Je Tsongkhapa “Tiga Aspek Utama dari Jalan”

Oleh Yang Mulia Dalai Lama

Diterjemahkan oleh Lobsang Jordhen & diedit oleh Jeremy Russell

Yang Mulia memberikan ajaran ini atas permintaan sekelompok murid dari Prancis di wihara utama di Thekchen Choling pada musim gugur 1989.

Hari ini saya akan menjelaskan Tiga Aspek Utama dari Jalan. Seperti biasa, sebelum memulai ajaran, kita akan memulai tiga praktek untuk membersihkan kontinum mental kita dan kemudian kita akan meresitasi Sutra Hati. Sekarang persembahkan mandala.

Apapun ajaran yang diberikan kepada pendengar dan guru harus memiliki motivasi yang murni.Khususnya ketika kalian mendengarkan ajaran Mahayana, kalian pertama-tama harus mengambil refuge kepada Buddha, Dharma, dan Sangha untuk melindungi dirimu dari mengikuti jalan yang salah, dan kedua kalian harus menggenerasikan pikiran altruisme pencerahan untuk membedakan dirimu dari pengikut jalan yang lebih rendah.

Karena itu, kita harus memvisualisasikan dua poin: Pertama-tama, mengambil refuge pada Buddha, Dharma dan Sangha untuk memberi manfaat bagi semua makhluk hidup, kemudian menggenerasikan aspirasi altruisme menuju pencerahan bagi lembah semua makhluk hidup. Jadi dengan motivasi ini, kita harus meresitasi bait untuk mengambil refuge pada Buddha, Dharma dan Sangha tiga kali, dengan jelas memvisualisasikan bahwa kita melakukannya demi memberi manfaat bagi semua makhluk hidup.

Setelah Buddha yang tak tertandingi mendapatkan pencerahan di Bodh Gaya, dia mengajar Empat Kebenaran Mulia: Penderitaan sebenarnya, penghentian sebenarnya dan jalan yang benar. Hal ini menjadi dasar atau fondasi bagi semua ajaran yang diberikannya kemudian.

Walaupun Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia pada saat pemutaran roda doktrin, arti dari penghentian sebenarnya secara eksplisit diajarkan pada pemutaran roda doktrin yang kedua. Pada saat itu dia mengajar arti dari kekosongan secara langsung, dan secara implisit mengajar tahapan jalan.

Dengan kata lain, sementara mengajar kekosongan secara langsung, dia mengajar arti dari dua kebenaran, konvensional dan terakhir, dan makna lengkap dari nirvana dan penghentian.

Pada saat pemutaran roda doktrin yang ketiga, sang Buddha mengajar makna dari sifat sang Buddha dalam Sutra Esensi Tathagata, yang membentuk basis dari Sains Agung Maitreya, (Uttaratantra). Dia menjelaskan bahwa makhluk hidup memiliki sifat Buddha atau kemampuan untuk menjadi tercerahkan hanya dari sifat pikiran, yang kosong dari keberadaan inheren dan karena itu cocok untuk ditransformasikan menjadi pencerahan.

Telah dijelaskan dalam Sains Agung bahwa pikiran pada sifatnya adalah sangat murni dan bebas dari pencemaran yang membuatnya cocok untuk mendapatkan pencerahan. Hal ini karena apapun yang tidak memiliki keberadaan inheren dapat dirubah, dan tergantung pada sebab dan kondisi. Seperti yang dikatakan Nagarjuna dalam teks yang berjudul Kebijaksanaan Fundamental,

Untuk sistem apapun kekosongan adalah mungkin
Untuk apapun yang mungkin.
Untuk (sistem) apapun kekosongan tidak mungkin
Untuk ini, tidak ada yang tidak mungkin.

Makna dari kekosongan adalah kosong dari keberadaan inheren dan ini berarti tergantung pada yang lain, tergantung pada sebab dan fenomena lain, yang berarti ketika perubahan fenomena ini, hal tertentu ini juga akan berubah. Bila ia tidak tergantung pada sesuatu yang lain dan memiliki keberadaan inheren, maka hal ini tidak akan berubah karena kondisi yang lain.

Jadi pada saat pemutaran roda doktrin yang kedua, mengajar bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, Sang Buddha mengajar dengan jelas bahwa fenomena dapat dibuat berubah karena mereka tergantung pada sebab dan kondisi. Sekarang walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, ketika mereka nampak pada kita, kita berpikir bahwa mereka ada secara inheren. Tidak hanya fenomena nampak seperti bila mereka ada secara inheren, tetapi kita juga terikat pada mereka dan bertekad bahwa mereka ada secara inheren.

Dengan cara ini kita menggenerasikan keinginan, kemarahan, dan seterusnya. Ketika kita bertemu dengan beberapa obyek yang menyenangkan atau menarik, kita menggenerasikan banyak keterikatan dan bila kita melihat sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak menarik, kita menjadi marah. Karena itu, masalah seperti kemarahan dan keterikatan muncul karena mengkonsepsikan fenomena yang ada secara inheren.

Konsepsi fenomena sebagai ada secara inheren adalah kesadaran yang salah terhadap obyek rujukan, yang menyediakan fondasi bagi semua delusi. Akan tetapi, bila kita menggenerasikan pengertian bahwa fenomena tidak ada secara inheren, hal ini akan bertindak sebagai perlawanan terhadap kesadaran yang salah. Hal ini menunjukan bahwa pencemaran dalam pikiran dapat dihilangkan.

Bila delusi yang mencemarkan pikiran dapat dihilangkan maka bibit atau potensi yang tertinggal di belakang oleh delusi ini juga dapat dieliminasi. Kemurnian total dari sifat pikiran, yang tidak memiliki keberadaan inheren, diajarkan secara sangat eksplisit pada pemutaran roda doktrin yang kedua.

Pada saat pemutaran roda ketiga, dijelaskan lagi bahwa tidak hanya dari yang terakhir, tetapi juga dari sudut pandang konvensional, bahwa sifat terakhir dari pikiran adalah murni, dan dalam kondisi murni hanya cahaya bening dan netral.

Sebagai contoh, siapapun diri kita, delusi tidak bermanifestasi dalam diri kita pada seluruh waktu. Terlebih lagi, obyek yang sama kepada siapa kita terkadang menggenerasikan kemarahan, terkadang kita menggenerasikan cinta, yang seharusnya tidak mungkin.

Hal ini jelas menunjukan sifat sebenarnya dari pikiran utama, pikiran itu sendiri, murni, tetapi karena faktor mental atau pikiran yang menemani pikiran utama, ia terkadang nampak memiliki kualitas baik seperti cinta, dan pada saat lain berbentuk delusi seperti kemarahan. Sifat dari pikiran utama karena itu adalah netral, tetapi tergantung dengan yang menemani, ia mungkin berubah dari baik menjadi tidak baik.

Jadi pikiran sebenarnya bersifat cahaya bening dan pencemaran atau delusi adalah sementara dan tidak disengaja. Hal ini mengindikasikan bahwa bila kita mempraktekan dan menumbuhkan kualitas yang baik, pikiran dapat ditransformasikan secara positif. Di sisi lain, bila ia bertemu dengan delusi maka ia akan mengambil bentuk delusi. Karena itu, semua kualitas sebagai sepuluh kekuatan Buddha juga dapat dicapai karena kualitas pikiran ini.

Sebagai contoh, segala macam kesadaran memiliki kualitas pengertian yang sama dan mengetahui obyek mereka dengan jelas, tetapi kesadaran tertentu bertemu dengan beberapa kesulitan tidak akan dapat mengerti obyeknya. Walaupun mata kesadaran saya memiliki potensi untuk melihat sebuah obyek, bila saya menutupinya ia tidak dapat melihat obyeknya.

Seperti itu juga, kesadaran mungkin tidak dapat melihat obyek karena ia terlalu jauh. Jadi pikiran sudah memiliki potensi untuk mengerti semua fenomena, kualitas yang tidak perlu diperkuat, tetapi dikaburkan oleh faktor-faktor lain.

Dengan pencapaian kualitas Buddha yang lebih tinggi, seperti sepuluh kekuatan, kita mendapatkan kondisi kesadaran yang dapat melihat obyek dengan jelas dan sepenuhnya. Hal ini juga dapat dicapai dengan hanya mengakui sifat pikiran yang sebenarnya dan menghilangkan delusi dan gangguan darinya.

Pada saat pemutaran roda doktrin ketiga, dari empat kebenaran mulia yang diajarkan pada pemutaran roda pertama, arti dari jalan yang benar dijelaskan dengan mendefinisikan makna dari tathagatagarbha, atau sifat Buddha. Hal ini memungkinkan pencapaian maha tahu, kondisi terakhir dari kesadaran yang dapat melihat fenomena dan sifatnya.

Karena itu, penjelasan lengkap dari makna penghentian sebenarnya diberikan pada pemutaran roda doktrin yang kedua dan penjelasan yang sangat detil mengenai jalan yang benar diberikan pada saat pemutaran roda yang ketiga. Hal ini menjelaskan potensi pikiran untuk mengetahui keberadaan akhir dari fenomena dan bagaimana kemaha-tahuan dapat dicapai bila kalian mempromosikan dan mengembangkannya.

Sekarang, ketika menjelaskan sifat sebenarnya dari pikiran dan kecocokannya untuk mencapai pencerahan, kita memiliki penjelasan sutra dan tantra. Keduanya dibedakan dari detil penjelasan mereka mengenai sifat dari pikiran. Ajaran tantrik memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai kondisi terhalus dari pencerahan dalam kelas tertinggi tantra, yaitu Tantra Yoga Tertinggi. Ketiga kelas tantra yang pertama membentuk fondasi untuk hal ini.

Dalam esensinya, ini adalah penjelasan singkat mengenai ajaran Buddha, dari Empat Kebenaran Mulia sampai kelas tertinggi dari ajaran tantrik. Akan tetapi, walaupun kita memiliki pengertian yang jelas mengenai sifat terakhir dari pikiran dan kemungkin untuk mendapatkan pencerahan dengannya, bila kita tidak mempraktekannya dan berusaha untuk mendapatkan tujuan ini, maka pencerahan tidak akan dicapai. Jadi sementara dalam satu sisi penting untuk mengetahui sifat terakhir dari pikiran, di sisi lain, kita harus menggenerasikan maksud untuk melakukan praktek dan menyadari potensi ini.

Dalam ajaran dua Kebenaran Mulia yang pertama, sang Buddha menggambarkan kesalahan, cacat yang harus dilepaskan dan dieliminasi, ini adalah penderitaan yang benar dan asal penderitaan. Dalam ajaran pasangan kedua dari Empat Kebenaran Mulia, ini adalah jalan yang benar dan penghentian yang benar, sang Buddha menjelaskan bahwa ada metode, jalan untuk menghindari penderitaan dan delusi ini dimana penghentian dari para delusi ini dapat dicapai.

