Jangan Menyuruhku Pergi

Jangan Menyuruhku Pergi

Foto ini adalah perjalanan pertamaku ke Malaysia pada 1992. Kyabje Lati Rinpoche memaksaku pergi dan mengajar. Aku memohon kepadanya agar tidak membuatku pergi. Aku memohon sampai berdebat dengan hormat padanya hingga dia mengatakan padaku untuk tidak berdebat dan hanya mengikuti instruksinya. Aku benar-benar tidak ingin pergi. Aku ingin melakukan pertapaan di India utara atau bergabung dengan Ibu Teresa melakukan pekerjaan sosial sebagai biksu Buddhis di Calcutta. Ketika aku berdebat dengan Lati Rinpoche, sekitar 300 biksu duduk dan mendengarkan kami saat itu di tengah-tengah rapat. Mereka semua terdiam dan tidak berani berkata-kata. Aku sungguh memohon pada Kyabje Lati Rinpoche untuk tidak mengirimku, aku sangat tertekan, namun pada akhirnya aku harus mengikuti perintah dan instruksi langsungnya.

Pemikiran :

Mengapa mengajar Dharma saat tidak ada siapapun yang menginginkan transformasi atau mencoba dengan tulus. Kau hanya menyinggung mereka, membuat mereka marah, dan k arena mereka tidak dapat menghadapi diri mereka sendiri, menjadi benci padamu. Mereka bahkan lari. Dewasa ini, salah satu jalan terbaik untuk membuat permusuhan, adalah dengan mengajarkan Dharma atau memberitahu mereka apa yang perlu diubah. Jadi mengajar sedikit Dharma lebih baik saat ini. Transformasi menciptakan sebab-sebab untuk Dharma yang lebih banyak. Setiap kali kau melanggar janjimu, atau menyerah atau lari dari apa yang seharusnya kau lakukan menyebabkan kemunduran ajaran. Membuat berbagai macam alasan menciptakan sebab-sebab pada ajaran Dharma semakin berkurang dan akhirnya berhenti.

Pemandangan yang paling menyedihkan bagi seorang Guru adalah melihat muridnya tidak berubah setelah bertahun-tahun pengajaran, beratus-ratus pengulangan nasehat yang sama meskipun Guru sangat peduli. Guru harus memiliki welas asih terhadap murid-muridnya tapi bukan berarti memperbolehkan mereka untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri. Murid harus bersikap baik pula kepada Guru. Itu adalah sikap timbal balik. Berdalih dan beralasan untuk kesalahan yang sama adalah muncul dari kemalasan dan egoisme. Tidak peduli telah menyusahkan yang lainnya. Itu semua menciptakan karma yang kuat bagi guru untuk pergi, wafat atau membungkam. Itu menciptakan karma bagi dirimu sendiri untuk menjadi lebih keras kepala, lebih malas dan bahkan menjadi tertutup. Ingatlah bahwa sebab menentukan hasilnya. Untuk proyek yang sukar dimulai atau banyak sekali hambatan muncul dari jenis karma seperti ini. Jika karmanya sangat kuat, bahkan jika guru ingin menolong, karmamu atau kumpulan karmamu akan menghentikannya. Kemunduran dari Buddhisme akan muncul dari praktisi yang tidak melakukan praktek. Ini akan menciptakan sebab utama hilangnya ajaran Buddha Shakyamuni. Kau mungkin berpikir akan bahagia dan bebas karena gurumu berhenti menunjukkan hal-hal kepadamu, namun kebahagiaan dan kebebasan seperti itu adalah sementara. Karma mengejarmu dan guru dengan air mata melihatmu mengalami akibat dari karmamu. Guru berhenti berbicara denganmu dan berhenti mengajar karena karmamu tidak mendukung untuk menerimanya. Itu berbahaya, jangan biarkan itu terjadi terlalu jauh, jangan pernah, tapi jika itu harus terjadi, maka itu akan terjadi.

Tidak ingin mendengar perkataan guru yang dengannya kau telah berkomitmen adalah sebuah tanda bahwa kau telah melanggar banyak janji, samaya, praktek dan kepercayaan. Karma yang muncul adalah semua nasehat baik yang diberikan untukmu tidak dapat didengar, dimengerti atau diikuti. Nasehat baik bahkan akan membuatmu marah. Begitu melihat gurumu mungkin akan membuatmu tidak bahagia. Penglihatan akan sesuatu yang menciptakan kebahagiaan atau Dharma mungkin akan membuatmu tidak nyaman atau lari. Mengapa ? Karena karma untuk menerima kebaikan, tidak cukup. Sebagai contoh, ketika seseorang yang karena mabuk ia berbohong terlalu banyak, mencurangi atau melukai banyak anggota keluarga terus menerus, karma yang sangat kuat ini akan terakumulasi dan siap meledak. Karmanya kembali dan membuatnya tidak mendengar nasehat ataupun memiliki keinginan untuk berhenti mabuk. Dia mungkin mengerti bahayanya tapi tak dapat berhenti. Lari dari orang yang tercinta yang sungguh peduli. Yang tersayang menatap penuh air mata dan ketakutan karena mereka merusak diri sendiri dengan mabuk-mabukan. Karma untuk membahayakan begitu kuat. Karma tersebut telah mengendalikan orang tersebut. Tahapan karma yang telah matang bagaikan seekor macan yang harus membunuh karena terlanjur telah dilahirkan, matang untuk membuat lebih banyak lagi karma buruk dalam tahapan ini.

Kita harus memperbaiki karma. Tak peduli seberapa buruk, samsara memiliki banyak sekali kondisi buruk yang tak bisa kau bayangkan. Karma negative memicu lebih banyak karma negatif, Itu tidak permanen, jangan membatasi diri sendiri. Jangan biarkan kemalasan dan keegoisan mengendalikanmu. Ingatlah komitmen, stabilitas dan konsisten adalah kunci untuk semuanya. Perbaikilah karena tidak ada yang dapat melukai atau menghukummu, selain perbuatanmu sendiri. Bagi sebagian orang sudah benar-benar terlambat, beberapa masih terlihat belum ada perubahan yang baik, apapun kondisinya, teruslah mencoba.

Meskipun itu berbeda untuk setiap orang dan setiap guru.

Tsem Rinpoche

 

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan 

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di – download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar – mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi atau Phng Li Kim dari Kechara Media and Publication.

624 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan sebuah Komentar

SANGGAHAN SEHUBUNGAN DENGAN KOMENTAR ATAU POSTING YANG BERASAL DARI PIHAK KETIGA DI BAWAH

Untuk catatan komentar atau posting yang berasal dari pihak ketiga dari bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan dari pemilik dan/atau penyelenggara situs ini, kecuali tanggapan yang secara spesifik diberikan oleh pemilik dan/ atau penyelenggara. Semua komentar atau posting atau pendapat, diskusi atau pandangan lain yang diberikan di bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan kami dan tidak boleh dianggap seperti itu. Kami memiliki hak untuk menghapus komentar/ pandangan yang menurut kami ofensif, tetapi bila karena jumlah atau keterbatasan sumber daya komentar atau pandangan tersebut tidak terdeteksi dan tidak dihapus, bukan berarti kami menyetujui komentar tersebut.

Kami berharap para pemberi komentar, posting, pendapat, pandangan, atau peserta diskusi di bawah akan bertindak secara bertanggung jawab dan tidak terlibat atau pernyataan yang bersifat fitnah atau menghasut dan menghina atau mengejek pihak dan individu manapun atau keyakinan mereka atau melanggar hukum.