. Prajna-paramita, tujuan utama dari pengembangan konsentrasi.

Diterjemahkan oleh Gonsar Rinpoche. Disiapkan oleh Glenn Mullin dan Michael Lewis. Dicetak di From Tushita, diedit dan dipublikasikan oleh Michael Hellbach, Edisi Tushita, 1977.

Diterjemahkan oleh Gonsar Rinpoche. Disiapkan oleh Glenn Mullin dan Michael Lewis. Dicetak di From Tushita, diedit dan dipublikasikan oleh Michael Hellbach, Edisi Tushita, 1977.

(Sumber: The Perfection of Concentration by Geshe Rabten Rinpoche)

Biografi Geshe Rabten Rinpoche

Kesempurnaan Konsentrasi Oleh Geshe Rabten 6

“Sejak saya masih kecil, saya bertemu dengan biksu yang mengenakan baju saffron kembali dari universitas biara mereka di dekat Lhasa. Saya sangat mengagumi mereka. Saya juga terkadang mengunjungi biara besar di daerah kami; dan ketika saya menyaksikan para biksu berdebat, saya kembali dipenuhi oleh kekaguman. Ketika saya berusia 15 tahun, saya mulai menyadari betapa sederhana, suci dan efisien kehidupan mereka. Saya juga melihat bagaimana kehidupan di rumah saya sangat kompleks dan menuntut dengan berbagai kegiatan yang tidak ada habisnya. Agar bisa diperhitungkan sebagai biksu yang berkualifikasi di Biara Dhargye dekat rumah, seseorang harus belajar melatih pikiran mereka dengan Buddha Dharma setidaknya tiga sampai empat tahun di salah satu universitas monastik dekat Lhasa. Dengan pikiran untuk menjadi biksu di Biara Dhargye, pada usia 17 tahun, saya memutuskan untuk belajar di salah satu universitas monastik, walaupun pada saat itu, saya tidak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar Dharma.”

Diambil dari biografi Geshe Rabten, “Kehidupan seorang Biksu Tibet,” Edisi Rabten 2000

Ketika beliau berusia delapan-belas tahun, Geshe Rabten malakukan perjalanan selama tiga bulan dari tempat kelahirannya di Kham, Tibet Timur ke Lasha di Tibet Pusat dimana beliau menjadi biksu universitas monastik Sera. Dengan segera murid-murid lainnya menyadari karakter beliau yang luar biasa. Ketika belajar dan bermeditasi beliau mengalami kesulitan yang amat sangat. Karena itu, guru dan murid yang lain menjulukinya ‘Milarepa.’ Karena cara berdebatnya yang jelas dan logis, orang-orang membandingkannya dengan Dharmakirti, pemikir agama Buddha yang logis. Setelah belajar kurang lebih dua puluh tahun, beliau lulus ujian Geshe di depan biksu dari tiga biara besar. Beliau mendapatkan gelar tertinggi, “Geshe Lharampa.” Ini adalah kehormatan tertinggi, yang diberikan oleh penyelenggara ujian dan oleh His Holiness Dalai Lama.

Pada tahun 1964, Geshe Rabten dipilih menjadi asisten filosofi H.H. Dalai Lama. Pada tahun 1969, Dalai Lama mengirim murid dari Barat kepada Geshe dan lalu, karena semakin banyaknya jumlah murid dari Barat, dia meminta Geshe untuk pindah ke biara Rikon, di Switzerland untuk menjadi abbot di biara tersebut. Pada saat itu, Geshe mempunyai banyak murid di berbagai biara monastik di India dan karena gurunya Kyabje Trijang Rinpoche semakin tua, dan sang Geshe tidak tertarik pada kenyamanan dan uang dari Barat, beliau lebih ingin tinggal di India. Hanya ketika Gurunya menunjukan bahwa ajarannya akan merupakan berkah bagi orang-orang di Barat, Geshe setuju untuk pergi.

Geshe adalah Guru agama Buddha pertama yang memperkenalkan tradisi Vinaya yang lengkap dan ajaran asli agama Buddha di Barat. Karena itu, Geshe menjadi pionir dalam memperkenalkan ajaran Buddha di Barat. Banyak guru, yang terkenal di Barat hari ini, adalah murid sang Geshe: Gonsar Rinpoche, Khamlung Rinpoche, Sherpa Rinpoche, Tomthog Rinpoche, Zopa Rinpoche, Lama Yeshe, Geshe Penpa, Geshe Tenzin Genpo, Geshe Thupten Ngwang, Geshe Thubten Trinley, dll.

Seperti yang lain, Geshe Rinpoche dapat membawa inti dari pikiran sang Buddha dekat dengan pendengarnya. Tidak peduli apakah pendengarnya berasal dari Barat atau dari Timur, siapapun yang mengikuti perkataannya merasa semua ketidak-jelasan hilang dari pikiran orang tersebut. Contoh yang diberikannya menghimbau orang untuk bertingkah laku dengan tulus. Apapun yang dijelaskannya, memberikan muridnya perasaan bahwa mereka mendengarkan deskripsi dari masa lalu, masa depan, atau rahasia yang paling dalam seperti bila semua ini ada di tangan sang Geshe. Geshe mendirikan pusat pendidikan tinggi Tibet, Rabten Choeling di pinggir Danau Jenewa (sebelumnya disebut Tharpa Choeling), pusat agama Buddha Tibet di Hamburg, Tashi Rabten di Letzehof, Puntsog Rabten di Munich dan Gephel Ling di Milan.

(Sumber: http://www.rabten.at/GesheRabten_A1en.htm)

Original asli keblog:
http://blog.tsemtulku.com/tsem-tulku-rinpoche/great-lamas-masters/the-perfection-of-concentration-by-geshe-rabten-rinpoche.html

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di – download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar – mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi atau Phng Li Kim dari Kechara Media and Publication.

926 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan sebuah Komentar

SANGGAHAN SEHUBUNGAN DENGAN KOMENTAR ATAU POSTING YANG BERASAL DARI PIHAK KETIGA DI BAWAH

Untuk catatan komentar atau posting yang berasal dari pihak ketiga dari bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan dari pemilik dan/atau penyelenggara situs ini, kecuali tanggapan yang secara spesifik diberikan oleh pemilik dan/ atau penyelenggara. Semua komentar atau posting atau pendapat, diskusi atau pandangan lain yang diberikan di bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan kami dan tidak boleh dianggap seperti itu. Kami memiliki hak untuk menghapus komentar/ pandangan yang menurut kami ofensif, tetapi bila karena jumlah atau keterbatasan sumber daya komentar atau pandangan tersebut tidak terdeteksi dan tidak dihapus, bukan berarti kami menyetujui komentar tersebut.

Kami berharap para pemberi komentar, posting, pendapat, pandangan, atau peserta diskusi di bawah akan bertindak secara bertanggung jawab dan tidak terlibat atau pernyataan yang bersifat fitnah atau menghasut dan menghina atau mengejek pihak dan individu manapun atau keyakinan mereka atau melanggar hukum.