Bila tidak ada penawar atau metode untuk mengeliminasi penderitaan dan mencapai kondisi penghentian penuh dan kedamaian, tidak perlu untuk berdiskusi, berpikir atau bermeditasi mengenai penderitaan, karena hal ini hanya akan membangkitkan pesimisme dan menciptakan lebih banyak penderitaan untuk dirimu. Akan lebih baik untuk tetap liar dan tidak peduli.

Akan tetapi, faktanya kita tidak memiliki kesempatan, ada jalan dan metode untuk menghindari penderitaan, jadi baik untuk berbicara dan berpikir mengenai penderitaan. Ini adalah penting dan mencakup kualitas dari ajaran Buddha mengenai Empat Kebenaran Mulia, karena mereka menyediakan basis dan fondasi untuk semua praktek.

Ketika kita berpikir mengenai penderitaan yang sebenarnya dan asal-muasal penderitaan, dan kita mengerti mengenai dua kebenaran ini, kita akan menggenerasikan harapan untuk menghindari penderitaan dan sebabnya. Dengan kata lain, karena kita tidak menyukai penderitaan yang sebenarnya dan asal sebenarnya dari penderitaan kita akan menggenerasikan harapan untuk menolak mereka. Hal ini disebut tekad untuk bebas.

Ketika kalian dengan hati-hati mempertimbangkan penderitaan, tidak hanya kalian yang berada dibawah pengaruhnya, karena makhluk lain juga menderita dengan cara yang sama. Kemudian kalian harus berpikir bahwa karena makhluk lain juga menderita seperti saya, betapa baiknya bila mereka dapat mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya.

Harapan seperti ini untuk makhluk lain untuk mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya disebut kasih sayang. Ketika, karena kasih sayang, kalian memutuskan bahwa kalian akan membantu mereka untuk mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya, ini adalah tekad atau pikiran yang mengharapkan dengan aktif untuk memberi manfaat bagi makhluk lain.

Kemudian, bila kalian melihat dengan hati-hati mengenai bagaimana makhluk hidup mendapatkan manfaat tidak hanya sementara tetapi juga pada akhirnya, kalian akan mengambil kesimpulan bahwa kalian dapat memberi manfaat pada mereka sepenuhnya bila kalian membantu mereka mendapatkan pencerahan dan untuk melakukan hal ini, kalian sendiri harus mencapai pencerahan. Pikiran yang pengasih berharap untuk mendapatkan ke-Buddha-an agar dapat membantu semua makhluk hidup untuk mencapai pencerahan disebut pikiran tercerahkan.

Memungkinkan untuk menghindari penderitaan dan mencapai status tercerahkan karena fenomena tidak memiliki keberadaan independen atau inheren. Karena itu, penting untuk mengerti sifat dari fenomena, mereka tidak memiliki keberadaan inheren. Pengertian bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheret disebut pandangan yang benar.

Ketiga kualitas inilah: Tekad untuk bebas, pikiran tercerahkan, dan pandangan yang benar yang diperlakukan di sini sebagai tiga jalan utama. Mereka dinamakan seperti ini karena mereka menyediakan motivasi yang sebenarnya untuk mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan dan bentuk kerangka untuk mendapatkan pencerahan.

Makna utama dari mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan adalah tekad untuk bebas dan cara utama untuk mendapatkan pencerahan adalah pikiran tercerahkan. Keduanya dilengkapi dengan pandangan yang benar atau kebijaksanaan yang menyadari kekosongan.

Sekarang saya akan mulai menjelaskan teks ini.

Hormat

Saya memberi hormat kepada lama mulia yang terdepan

Baris ini adalah ekspresi hormat pengarang sebelum mengkomposisikan teks. Saya akan menjelaskan makna dari beberapa kata di sini. Kata lama tidak hanya melambangkan posisi status dan pengaruh dalam arti duniawi, tetapi mengindikasikan seseorang yang benar-benar baik dan memiliki kualitas luar biasa.

Dalam kata-kata Tibet Jey atau yang terdepan di sini menandakan seseorang yang tidak terlalu mempedulikan kesenangan jangka pendek atau sensual dari dunia ini, hidup dalam siklus keberadaan ini daripada kehidupan mendatang. Hal ini merujuk pada seseorang yang peduli mengenai manfaat jangka panjang bagi makhluk lain dalam banyak kehidupan mendatang.

Kata Tibet tsun, berarti mulia atau disiplin, merujuk pada sang lama karena dia telah mengerti itu, seberapa menyenangkan atau menarik halnya, kesenangan dan ketertarikan pada siklus keberadaan adalah tidak berharga. Dia telah melihat tidak adanya nilai berarti diantara fenomena duniawi, dan telah membalikan pikiran dia ke arah kebahagiaan yang kekal dari kehidupan mendatang.

Dengan kata lain, sang lama adalah seseorang yang memiliki pikiran disiplin dan tidak mengejar kesenangan dunia ini tetapi ingin mencapai kebebasan. Kata lama sebetulnya berarti tertinggi, mengindikasikan seseorang yang memiliki kepedulian lebih besar untuk makhluk lain daripada dirinya dan tidak mempedulikan kepentingan dirinya demi mereka.

“Saya memberi hormat” menyiratkan sujud. Kalian bersujud kepada sang lama karena melihat kualitas kepeduliannya bagi makhluk hidup lain dan kebahagiaan mereka tanpa mempedulikan dirinya. Dalam memberi hormat kepada kualitas ini dalam diri sang lama, dengan bersujud kepadanya, kalian membuat aspirasi untuk mendapatkan kualitas tersebut bagi diri kalian.

Janji untuk mengkomposisikan teks

Saya akan menjelaskan, sebaik saya bisa,
Esensi dari semua ajaran Penakluk,
Jalan yang dipuji oleh Anak-Anak Penakluk,
Pintu masuk bagi yang beruntung menginginkan kebebasan.

Baris pertama mengekspresikan janji pengarang untuk mengkomposisikan teks ini. Yang kedua menyiratkan tekad untuk bebas karena semua ajaran Buddha ditujukan pada kebebasan.

Dari sudut pandang inilah, tujuan untuk mendapatkan kebebasan, bahwa kita harus dapat melihat kesalahan dalam ketertarikan pada siklus keberadaan dan menggenerasikan harapan untuk melepaskan mereka. Hal ini sebenarnya sangat penting bila kita berharap untuk mendapatkan kebebasan. Jadi baris ini menyiratkan melepaskan siklus keberadaan.

Kata “Anak-anak Penakluk” di baris ketiga memiliki tiga konotasi. Mereka merujuk pada mereka yang lahir dari tubuh, perkataan, atau pikiran sang Buddha. Rahula adalah putranya secara fisik. Anak dari perkataannya merujuk pada Buddha Pendengar dan Penyendiri.

Tetapi dalam konteks ini, “Anak-anak Penakluk” merujuk pada mereka yang lahir dari pikiran sang Buddha, mereka yang telah menggenerasikan pikiran tercerahkan. Kalian menjadi Bodhisattva atau anak dari Buddha hanya bila kalian memiliki aspirasi altruisme untuk pencerahan. Bodhisattva disebut anak-anak pikiran sang Buddha, karena mereka lahir dari kualitas yang ditemukan dalam pikiran sang Buddha.

Baris terakhir dari bait ini menyiratkan pandangan yang benar, karena pencapaian kebebasan tergantung pada apakah kalian telah menyadari kekosongan. Jadi ketiga baris ini meringkas makna dari tekad untuk bebas, pikiran tercerahkan, dan pandangan kekosongan yang dijelaskan dalam teks ini.

Membuat Para Murid Mendengar

Mereka yang tidak terikat pada kesenangan dari siklus keberadaan
Berusaha untuk membuat kesenangan dan kesempatan ini berarti,
Mengandalkan jalan yang menyenangkan sang Penakluk,
Mereka yang beruntung, dengarkan dengan pikiran yang jernih.

Kebanyakan dari kita di sini memiliki sumber daya yang cukup sehingga kita tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan makanan, pakaian dan seterusnya. Tetapi jelas bahwa dalam hidup ini hanya memiliki sesuatu untuk dikenakan dan dimakan tidaklah cukup. Kita menginginkan hal lain. Kita masih menginginkan sesuatu yang lebih.

Hal ini dengan jelas mengilustrasikan bahwa kecuali kesenangan dan kebahagiaan dihasilkan dari mentransformasikan pikiran, tidak mungkin untuk mendapatkan kebahagiaan kekal melalui cara eksternal, akan tetapi kondisi eksternal yang mendukung mungkin. Kebahagiaan dan ketidak-nyamanan sebetulnya tergantung pada tingkah laku mental kita.

Jadi penting bahwa kita harus mentransformasikan pikiran kita secara internal. Karena kebahagiaan yang kekal hanya didapat dengan cara ini sangat penting untuk mengandalkan kekuatan pikiran dan untuk menemukan sifat sebenarnya dari pikiran.

Ada beragam ajaran dalam tradisi agama yang berbeda-beda mengenai bagaimana membawa transformasi ini. Ajaran Buddha, yang kita diskusikan di sini, mengandung penjelasan yang jelas, detil dan sistematis.

Kita, kurang atau lebih berkualifikasi sebagai “yang beruntung” seperti yang dirujuk dalam bait ini, karena kita mencoba untuk mengurangi keterikatan kita, kita mencoba untuk menggunakan kehidupan yang berharga sebagai manusia yang bebas dan beruntung ini berarti, dan kita mengandalkan ajaran sang Buddha. Jadi, baris ini mengatakan pada kita untuk memperhatikan ajaran yang akan diberikan oleh sang pengarang.

Perlunya Menggenerasikan Tekad untuk Bebas

Tanpa tekad murni untuk bebas, tidak ada cara untuk mendapatkan kedamaian
Karena fokus pada efek menyenangkan dari samudera keberadaan.
Makhluk berwujud sepenuhnya terikat pada keinginan akan keberadaan,
Karena itu, dari awal carilah tekad untuk bebas.

Di sini kita mulai dengan tubuh teks yang sebenarnya, ajaran sebenarnya yang tercakup. Bait ini menjelaskan perlunya untuk menggenerasikan tekad untuk bebas atau pikiran yang mencari kebebasan dair siklus keberadaan. Melihat kesalahan dan kekurangan dari siklus keberadaan dan menggenerasikan harapan yang sangat kuat untuk meninggalkannya dan mencapai kebebasan disebut tekad untuk bebas.

Sepanjang kalian tidak bisa melihat tidak bernilainya kesenangan dari siklus keberadaan, tetapi terus melihat arti atau ketertarikan pada mereka dan menempel pada mereka, kalian tidak akan mengarahkan pikiran kalian ke arah kebebasan dan kalian tidak akan menyadari bahwa kalian terikat.

Jadi baris pertama dari bait ini berkata bahwa kecuali kalian memiliki tekad murni untuk membebaskan diri kalian dari samudera siklus keberadaan, usaha kalian untuk mendapat kedamaian akan percuma. Kekaguman kita akan siklus keberadaan karena keinginan dan keberadaan, yang mengikat kita di dalamnya.

Karena itu, bila kita benar-benar mencari kedamaian dari kebebasan, jalan yang harus diambil adalah menggenerasikan tekad untuk bebas, untuk mengakui kesalahan dari siklus keberadaan dan menolak mereka. Biografi dari Buddha sendiri dapat memberikan kita pengertian mengenai makna dari tekad untuk bebas demi praktek kita.

Dia terlahir sebagai pangeran dari keluarga kaya, dan terpelajar, memiliki seorang istri dan putra dan menikmati semua kesenangan duniawi yang dapat dibayangkan. Akan tetapi, walaupun semua kesenangan yang menggoda tersedia untuknya, ketika dia menemukan contoh dari penderitaan kelahiran, penyakit, penuaan dan kematian, dia dipicu oleh pemandangan penderitaan makhluk lain.

Dia menemukan sendiri bahwa, tidak peduli betapa menariknya kenyamanan eksternal, sepanjang kalian memiliki tubuh fisik seperti kita, yang merupakan produk berumur pendek dari tindakan terkontaminasi dan delusi, maka kesenangan eksternal yang menarik adalah ilusi.

Menyadari hal ini, dia mencoba untuk menemukan jalan menuju kebebasan dari penderitaan dan melepaskan semua kesenangan duniawi, termasuk istri dan putranya. Secara bertahap meningkatkan tekadnya untuk bebas dengan cara ini dia mendapatkan tidak hanya kebebasan, tetapi juga pencerahan.

Karena itu, diajarkan bahwa kita perlu mengembangkan tekad untuk bebas. Hanya dengan melepaskan kenyamanan siklus keberadaan dan memeriksa keterikatan dan keinginan atas hal ini tidaklah cukup. Kita harus memotong aliran kelahiran. Kelahiran kembali datang karena keinginan, dan kita harus memutuskan kesinambungannya melalui praktek meditasi.

Karena itu, sang Buddha memasuki stabilisasi meditasi selama enam tahun. Akhirnya dengan cara menyatukan ketenangan dan pandangan khusus dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi gangguan yang diberikan oleh agregat dan kekuatan jahat eksternal. Dia mengeliminasi sumber dari emosi mengganggu dan karena mereka telah dimatikan dia dapat mengatasi kematian. Dengan cara ini dia menaklukan empat kekuatan jahat atau gangguan.

Sebagai pengikut sang Buddha, kita juga harus mencoba melihat kesalahan dari ketertarikan akan siklus keberadaan yang menggoda. Kemudian tanpa keterikatan terhadap mereka menggenerasikan konsentrasi dan fokus pada pandangan tidak mementingkan diri sendiri – mengerti sifat sebenarnya dari fenomena.

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana mempraktekan tekad untuk bebas, bagaimana menggenerasikan pikiran yang berharap untuk melepaskan siklus keberadaan, bait selanjutnya berkata:

Merenungkan bagaimana kebebasan dan keberuntungan sulit untuk ditemukan

Dan dalam hidup, tidak ada waktu untuk dibuang, hambatlah ketertarikan pada
penampakan menggoda dari kehidupan ini.
Berulang kali merenungkan tindakan dari efek sempurna
Dan penderitaan dari siklus keberadaan hambatlah
Penampakan menggoda dari kehidupan mendatang.

Bait ini menjelaskan bagaimana memeriksa keterikatan terhadap kehidupan ini dan kemudian terhadap kehidupan mendatang. Agar dapat memotong keterikatan terhadap kesenangan dalam hidup ini, penting untuk berpikir mengenai berharganya kehidupan manusia ini, bagaimana sulitnya untuk menemukan dan banyak kualitas yang disediakannya.

Bila kita berpikir dengan jelas mengenai poin-poin ini, kita akan dapat mengekstrak makna dari mendapatkan kelahiran manusia. Hidup sebagai manusia adalah berharga karena dengannya kita mendapatkan status, kualitas dan kepandaian, yang tidak dimiliki hewan lain, bahkan dalam makhluk hidup lain. Kita memiliki kekuatan untuk mendapatkan manfaat besar dan kerusakan. Bila kita hanya sebentar dari waktu kita dan membuang potensi berharga ini dengan aktivitas yang bodoh dan tidak berarti, hal ini akan merupakan kerugian besar.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui kapasitas kita, kualitas kita dan kepandaian yang tinggi yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Bila kita dapat mengidentifikasi hal-hal ini, kita akan dapat menghargai dan menggunakan mereka. Kekuatan dari otak dan kepandaian manusia adalah luar biasa.

Ia mampu untuk merencanakan ke depan dan dapat terlibat dengan pikiran yang dalam dan ekstensif, yang tidak dapat dilakukan makhluk lain. Karena kita memiliki otak yang kuat dan kepandaian, sangat penting bahwa kita mengakui kekuatan dan karakter dari kesadaran ini. Kita kemudian harus mengarahkannya pada arah yang benar, sehingga ia dapat berkontribusi secara signifikan bagi kedamaian dan keharmonisan di dunia dan diantara semua makhluk.

Mari kita ambil contoh energi nuklir. Ada kekuatan besar dalam partikel nuklir, tetapi bila kita menggunakan kekuatan ini dengan salah atau menyalah-gunakannya, ia dapat merusak. Sekarang ini, kita memiliki misil nuklir dan senjata lain yang namanya saja membuat kita takut, karena mereka sangat berbahaya. Mereka dapat menyebabkan kehancuran massal dalam waktu sebentar saja.

Di sisi lain, bila kita menggunakan kekuatan nuklir dengan cara yang konstruktif, ia dapat melayani kemanusiaan dan makhluk hidup secara kesuluruhan. Seperti itu juga karena manusia memiliki kapasitas dan kekuatan seperti ini, penting bagi mereka untuk menggunakannya demi memberi manfaat bagi semua makhluk hidup. Dengan pantas menggunakan ketulusan manusia dapat menjadi sumber manfaat dan kebahagiaan, tetapi bila disalah-gunakan, hal ini akan membawa kesedihan dan kerusakan.

Dari sudut pandang kepandaian inilah kita harus berpikir mengenai pentingnya kehidupan manusia kita yang berharga. Akan tetapi, akan penting bagi kita untuk mengerti bahwa hidup dari manusia yang bebas dan beruntung bukan hanya berarti dan sulit didapatkan, tetapi juga singkat.

Dua baris berikutnya bahwa bila kita berpikir berulang kali mengenai hubungan sempurna antara sebab, tindakan kita, dan penderitaan siklus keberadaan, kita akan dapat memotong keterikatan kita terhadap kehidupan selanjutnya. Pada saat ini kita terlibat dalam banyak tingkatan aktivitas untuk mendapatkan pakaian, makanan, dan nama yang baik.

Di samping itu, pengalaman kita pada bagian hidup kita selanjutnya tergantung pada tindakan yang kita lakukan di bagian sebelumnya. Hal ini sebenarnya adalah arti dari tindakan dan hasil. Walaupun ini bukan interpretasi terhalus, ketika kita berbicara mengenai tindakan dan hasilnya, tindakan mencakup semua hal yang kita lakukan untuk mendapatkan kebahagian atau kesenangan. Hasil adalah efek yang kita terima.

Karena itu, pada bagian pertama hidup kita, kita melakukan aktivitas yang kita pikir akan membawa kesuksesan pada masa yang akan datang. Seperti itu juga, kita terlibat dalam tindakan tertentu dalam hidup ini sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang baik pada kehidupan kita yang akan datang.

Dengan kata lain, pengalaman kita pada bagian kedua hidup kita adalah tergantung pada tindakan yang kita lakukan pada bagian sebelumnya dan pengalaman kita di kehidupan mendatang, apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan, tergantung pada tindakan yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya.

Tindakan ini dilakukan oleh tubuh, perkataan, atau pikiran dan juga disebut fisik, verbal dan mental. Dari sudut pandang ini hasilnya, dapat disebut baik, tidak baik atau tindakan netral. Tindakan baik berakibat pada hasil yang menyenangkan, tindakan tidak baik mengakibatkan hasil yang tidak menyenangkan dan tindakan netral membawa pada perasaan tenang.

Kemudian ada tindakan yang pasti akan menyebabkan hasil dan mereka yang tidak. Sebagai contoh, ketika tindakan dilakukan, pertama-tama ada motivasi, ada maksud, kemudian ia diimplementasikan dan akhirnya dibawa pada penyelesaian.

Sekarang, ketika tujuan, tindakan dan kesimpulan adalah sangat kuat, sudah pasti tindakan tersebut akan membawa hasil, apakah itu baik atau buruk. Di sisi lain, bila maksudnya sangat kuat tetapi kalian tidak melakukannya, atau pada akhirnya daripada berpikir kalian telah menyelesaikan tindakan, kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan, maka tindakan tersebut tidak menghasilkan efek pada saat itu.

Bila ketiga aspek maksud, aplikasi dan kesimpulan, tidak ada tindakan tersebut diklasifikasikan sebagai tidak terbatas. Tetapi dari sudut pandang mengalami hasil, ada tindakan yang berbuah pada kehidupan ini, tindakan yang berbuah pada kehidupan selanjutnya dan tindakan yang berbuah pada banyak kehidupan setelahnya.

Kemudian ada dua tingkat tindakan yang dapat diklasifikasikan sebagai tindakan memproyeksikan dan menyelesaikan. Tindakan memproyeksikan adalah tindakan yang bertanggung jawab untuk memproyeksikan kita ke kehidupan tertentu melalui kelahiran sebagai manusia, hewan atau makhluk dalam kondisi lain. Tindakan penyelesaian adalah mereka yang menentukan kualitas dari hidup dimana kalian terlahir.

Sebagai contoh, walaupun terlahir sebagai manusia, kalian bisa terus miskin. Mulai dari lahir, indera kalian mungkin rusak atau bagian tubuh kalian cacat. Di sisi lain, kompleksi kalian mungkin cemerlang dan kalian memiliki kekuatan natural. Bahkan bila terlahir sebagai hewan kalian mungkin, seperti anjing peliharaan, memiliki rumah yang nyaman. Jenis kualitas dan kerusakan yang kalian warisi sejak lahir, adalah aktualisasi tambahan dari kelahiran tertentu, sebagai hasil dari tindakan penyelesaian.

Jadi, tindakan dapat disebut memproyeksikan atau menyelesaikan menurut fungsi mereka. Adalah mungkin bahwa walaupun tindakan memproyeksikan adalah baik, tindakan penyelesaiannya tidak baik, dan walaupun tindakan penyelesaiannya tidak baik, tindakan proyeksinya adalah baik.

Apakah tindakan tertentu adalah positif, seperti keyakinan pada Buddha, atau negatif, seperti keterikatan, bila hal ini adalah murni, ia dapat dilihat sebagai putih dan baik secara keseluruhan atau hitam dan buruk secara keseluruhan. Bila persiapan, aplikasi dan penyelesaian dari tindakan tertentu adalah baik maka tindakan tersebut dapat dilihat sebagai tindakan baik. Tetapi bila ia menghasilkan kesimpulan yang tidak murni, dengan kata lain, bila ia adalah campuran antara kualitas positif dan negative, maka ia dapat disebut tindakan campuran.

Adalah “Saya”, atau orang, yang mengakumulasikan tindakan dan pengalaman dan hasilnya. Walaupun perbedaan tingkatan tindakan, adalah hasil dari berpikir makhluk hidup tertentu, mereka tidak dihasilkan oleh pencipta dunia ini. Ada seseorang yang menciptakan tindakan, karena ketika kita berbicara mengenai tindakan, kata-kata ini menyiratkan bahwa ada aktor atau agen yang melakukan tindakan, tetapi bukan agen eksternal.

Bagaimana cara tindakan menghasilkan akibat? Sebagai contoh, ketika saya menjentikan jari, dengan segera saya berhenti, tindakan ini lengkap, meninggalkan hasil. Bila kalian bertanya, apa hasilnya, ia hanya tindakan yang terdisintegrasi, dan disintegrasi tindakan ini terus berjalan.

Jadi, ketika kita berbicara mengenai hasil dari tindakan tertentu, ia hanya disintegrasi, atau bagian dari disintegrasi, atau penghentian tindakan tertentu. Untuk menjelaskan poin ini ada potensi yang ditinggalkan oleh disintegrasi tindakan tersebut, yang bertanggung jawab untuk membawa fenomena yang terkondisi lainnya.

Ketika kalian mencari kemana jejak dari potensi disintegrasi atau penghentian dari tindakan tersebut ada, jawabannya ada di kontinum kesadaran yang ada pada saat penghentian tindakan tersebut. Ada kesempatan dimana kesadaran awas dan bangun dan ada kesempatan dimana kesadaran tidak awas, sebagai contoh ketika kita dalam keadaan tidur nyenyak atau ketika kita pingsan.

Karena itu, kesadaran bukanlah tempat yang dapat diandalkan untuk menyimpan potensi. Terkadang ia sangat halus dan terkadang ia sangat kasar, jadi kesadaran hanya menyediakan tempat sementara untuk jejak ini.

Karena itu, bila kita mencari penjelasan, hanya “Saya” atau orang, yang membawa potensi dari tindakan tertentu. Penjelasan ini berdasarkan pada penjelasan akhir dari sekolah tertinggi, yaitu Sekolah Jalan Tengah Konsekuensialis.

Saya menggunakan kata “hanya Saya” untuk mengklarifikasi “Saya” atau orang yang hanya nominal dan bukan ada secara inheren. Ia hanya ditujukan dan tidak ada dengan sendirinya. Ia bukan sesuatu yang dapat kalian tunjuk dengan jari. Kata “hanya” mengindikasikan “Saya” yang hanya ditujukan oleh nama dan pikiran dan menegasi dukungan diri atau “Saya” yang independen.

Negasi dari keberadaan inheren atau “dukungan diri “Saya” tidak berarti bahwa “Saya” tidak ada sama sekali, ia hanya ada secara nominal. Kata hanya “Saya” atau orang menjadi dasar dimana jejak atau potensi tindakan tertinggal. Secara umum, “Saya” ditujukan pada koleksi dari agregat fisik dan mental.

Ketika kita berbicara mengenai tubuh fisik dan kesadaran, yang merupakan dasar dari “Saya”, dengan referensi kepada manusia, ia terutama adalah kesadaran yang menjadi dasar bagi kata “Saya”. Kesadaran memiliki banyak tingkatan, beberapa dari mereka kasar dan beberapa halus.

Tubuh fisik seorang manusia juga dapat dibagi menjadi banyak bagian, seperti mata, telinga, dan seterusnya. Bagian fisik ini lagi menjadi dasar bagi tujuan kesadaran. Sebagai contoh, kesadaran mata ditujukan untuk melihat, dan kesadaran telinga untuk mendengar dan seterusnya.

Tetapi bila kalian mencoba untuk mencari dasar terhalus dari tujuan kesadaran, sepertinya saraf dan jalan dari otak sebenarnya adalah basis untuk tujuan kesadaran mental.

Kemudian juga ada pembicaraan mengenai basis dari kekuatan indera dan ini seharusnya sangat halus. Tidak jelas apakah basis dari fakultas indera dapat ditemukan pada otak atau di tempat lain. Hal ini akan menjadi obyek penelitian yang menarik.

Mari kita ambil sebuah contoh, agar dapat menggenerasikan kesadaran mata banyak kondisi atau sebab yang diperlukan. Sebab yang dominan adalah kekuatan indera mata yang tidak rusak. Memiliki bentuk tertentu dalam fokusnya menjadi kondisi obyektif.

Akan tetapi, walaupun ada kehadiran dari kondisi seperti ini tidak pasti bahwa kesadaran mata akan bangkit. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ketiga, kondisi yang sebelumnya, yaitu kesadaran, diperlukan selain kondisi obyektif eksternal dan kondisi dominan internal dari kekuatan indera.

Karena itu, agar supaya kesadaran indera mata bangkit ketiga kondisi ini diperlukan.

Sebagai contoh untuk mengupas poin ini, terkadang ada kasus orang yang setelah sakit untuk waktu yang lama menjadi sangat lemah secara fisik sehingga detak jantung dan semua fungsi fisik mereka berhenti. Memasuki keadaan koma sehingga tidak ada aktivitas fisik atau fungsi yang bisa dipersepsikan, dokter mendeklarasikan mereka mati secara klinis.

Akan tetapi, terkadang setelah beberapa menit atau bahkan jam, walaupun tidak ada aktivitas fisik, orang tersebut mulai bernafas lagi, jantungnya mulai berdetak, dan fungsi fisik didapat kembali. Kebangkitan ini, walaupun ada penghentian dari semua fungsi sebelumnya, menunjukan kehadiran yang tak terhindarkan dari kondisi mental yang sebelumnya. Ketika ada kondisi sebelumnya, sebuah kesadaran, hadir dan orang tersebut dapat hidup lagi.

Seperti itu juga, dalam kasus kesadaran indera, hanya adanya kondisi yang dominan dan kondisi obyektif tidaklah cukup untuk menggenerasikan kesadaran tertentu.

Menurut pandangan Buddha, ketika kita berbicara mengenai berbagai tingkatan kesadaran dari manusia tertentu yang ditujukan pada berbagai bagian tubuhnya maka kita merujuk pada tingkat yang lebih kasar dari kesadaran orang tersebut. Kesadaran ini disebut kesadaran dari manusia karena mereka tergantung pada bagian tertentu dari tubuh manusia.

Karena itu, ketika makhluk hidup meninggal, semua kesadaran yang kasar yang tergantung pada tubuh fisik juga seperti menghilang, tetapi menarik untuk dicatat bahwa entitas kesadaran tidak bangkit semata-mata hanya karena adanya tubuh fisik. Mereka diproduksi sebagai entitas kejelasan dan kesadaran seperti kesadaran mata, kesadaran telinga dan seterusnya, tergantung pada kondisi selain tubuh.

Ada sebab fundamental yang menggenerasikan kesadaran ini sebagai entitas dari kejelasan dan kesadaran dan menurut berbagai kondisi yang ditemui kesadaran bentuk kognitif, suara, dan seterusnya bangkit. Hal ini menunjukan bahwa ada kesadaran yang independen dari tubuh fisik yang kasar, tetapi ketika ia menemui kondisi yang lebih kasar, ia nampak dalam bentuk kesadaran yang lebih kasar.

Kesadaran memiliki sifat yang lebih halus dan bila kalian memeriksa sifat yang lebih halus, maka sebab yang benar, substansial dari kesadaran itu hanya akan menjadi kontinum lain dari kesadaran yang mendahuluinya, tidak peduli ada tubuh fisik atau tidak.

Karena itu, ada sejenis sifat natural, yang murni dan jelas sepenuhnya. Ketika kondisi murni dari pikiran berhubungan dengan berbagai tingkat tubuh fisik, kesadaran juga memanifestasikan dirinya lebih atau kurang kasar, tergantung dari bagian mana dari tubuh fisik dia ditujukan. Tetapi bila kalian memeriksa sifat sebenarnya dari pikiran, ia memiliki keberadaan yang independen dari tingkat yang lebih kasar dari tubuh fisik.

Kondisi pikiran yang natural dan murni, yang ada independen dari tubuh fisik, disebut cahaya bening purba atau kesadaran purba – kesadaran yang selalu ada. Dibandingkan dengan hal ini, kesadaran yang lebih kasar adalah tidak disengaja, karena mereka terkadang hadir dan terkadang tidak hadir dan ini adalah kriteria utama yang membedakan mahkluk hidup dari benda hidup lainnya dan fenomena lain.

Tidak diragukan seseorang atau “Saya” diatribusikan pada agregat total dari tubuh fisik dan kesadaran, tetapi cahaya bening purba yang merupakan dasar eksklusif dari seseorang, dan bukan tubuh fisik, tetapi karena mereka tidak memiliki kesadaran halus seperti ini mereka tidak dirujuk sebagai orang.

Apapun bentukmu, bentuk atau aspek luar, siapapun yang memiliki kesadaran berkesinambungan dan memiliki perasaan, persepsi dan seterusnya dianggap sebagai seorang manusia. Karena itu berbagai teks menjelaskan bahwa “Saya” atau orang yang diatribusikan kepada kontinuitas atau aliran kesadaran.

Walaupun kesadaran spesifik beragam menurut kesempatan yang berbeda dan tingkat kesadaran yang lebih kasar tergantung pada berbagai tubuh fisik, tingkat kesadaran terhalus, hanya entitas kejelasan dan kesadaran, cahaya bening kesadaran purba, bergantung pada tubuh fisik.

Sifat dari kesadaran tidak memiliki awal. Bila kalian mencoba menelusuri asal-muasal kesadaran, kalian dapat terus ke belakang tetapi kalian tidak akan sampai pada satu titik dimana kalian dapat berkata, ini adalah saat kesadaran terbentuk. Karena itu, ini adalah sifat alami bahwa kesadaran terbentuk pada waktu tanpa awal.

Ini juga merupakan penjelasan yang lebih realistis, karena bila kalian menerima awal dari kesadaran, kalian harus menegaskan pencipta dari kesadaran atau kalian harus berkata bahwa kesadaran bangkit tanpa sebab. Ini adalah masuk akal, karena kesadaran telah dijelaskan sebagai tidak memiliki awal.

Bila kalian bertanya mengapa ia tidak memiliki awal, kita hanya dapat berkata bahwa ini adalah hukum alam. Bila kita mengamati dengan hati-hati, ada banyak hal di dunia yang kesinambungannya dapat ditelusuri dari waktu tanpa awal. Tetapi bila kalian bertanya, apakah mereka ada dan dari mana asalnya, kalian tidak akan menemukan jawabannya. Ini adalah sifat mereka.

Bila kalian bertanya mengapa bentuk fisik nampak dalam entitas bentuk, hal ini karena sifat mereka. Bila kita berkata bahwa hal ini ada tanpa sebab atau membentuk sebab yang tak berhubungan, mengapa ia tidak dapat terbentuk tanpa sebab sekarang, ketika ia dapat terjadi tanpa sebab dulunya?

Karena itu menurut pandangan Buddha, apakah ada awal dari kesadaran, jawabannya adalah kontinum kesadaran tidak memiliki kesadaran, asal dari “Saya” atau orang adalah tidak berawal dan kelahiran tidak berawal. Dan bila kalian bertanya apakah hal-hal ini memiliki akhir, lagi jawabannya adalah negatif bila kalian berpikir mengenai kontinum kesadaran atau kontinum seseorang.

Tetapi ada akhir bagi kondisi pikiran seseorang yang tidak murni, kondisi seseorang yang tidak murni dan ada batasan atas kelahiran, karena biasanya ketika kita berbicara mengenai kelahiran, kita merujuk pada sesuatu yang telah dihasilkan dari tindakan terkontaminasi dan delusi.

Jadi karena kelahiran yang tak berawal, kemudian pengalaman penderitaan dan kesenangan berhubungan dengan tindakan yang dilakukan sebelumnya. Jenis tindakan terdelusi yang berbeda atau tindakan baik yang diakumulasi seseorang pada kehidupan yang berbeda-beda berhubungan dengan hasil di kehidupan yang berbeda.

Sebagai contoh bila kalian melakukan tindakan baik atau negatif dalam hidup ini, maka kalian akan mengalami hasil di kemudian hari. Seperti itu juga, kalian mungkin melakukan tindakan yang baik atau tidak baik di kehidupan sebelumnya, yang hasilnya akan kalian alami di kehidupan yang sama, atau pada kehidupan ini. Bila kalian tidak mengakumulasi tindakan seperti ini, maka kalian tidak akan mengalami akibatnya.

Di sisi lain, bila kalian telah mengakumulasikan tindakan tertentu maka secara umum kalian tidak akan pernah bisa melarikan diri dari hasilnya: cepat atau lambat, ia akan berbuah. Seperti itu juga bila seseorang mengakumulasi tindakan positif hasilnya juga akan positif. Tindakan-tindakan seperti ini disebut tindakan pasti, tetapi ada juga tindakan yang hasilnya tidak pasti, karena kondisi yang baik atau situasi yang baik tidak ada.

Lebih jauh lagi, ada tindakan, yang sepertinya tidak penting, tetapi hasilnya berlipat-ganda dengan cepat tergantung pada keadaan, situasi dan kondisi. Jadi, ada banyak jenis tindakan: Tindakan pasti, tindakan tidak pasti, tindakan yang berlipat-ganda dengan cepat, dan juga fakta bahwa hasil dari tindakan yang tidak dilakukan tidak akan ditemui dan tindakan yang pernah dilakukan menghilang.

Biasanya, semua tindakan sehari-hari muncul dari harapan atau keinginan. Sebagai contoh, bila kalian ingin pergi ke suatu tempat, maka kalian akan bersiap dan pergi; bila kalian ingin memakan sesuatu, maka kalian mencari sesuatu untuk dimakan dan memakannya. Keinginan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, satu adalah negatif dan yang lain adalah masuk akal dan kreatif. Sebagai contoh, harapan untuk mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan menyebabkan tindakan yang wajar, karena itu ini adalah keinginan yang masuk akal dan berdasarkan logika.

Di sisi lain, untuk menggenerasikan keterikatan terhadap obyek tertentu, seperti bila kalian berharap mendapatkan sesuatu, ini adalah keinginan yang tidak murni dan biasanya bangkit dari miskonsepsi mengenai fenomena sebagai ada secara independen atau inheren. Kebanyakan pekerjaan yang kita lakukan dalam siklus keberadaan, dan keinginan yang kita generasikan adalah hasil dari penalaran yang tidak berdasarkan logika seperti ini.

Membuat pikiran kita mengenali kualitas yang positif dan mencoba mencapai tujuan seperti kebebasan dari keinginan yang masuk akal. Masih saja, mungkin bahwa dalam kasus tertentu harapan seseorang untuk mendapatkan kebebasan dibantu dengan konsepsi atas keberadaan sebenarnya.

Akan tetapi, setiap harapan untuk kesempurnaan duniawi adalah berdasarkan kebodohan yang memikirkan mengandung keberadaan sebenarnya. Dalam dasar ini, lebih baik mengklasifikasikan keinginan dalam dua hari, satu menghasilkan penalaran yang benar dan yang lain menghasilkan penalaran yang tidak benar.

Hasil dari keinginan berdasarkan konsepsi dari keberadaan sebenarnya adalah siklus keberadaan. Tetapi masih ada jenis keinginan lain berdasarkan alasan yang masuk akal yang tidak memproyeksikan siklus keberadaan, tetapi ingin mendapatkan pencapaian tertinggi dan kualitas sang Buddha, Doktrin, Komunitas Spiritual dan Nirvana, kondisi di luar penderitaan. Ada harapan dan keinginan untuk mencapai hal ini.

Bila kita tidak mengklasifikasikan keinginan menjadi dua jenis seperti yang disebutkan di atas, kita mungkin berpikir bahwa menginginkan kebebasan tidaklah pantas, dan menginginkan praktek keagamaan tidak pantas dan bahkan menginginkan kebahagiaan juga tidak pantas. Tidak diragukan bahwa ada berbagai model dari menginginkan kebahagiaan kita, tetapi apa yang jelas adalah sepanjang kita memiliki keterikatan dan konsepsi diri yang benar ada, tindakan yang berkarakter siklus keberadaan akan tetap diciptakan.

Secara umum, sekali tindakan tersebut diakumulasikan dengan hasil yang harus dialami. Karena itu, walaupun kita mungkin menikmati kesenangan dari siklus keberadaan sekarang ini dan penderitaan yang intens tidak bermanifestasi, karena kita tidak bebas dari tindakan membelenggu dan perangkap, kita tidak memiliki keamanan dan jaminan atas kebahagiaan yang kekal. Ini adalah perspektif, dari kata-kata teks ini,

Bila kalian berpikir berulang kali mengenai hukum sebab dan akibat yang sempurna
Dan penderitaan dari siklus keberadaan,
Kalian akan dapat menghentikan keterikatan pada kehidupan mendatang.

Dengan mengerti hukum sebab dan akibat yang sempurna kalian akan dapat melihat bahwa kecuali kalian mempurifikasi tindakan kalian, apapun kenikmatan yang jelas dan kesenangan yang kalian temukan dalam siklus keberadaan tidak dapat diandalkan. Setelah mengerti hal ini, kalian tidak akan dibingungkan dengan kesenangan dari siklus keberadaan dan akan dapat mengekang keterikatan pada kehidupan selanjutnya

Sebagai manusia dalam siklus keberadaan, kita biasanya menemukan empat jenis penderitaan: Penderitaan kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian. Mulai dari lahir, kita dihadapkan pada penderitaan hidup kita dimulai dengan penderitaan.

Pada saat yang sama, proses penuaan dimulai dan kita mulai menemukan berbagai tingkatan penyakit. Bahkan ketika kita sehat kita menemukan banyak gangguan dan kebingungan. Akhirnya, bab dari hidup kita ditutup dengan penderitaan akan kematian.

Ketika kita berbicara mengenai seseorang yang berada pada siklus keberadaan, kita merujuk pada makhluk hidup yang berada dalam kekuasaan tindakan terkontaminasi dan delusi. Karena kita ditundukan oleh tindakan terkontaminasi dan delusi, kita berulang-kali terlahir dalam siklus, karena itu ini disebut siklus keberadaan.

Dari keduanya, tindakan terkontaminasi dan delusi, delusilah yang terutama bertanggung jawab untuk melemparkan kita dalam siklus keberadaan. Ketika kita bebas dari delusi kita mendapatkan kebebasan. Delusi adalah kondisi pikiran dimana, ketika mereka muncul dalam kontinum mental kita, membuat kita terganggu, bingung dan tidak bahagia.

Karena itu, kondisi pikiran ini yang terdelusi atau menindas kita disebut delusi atau emosi menindas. Mereka adalah kualitas negatif yang membuat kita tidak bahagia ketika mereka muncul dalam diri kita. Ini adalah gangguan internal dan bukan kondisi eksternal yang benar-benar membuat kita menderita.

Sepanjang kita memiliki penjahat ini yang tinggal dalam diri kita, kebahagiaan adalah tidak mungkin. Jadi, bila kita ingin mentransformasi diri kita dan mendapatkan kebahagiaan maksimum, kita harus mengidentifikasi kondisi pikiran yang terdelusi dan mengeliminasi mereka. Pencerahan, kondisi kebahagiaan terbesar, tidak dapat diaktualisasikan dengan cara lain selain mentransformasikan pikiran kita.

Biasanya pada tingkat biasa, kita berpikir bahwa delusi seperti keterikatan dan kemarahan adalah kualitas yang membuat hidup bermakna dan berwarna. Kita berpikir bahwa tanpa keterikatan dan kemarahan, seluruh masyarakat atau komunitas kita akan menjadi tidak berwarna dan tanpa kehidupan.

Tetapi bila kalian berpikir mengenai hal ini dan menimbang kualitas dan kerugian dari delusi seperti keterikatan dan kemarahan, kalian mungkin menemukan bahwa dalam jangka pendek mereka memberikanmu kelegaan dan membuat hidup kalian berwarna.

Tetapi bila diamati dari dekat kalian akan menemukan bahwa sedikit dari delusi yang kita miliki, walaupun hidup akan kurang berwarna, lebih banyak kita akan mengembangkan ketenangan diri, kekuatan dalam diri dan kebahagiaan kekal. Seperti itu juga, pikiran kita akan bahagia, kesehatan fisik kita akan menjadi lebih baik dan kita akan dapat terlibat dengan sukses dalam aktivitas kebaikan.

Tentu saja, kalian mungkin merasa hidup kalian sekarang tidak berwarna, tidak menarik dan tanpa makna. Tetapi bila kalian pikirkan dengan hati-hati dan melihat manfaat jangka panjang bagi diri kalian dan makhluk hidup lain, kalian akan melihat bahwa lebih banyak kalian mengendalikan delusi, lebih banyak kedamaian pikiran dan kesejahteraan fisik kalian.

Demi mengejar kesehatan fisik banyak orang yang melakukan berbagai jenis olahraga yoga. Tidak diragukan bahwa hal ini baik untuk mereka, tetapi bila mereka juga melakukan mental yoga hal ini akan lebih baik. Singkatnya, selama pikiran kalian terganggu dan tidak seimbang, kalian akan terus menemukan masalah dan penderitaan

Dan sepanjang pikiran kalian terkendali, disiplin dan bebas dari kesalahan ini, lebih banyak kekuatan diri, ketenangan, kedamaian dan stabilitas yang kalian dapatkan, karena kalian akan dapat menjadi lebih kreatif. Dari pengalaman kalian kita akan memiliki lebih banyak penderitaan ketika pikiran kalian terganggu oleh kesalahan yang dapat kita simpulkan ketika pikiran kita jernih dan pengalaman kebahagiaan kita stabil.

Sampai saat ini kita telah mendiskusikan kesalahan, penderitaan dan delusi dari siklus keberadaan. Pada satu sisi, kita harus berpikir mengenai kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan dan menggenerasikan keengganan terhadap mereka dan pada sisi lain kita perlu memastikan kemungkinan untuk mencapai nirvana, penghentian penderitaan – eliminasi dari delusi sepenuhnya.

Bila kalian bertanya – apakah ada metode dimana kalian dapat mencapai kebebasan, atau metode dimana kalian dapat mencapai kebebasan, atau metode dimana kalian akan dapat mengeliminasi penderitaan dan delusi sepenuhnya? Akan bernilai untuk bertanya apakah nirvana dan kebebasan sebenarnya ada.

Kebebasan atau penghentian adalah sifat dari pikiran pada kesempatan anihilasi sepenuhnya dari pencemaran oleh penawar mereka. Ketika kalian berpikir mengenai penderitaan dari siklus keberadaan dan kalian lelah dengan mereka, kalian menanti nirvana, kebebasan, dan sebagai alternatif. Bisakah kita berkata bahwa kita memiliki pikiran yang tercemar dan terdelusi.

Ketika pencemaran dari saat sebelumnya dari kontinum dari kesadaran tertentu ini telah dieliminasi sepenuhnya, sifat sebenarnya dari kesadaran yang terpurifikasi adalah kebebasan, nirvana dan penghentian sebenarnya. Dengan kata lain, ajaran ini berkata bahwa siklus keberadaan yang sekarang ini kita alami tidaklah kekal, karena ia muncul dari sebab dan kondisi dan mereka dapat dinetralkan.

Bila kalian bertanya mengenai sebab dari siklus keberadaan: ia adalah kebodohan, konsepsi dari keberadaan sebenarnya. Dan apakah obat bagi kebodohan seperti ini? Ia adalah kebijaksanaan yang menyadari kekosongan atau kebijaksanaan yang menyadari sifat sebenarnya dari fenomena.

Sekarang, kedua kualitas ini, kebodohan, yang menyebabkan siklus keberadaan, dan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, yang merupakan penawar bagi kebodohan, tidak dapat tinggal bersamaan dalam kontinum satu manusia, karena mereka tidak bisa benar pada saat bersamaan. Walaupun keduanya mengamati obyek yang sama, modus pengertian mereka berlawanan satu sama lain. Karena itu, mereka tidak dapat tinggal dalam kontinum satu manusia dengan kekuatan yang sama. Ketika yang satu dikuatkan, yang lain dilemahkan.

Bila kalian memeriksa dua kualitas ini dengan hati-hati, kalian akan menemukan bahwa kebodohan tidak memiliki dukungan atau fondasi yang valid, kebijaksanaan yang menyadari kekosongan memilikinya. Kualitas apapun yang memiliki fondasi yang valid dapat dikuatkan dan dikembangkan tanpa batas.

Di sisi lain, karena konsepsi dari keberadaan sebenarnya tidak memiliki fondasi yang valid, karena ia menemukan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, pikiran yang valid berdasarkan penalaran yang benar, ia dilemahkan sampai dapat dieliminasi seluruhnya. Jadi, kebijaksanaan yang menyadari sifat dari fenomena akan dapat mencabut akar kebodohan, sumber dari siklus keberadaan.

Bila kita memeriksa bagaimana keterikatan dan kemarahan muncul dalam diri kita ketika pikiran kita tenang dan jernih, dengan cara apa kita menginginkan obyek, bagaimana ia nampak dalam diri kita dan bagaimana kita menggenerasikan konsepsi mengenai keberadaan yang benar terhadapnya, kita akan dapat melihat bagaimana delusi ini bangkit dalam diri kita. Walaupun kita mungkin tidak memiliki pengertian langsung, kita akan dapat mengambil asumsi yang benar.

Bagaimana keterikatan dan kemarahan mendukung konsepsi dari keberadaan yang benar? Ketika, sebagai contoh, kalian sangat marah kepada sesesorang, perhatikan bagaimana pada saat itu kalian melihat orang tersebut sebagai menjijikan, tidak menyenangkan. Kemudian seorang teman mengatakan padamu, bahwa orang tersebut tidak sepenuhnya menjengkelkan karena dia memiliki kualitas ini dan itu.

Hanya dengan mendengar kata-kata ini, kalian merubah pikiran kalian dan tidak lagi melihat orang tersebut sebagai sepenuhnya menjijikan atau tidak menyenangkan. Hal ini jelas menunjukan mulai dari awal, ketika kalian menggenerasikan keterikatan, kemarahan dan seterusnya, kecenderungan mental kita adalah melihat orang atau obyek tertentu tidak hanya sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan, tetapi sebagai sepenuhnya tidak menyenangkan atau sepenuhnya menyenangkan.

Bila seseorang menyenangkan, kalian melihatnya sebagai sepenuhnya menarik, menarik seratus persen, dan bila kalian marah kepada mereka, kalian akan melihat orang tersebut sebagai sepenuhnya tidak menarik.

Dengan kata lain, kalian melihat apapun kualitas yang mereka miliki sebagai ada secara inheren atau independen. Karena itu, modus dari pengertian fenomena sebagai ada secara inheren atau menyediakan basis yang kuat untuk kebangkitan delusi seperti keterikatan dan kemarahan.

Dari penjelasan seperti ini, kalian dapat membuat asumsi bahwa secara umum, kualitas ini, kebebasan atau nirvana, tidak ada. Ini adalah fenomena. Tidak hanya ia ada, tetapi ia adalah sesuatu yang dapat kalian capai dalam kontinum mental kalian. Bila kalian melatih diri kalian dalam praktek kembar untuk berpikir mengenai kerugian dan penderitaan dari siklus keberadaan, dan keuntungan untuk dapat menghilangkan penderitaan ini dan kemungkinan untuk mendapatkan kebebasan maka kalian akan dapat menggenerasikan tekad untuk menjadi bebas sepenuhnya dari siklus keberadaan.

Ukuran untuk Menggenerasikan Tekad untuk Bebas

Bait selanjutnya menjelaskan bagaimana mengukur apakah kalian telah menggenerasikan tekad untuk bebas dari siklus keberadaan:

Setelah mengenalkan dirimu dengan cara ini, bila kalian tidak menggenerasikan kekaguman
Bagi kemakmuran siklus keberadaan bahkan dalam sekejap,
Dan bila kalian mengharapkan kebebasan siang dan malam,
Pada saat itu kalian telah menggenerasikan tekad untuk bebas.

Bait selanjutnya menjelaskan generasi pikiran tercerahkan. Pertama-tama kebutuhan dan tujuan dari menggenerasikan altruisme dijelaskan.

Bila tekad untuk bebas ini tidak dipengaruhi oleh pikiran murni pencerahan
Ia tidak akan menjadi sebab bagi pencerahan yang tak terlewati, kebahagiaan sempurna.
Karena itu, yang pandai harus menggenerasikan pikiran tercerahkan.

Betapa kuatnya pun pengenalan kalian terhadap tekad untuk bebas dari siklus keberadaan, kecuali kalian menggenerasikan sikap altruisme, harapan yang kuat untuk memberikan manfaat bagi makhluk hidup, tidak mungkin bagi kalian untuk mencapai pencerahan. Dalam hal ini Rangkaian Berharga Nagarjuna berkata:

Akarnya adalah pikiran tercerahkan.
Untuk mengaktualisasikan pencerahan tertinggi
Bila kalian dan dunia ini berharap

Dasar dari menggenerasikan aspirasi altruisme untuk pencerahan adalah kasih sayang, dimana ada beberapa jenis. Satu jenis kasih sayang adalah untuk berpikir betapa baiknya bila makhluk hidup bebas dari penderitaan. Ada tingkat kasih sayang yang lain yang mencakup tidak hanya pikiran ini, tetapi juga keberanian yang lebih besar.

Hal ini memunculkan tekad khusus untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk menghilangkan penderitaan makhluk hidup. Bahkan Pendengar dan Buddha Penyendiri memiliki harapan kuat agar makhluk hidup terpisahkan dari penderitaan.

Seperti itu juga, kita terkadang menggenerasikan sejenis kasih sayang, yang berpikir betapa baiknya bila makhluk hidup terbebas dari penderitaan. Sebagai contoh, melihat kesedihan atau kondisi terbengkalai dari seseorang atau hewan, kita mungkin menggenerasikan rasa kasih sayang yang kuat yang berharap bahwa penderitaan dari makhluk tersebut dieliminasi.

Juga penting untuk dicatat bahwa ketika obyek dari kasih sayang kita adalah seseorang yang kita sukai simpati kita lebih berdasarkan keterikatan daripada kasih sayang. Di sisi lain, bila melihat penderitaan dari hewan yang terbengkalai, seperti anjing liar kepada siapa kalian tidak memiliki keterikatan sama sekali, kalian menggenerasikan kasih sayang, ini adalah kasih sayang yang murni.

Sekarang, kasih sayang yang digenerasikan oleh Pendengar dan Buddha Penyendiri memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada kasih sayang yang biasanya kita generasikan, karena, melihat penderitaan yang meliputi seluruh siklus keberadaan, mereka menggenerasikan kasih sayang bagi semua makhluk hidup. Tidak dapat melihat penderitaan dari semua siklus keberadaan, kita hanya melihat penderitaan dari makhluk tertentu, dimana kita melihat hanya kesalahan atau tidak adanya pahala dalam diri mereka. Akan tetapi, Pendengar atau Buddha Penyendiri tidak memiliki kasih sayang yang membuat mereka mengambil tanggung jawab untuk membebaskan makhluk hidup sendiri.

Kasih sayang yang digenerasikan oleh Bodhisattva adalah yang jenis yang tertinggi. Mereka tidak hanya berharap makhluk hidup terpisahkan dari penderitaan, tetapi dengan sukarela mengambil tanggung jawab untuk menjauhkan mereka dari penderitaan mereka. Hal ini disebut kasih sayang besar. Kasih inilah yang mendasari semua aspirasi altruisme untuk pencerahan dan yang memunculkan sikap khusus.

Untuk alasan ini kita sering menemukan pernyataan di kitab suci bahwa kasih sayang yang bertindak sebagai akar dari pikiran tercerahkan. Agar dapat menggenerasikan kasih sayang, pada satu sisi kalian harus mengidentifikasi penderitaan yang menjangkiti makhluk hidup tertentu. Di sisi lain, kalian harus menganggap makhluk tersebut menyenangkan dan dekat dihatimu.

Cara Menggenerasikan Pikiran Tercerahkan

Dibawa oleh empat sungai yang deras
Terikat dengan ikatan kuat tindakan, yang sulit dilepaskan,
Ditangkap dalam jaring besi dari konsepsi diri
Ditutupi oleh amplop kegelapan kebodohan yang tebal
Terlahir dalam siklus keberadaan yang tak terbatas

Dan dalam kelahiran mereka tak hentinya disiksa oleh tiga penderitaan:
Merenungkan kondisi ibu makhluk hidup dalam kondisi seperti ini,
menggenerasikan pikiran tertinggi

Kata-kata ibu makhluk hidup di sini menunjukan bahwa penderitaan makhluk hidup tidak seluruhnya tidak berhubungan dengan diri kalian. Mereka telah bertindak sebagai ibu kalian pada banyak kehidupan terdahulu dan telah sangat baik terhadap kalian.

Karena itu, kalian melihat mereka sebagai menyenangkan. Mengerti bagaimana ibu kalian menderita akan membuatmu merasa tidak dapat menahannya. Melalui proses mental mengenali bagaimana kalian berhubungan dekat dengan makhluk hidup kalian akan dapat menggenerasikan kasih sayang besar yang membangkitkan pikiran tercerahkan.

Bait ini berkata bahwa makhluk hidup dibawa oleh empat sungai yang deras. Keempatnya dapat merujuk pada empat sebab yang memproyeksikan makhluk hidup dalam kelahiran siklus keberadaan, dan mereka juga merujuk pada empat hasil. Tetapi, di sini, empat sungai adalah empat penderitaan yang tidak diinginkan yang kita temui dalam siklus keberadaan: yaitu kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian.

Tindakan yang kuat dan tercemar ini juga membangkitkan potensi delusi seperti kemarahan dan keterikatan. Hal ini kemudian membangkitkan konsepsi yang kuat dari (keberadaan yang benar) diri. Hal ini dibandingkan dengan jaring besi yang kuat, karenanya kita terjerat dalam siklus keberadaan.

Konsepsi yang kuat dari diri berarti ia stabil dan tak dapat digoyahkan. Lebih kuat konsepsi diri, lebih kuat delusi seperti kemarahan dan keterikatan. Dan lebih kuat delusi ini, lebih kuat tindakan yang memproyeksikan kita ke dalam siklus keberadaan. Dan lebih kuat tindakan yang memproyeksikan kita ke dalam siklus keberadaan, lebih kuat juga penderitaan kita.

Kesalahan konsepsi diri muncul karena kita telah mengaburkan semua sisi dengan kegelapan dari kebodohan. Dalam konteks ini, konsepsi yang salah dari diri telah memerangkap kita dalam siklus keberadaan yang sebenarnya merujuk pada konsepsi yang salah dari diri seseorang, karena baris selanjutnya berkata bahwa makhluk hidup kebingungan dan ditutupi oleh kegelapan tebal dari kebodohan.

Biasanya konsepsi yang salah dari diri bila merujuk pada kebodohan, tetapi ketika kita menemukan dua hal yang dijelaskan, seperti konsepsi yang salah dari diri dan kebodohan, yang pertama, konsepsi diri yang salah, merujuk pada konsepsi diri seseorang dan kebodohan dari baris selanjutnya merujuk pada konsepsi yang salah dari diri fenomena, konsepsi yang salah sebagai benar ada.

Konsepsi kita dari keberadaan fenomena yang benar, dengan kata lain, ketamakan kita akan ketertarikan terhadap tubuh fisik kita, bertindak sebagai fondasi untuk menggenerasikan banyak keterikatan terhadap diri kita.

Karena itu, konsepsi fenomena yang salah bertindak sebagai fondasi untuk konsepsi yang salah mengenai seseorang. Ketika kalian mengamati “Saya” dalam kontinum dan menggenerasikan perasaan “Saya”, konsepsi dari diri yang benar ada, yang disebut pandangan dari koleksi sementara.

Jadi, konsepsi diri fenomena yang salah menyebabkan pandakan koleksi sementara dan hal ini kemudian menstimulasikan akumulasi tindakan. Dan karena konsepsi yang salah dari diri seseorang, kita dengan tidak sukarela terlahir dalam siklus keberadaan dan pengalaman dalam waktu yang tak terhingga, rantai yang tak terputus dari kelahiran, penuaan, penyakit dan seterusnya.

Sekarang, penghentian dari hasil selanjutnya tergantung pada penghentian sebab sebelumnya. Bila sebab yang kuat telah diciptakan maka kalian akan dapat mengalami hasilnya, tidak peduli betapa ragunya kalian. Bila kalian berpikir dengan cara ini maka lebih banyak kalian tidak menyukai penderitaan kalian lebih benci kalian pada sebab mereka.

Bait ini menjelaskan dua cara untuk menggenerasikan pelepasan dan tekad untuk bebas melalui berpikir mengenai penderitaan yang benar. Ini untuk berpikir mengenai kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan dan merefleksikan asal-muasal penderitaan.

Ketika bait ini menjelaskan empat tingkatan penderitaan dan seterusnya, ia menjelaskan mengenai penderitaan sebenarnya, dan ketika ia menjelaskan faktor seperti konsepsi dari keberadaan yang benar, kebodohan dan tindakan terkontaminasi, ia menjelaskan asal-muasal penderitaan. Dengan cara ini menjelaskan dua kebenaran mulia yang pertama.

Bila kalian berpikir mengenai siklus penderitaan dan asal-muasalnya dengan referensi kepada makhluk hidup lain, hal ini akan membawa pada pelatihan dalam kasih sayang. Tetapi bila kalian berpikir mengenai penderitaan ini dan asal-muasalnya dengan referensi pada diri kalian ia akan membawa pada generasi dan tekad untuk bebas.

Kemarin kita berdiskusi mengenai tingkatan penderitaan yang berbeda-beda dan bagaimana menggenerasikan sikap altruisme yang berharap untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup. Dalam konteks ini teksnya berkata:

Melihat penderitaan ibu makhluk hidup

Pada situasi seperti ini kita harus menggenerasikan pikiran tertinggi.

Dengan kata lain kita harus mengamati penderitaan makhluk hidup dan kemudian menggenerasikan perasaan yang kuat mengenai kedekatan dan kasih sayang terhadap mereka. Lebih dekat perasaan kalian ke makhluk hidup lain, lebih baik untuk menggenerasikan perasaan tidak dapat menahan penderitaan mereka. Karena itu, kita harus melihat semua makhluk hidup sebagai keluarga kita, seperti ibu kita.

Untuk dapat menggenerasikan sikap mental dan kepedulian terhadap makhluk hidup lain, kita harus pertama-tama mengerti sifat tanpa awal dari siklus keberadaan. Makhluk hidup yang telah terlahir dalam siklus keberadaan juga tanpa awal; karena itu, tidak ada makhluk hidup yang tidak berhubungan dengan kalian sebagai keluarga seperti ibumu.

Agar dapat menggenerasikan kasih sayang yang kuat dan kedekatan kepada semua makhluk hidup, pertama-tama kalian harus menggenerasikan rasa sama rata kepada semua makhluk hidup. Berdasarkan perasaan ini kalian dapat menggenerasikan rasa persaudaraan dengan semua makhluk hidup dan memandang mereka seperti ibumu.

Kemudian, kalian akan dapat merefleksikan kebaikan makhluk hidup ini, yang sama dengan kebaikan dari keluargamu yang mendukung kalian sekarang. Ketika kalian melihat mereka seperti saudaramu dan mengingat kebaikan mereka, kalian akan dapat menggenerasikan sikap menghargai mereka, mengambil mereka ke dalam hatimu.

Metode lain untuk menggenerasikan sikap altruisme adalah untuk menukar diri kalian dengan orang lain. Hal ini mungkin karena semua makhluk hidup adalah sama seperti kalian dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Mereka juga sama seperti kalian dalam memiliki kapasitas dan kesempatan untuk menghilangkan penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan. Seperti kalian, semua makhluk hidup memiliki hak untuk mengeliminasi penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan maksimum.

Walaupun kalian semua adalah sama dari sudut pandang ini, semua makhluk hidup tak terhingga. Dan kalian tidak berhubungan dengan mereka karena dalam bahasa duniawi kalian sangat tergantung pada mereka. Bahkan bila kalian bermeditasi mengenai jalan kalian melakukan hal ini dengan berfokus pada makhluk hidup.

Akhirnya, pencerahan terakhir diketahui sebagai pencapaian yang tanpa usaha dan spontan dari makhluk makhluk lain dicapai dengan tergantung pada mereka. Karena itu, kita berhubungan dan tergantung pada makhluk hidup ketika kita berada dalam siklus keberadaan, pada saat jalan dan akhirnya pada saat berbuah.

Sekarang, melihat bahwa kalian memiliki hubungan dekat ini dengan semua makhluk hidup, bodoh untuk tidak mempedulikan kesejahteraan mereka untuk mengejar kepentingan hanya satu makhluk – dirimu. Di sisi lain, bijaksana untuk meninggalkan kepentingan seseorang untuk memberikan manfaat bagi mereka yang merupakan mayoritas makhluk hidup.

Semua kesenangan dan fasilitas yang kita nikmati dalam hidup ini, seperti kekayaan, hak milik, ketenaran dan persahabatan, semuanya didapat dengan ketergantungan pada makhluk lain. Kita tidak dapat berpikir menikmati apapun dengan usaha kita sendiri tanpa pertolongan mereka. Dalam zaman modern ini khususnya, semua yang kita nikmati, makanan, pakaian dan semua hal lain, dihasilkan dari berbagai perusahaan manifaktur dimana orang lain bekerja. Hampir tidak ada yang ditumbuhkan atau diproduksi dalam taman kecil kalian.

Kita makan buah kalengan yang diproduksi oleh tangan-tangan manusia lain. Ketika kita berpergian dengan pesawat terbang, kita tergantung pada pekerjaan dan fasilitas yang diberikan oleh banyak orang yang terlibat dalam menjalankan pesawat. Dalam masyarakat modern kita tidak berpikir untuk bertahan tanpa tergantung pada manusia lain.

Seperti itu juga, tanpa orang lain kalian tidak akan memiliki reputasi atau ketenaran. Walaupun kalian memiliki kualitas tertentu yang merupakan dasar dari ketenaran dan reputasi, bila orang lain tidak mengetahui mengenai hal ini, kalian tidak akan terkenal.

Bila kalian berpikir dengan hati-hati, bahkan musuhmu, yang biasanya kalian lihat sebagai lawan dan tidak kalian sukai sepenuhnya, memberikan kalian menggenerasikan banyak kualitas seperti kesabaran, keberanian dan kekuatan. Ada ajaran dari Shantideva dalam bab-nya mengenai kesabaran yang terkait di sini mengenai bagaimana menggenerasikan kesabaran dengan hormat kepada lawanmu dan untuk menganggapnya sebagai berharga.

Hal ini terutama penting bagi praktisi Buddha. Bila kalian dapat melihat bagaimana kalian mendapatkan kualitas seperti ini dari musuhmu, kalian juga akan dapat menggenerasikan perasaan yang baik terhadap mereka.

Bila kalian dapat menggenerasikan pikiran positif terhadap musuh kalian, yang biasanya merupakan obyek penghinaan, kalian tidak akan mendapatkan masalah dalam menggenerasikan perasaan peduli terhadap makhluk netral atau tentu saja kepada sahabatmu.

Agar dapat menggenerasikan sikap mental seperti ini, kalian tidak perlu mengenal semua makhluk hidup secara individu. Kalian dapat sebagai contoh, menyimpulkan bahwa semua pohon memiliki karakter yang sama dari kualitas satu pohon tanpa harus mengetahui setiap pohon individu.

Seperti itu juga, kalian dapat menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup adalah sama dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan, dengan memeriksa situasi kalian sendiri. Dengan melakukan hal ini kalian juga dapat dengan mudah menggenerasikan kasih sayang, yang merupakan aspirasi yang memikirkan betapa baiknya bila semua makhluk hidup dapat menghilangkan penderitaan.

Bila kalian dapat menggenerasikan pengertian yang jelas mengenai penderitaan makhluk hidup, kalian juga akan dapat menggenerasikan cinta, yaitu berpikir betapa baiknya bila semua makhluk hidup bertemu dengan kebahagiaan.

Berdasarkan kedua aspirasi ini – cinta dan kasih – kalian akan menggenerasikan sikap khusus untuk mengambil tanggung jawab menghilangkan penderitaan ini sendiri dan hal ini akan memunculkan pikiran yang berharap untuk mendapatkan pencerahan tertinggi demi semua makhluk hidup yang disebut pikiran tercerahkan. Cara untuk mengukur generasi pikiran tercerahkan dan tekad untuk bebas telah dijelaskan sebelumnya.

Perlunya Menyadari Kekosongan

Mulai dari poin ini, teks ini menjelaskan mengenai sifat dari kekosongan dan kebijaksanaan yang menyadarinya. Bait pertama menjelaskan perlunya menggenerasikan kebijaksanaan yang menyadari sifat kekosongan. Ada berbagai jenis kebijaksanaan: kebijaksanaan yang mengerti fenomena konvensional seperti berbagai sains dan kebijaksanaan yang mengerti sifat sebenarnya dan terakhir dari fenomena.

Bila kalian tidak memiliki kebijaksanaan yang menyadari modus terakhir dari keberadaan, tidak peduli betapa kuatnya tekad kalian untuk bebas atau aspirasi kalian untuk tercerahkan, kalian tidak akan dapat merubah konsepsi dari keberadaan yang sebenarnya, akar dari sebab siklus keberadaan. Karena itu, kalian akan dapat berusaha untuk menyadari saling ketergantungan.

Tanpa kesadaran yang menyadari modus keberadaan
Walaupun kalian mengenali dengan tekad
untuk bebas dan pikiran tercerahkan
Akar dari siklus keberadaan tidak dapat dipotong.
Karena itu, berusahalah untuk menyadari saling-ketergantungan.

Penjelasan umum dari makna saling ketergantungan seperti saling ketergantungan dari sebab dan akibat diterima oleh semua tradisi Buddha. Tetapi bait ini merujuk pada ketergantungan yang halus; sesuatu yang ada dan tergantung dari bagiannya.

Dengan kata lain, ada hubungan yang terkondisi dimana efek khusus atau fenomena bangkit hanya dengan ketergantungan dalam sebab dan kondisi khusus. Makna lain dari ketergantungan adalah keberadaan dari hal-hal yang relatif terhadap yang lain. Sebagai contoh, ketika kita berbicara mengenai keseluruhan tubuh, kita menyebutnya bagian sehubungan dengan keseluruhan, seperti itu juga utuh hanya utuh sehubungan dengan bagian.

Dari sudut pandang ini bagian dan utuh berhubungan dengan dan tergantung satu sama lain. Seperti itu juga, kualitas seperti panjang dan pendek adalah relatif, karena kita menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan obyek sehubungan dengan obyek lain.

Tingkat lain dari fenomena juga disebut ketergantungan karena mereka bangkit sehubungan dengan dasar dari tujuan mereka dan mereka tergantung pada pikiran yang merujuk pada mereka. Makna pertama dari ketergantungan relevan hanya untuk fenomena yang terkondisi, dimana dua makna terahir relevan untuk fenomena, fenomena yang terkondisi dan tidak permanen dan fenomena permanen yang tak terkondisi.

Ketergantungan yang dirujuk dalam baris ini adalah yang paling halus, dimana dijelaskan dia ada dalam nama dan rujukan oleh pikiran. Dengan kata lain ketika kita berkata bahwa fenomena ada melalui kekuatan kata-kata dan rujukan tergantung pada rujukan, kita menjelaskan ketergantungan seperti penampakannya, hanya ada karena kekuatan nama.

Dari sudut pandang terakhir ada kekosongan dari keberadaan inheren. Hal ini berarti bahwa karena fenomena tidak ada dari sisinya sendiri, ia tidak memiliki keberadaan yang inheren dan tergantung pada kondisi lain. Di sini kondisi lain merujuk pada rujukan dan pikiran yang merujuk.

Fenomena ada karena kekuatan dari rujukan dan hal ini kosong dari keberadaan yang memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, karena ia tidak memiliki keberadaan yang independen, ia ada melalui kekuatan rujukan.

Jadi ini adalah penjelasan dari kekosongan halus. Ketika kita berbicara mengenai makna dari kekosongan, kita berbicara megnenai sesuatu yang kosong dari obyek negasi. Fenomena adalah kosong dari keberadaan yang independen, keberadaan inheren, dan keberadaan dari sisinya.

Ketiganya: keberadaan independen, keberadaan inheren, keberadaan dari sisinya sendiri adalah obyek negasi. Kekosongan karena itu berarti kosong dari obyek negasi. Hal ini dikatakan karena fenomena tergantung pada hal lain; mereka tergantung pada nama dan pikiran dimana mereka dirujuk.

Ketika kita menjelaskan bahwa mereka tergantung pada bagian mereka, nama dan rujukan, kita juga menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keberadaan inheren, karena ketergantung dan independen adalah kata yang berlawanan. Fenomena tergantung atau independen, mereka tidak bisa menjadi keduanya. Karena kedua kata ini tidak berhubungan, sebuah fenomena hanya bisa menjadi yang satu atau yang lain; ia tidak bisa menjadi sesuatu diantara.

Sebagai contoh, manusia dan kuda adalah berlawanan tetapi bukan lawan langsung, karena bisa ada kategori ketiga, seperti anjing, yang bukan merupakan kuda atau manusia. Tetapi manusia dan bukan manusia adalah lawan langsung bila kita berkata bahwa hanya ada dua kategori fenomena, mereka yang manusia atau bukan manusia, tidak bisa ada kategori ketiga. Jadi melalui penalaran dari ketergantungan, tidak adanya keberadaan inheren dapat ditetapkan.

Ketika kita menggunakan kata kekosongan, ada beberapa kemiripan dengan ide kita mengenai tidak adanya sesuatu atau kekosongan. Tetapi bila kalian berpikir bahwa kekosongan hanya merupakan tidak adanya keberadaan inheren. Karena mereka tidak memiliki keberadaan yang inheren, fenomena tidak memiliki keberadaan yang independen, tetapi mereka ada.

Pengertian akan kekosongan ini bisa didapat melalui pengertian dari makna ketergantungan, karena ketergantungan berarti fenomena tergantung pada sesuatu yang lain. Mereka tidak ada secara independen atau mereka tidak ada dari sisinya sendiri. Bila fenomena ada karena tergantung pada sesuatu yang lain, hal ini jelas menunjukan bahwa mereka ada.

Terkadang kekosongan dijelaskan sebagai makna dari jalan tengah, yang berarti pusat yang telah mengeliminasi dua ekstrim. Satu ekstrim adalah untuk berpikir bila fenomena tidak ada secara inheren, mereka tidak ada sama sekali – ekstrim nihilisme. Yang lain adalah berpikir bahwa bila fenomena ada, mereka akan ada secara inheren – ekstrim dari eternalisme.

Bila kita memiliki pengertian yang baik akan kekosongan, pada satu sisi kita akan mengerti bahwa, karena fenomena ada tergantung pada pikiran dan nama dan seterusnya, mereka memiliki keberadaan nominal, yaitu mereka tidak ada. Hal ini menghindari ekstrim nihilisme.

Di sisi lain, bila kalian berpikir mengenai bagaimana fenomena ada tergantung pada pikiran dan nama, maka jelas mereka tidak memiliki keberadaan yang independen. Hal ini menghindari ekstrim eternalisme. Bila ini adalah sesuatu yang tidak ada sama sekali, maka hal ini tergantung pada sesuatu yang tidak masuk akal. Bait selanjutnya mengklarifikasi poin ini.

Seseorang yang melihat sebab dan akibat yang sempurna
Dari semua fenomena dalam siklus keberadaan dan selebihnya
Dan menghancurkan semua persepsi (mengenai keberadaan inheren)
Telah memasukan jalan yang menyenangkan para Buddha.

Hal ini berarti bila kalian dapat dengan jelas menegaskan kesempurnaan dari saling ketergantungan, sehingga kalian dapat menggenerasikan kepastian mengenai hal ini, dan bila, tanpa mencelakakan presentasi dari saling ketergantungan, kalian akan dapat menghancurkan persepsi bahwa hal-hal ada secara inheren, maka kalian telah memasuki jalan yang menyenangkan para Buddha.

Dua baris pertama menjelaskan bahwa seseorang yang melihat sebab dan akibat, dalam dan di luar siklus keberadaan, sebagai sempurna, yang dapat menempatkan kebedaran dan fungsi aktual sebab dan akibat, daripada ketiadaan mereka, dapat mengeliminasi ekstrim nihilisme.

Dua baris selanjutnya menjelaskan bahwa melalui pengertian dari fungsi sebab dan akibat, kalian akan dapat mengerti bahwa walaupun hal-hal ada, mereka tidak ada secara independen atau inheren, kalian akan dapat merusak konsepsi bahwa hal-hal ada secara inheren.

Jadi baris ini menjelaskan bahwa walaupun sebab dan akibat berfungsi, mereka tidak berfungsi dengan cara yang inheren. Bahkan keberadaan inheren adalah obyek negasi dan ini adalah apa yang harus dihancurkan oleh persepsi yang benar. Hal ini mengeliminasi ekstrim permanen.

Secara umum, keseluruhan ajaran Buddha dapat digolongkan di bawah empat pernyataan: semua fenomena terkondisi adalah tidak kekal, semua hal-hal yang terkontaminasi adalah penderitaan, semua fenomena adalah kosong dan tidak memiliki keberadaan-diri, dan nirvana adalah kedamaian. Dari keempatnya, jelas bahwa kebanyakan sekolah prinsip Buddha, dengan pengecualian dari beberapa sub-sekolah seperti Vatsiputriya, menerima penjelasan tidak adanya diri.

Tidak adanya diri yang diterima oleh semua empat sekolah prinsip yang berbeda adalah tidak adanya pendukung diri atau orang yang independen. Makna dari tidak adanya orang yang independen atau substansial adalah tidak ada orang yang independen sepenuhnya dari agregat mental dan fisik.

Bila kalian memandang agregat mental dan fisik sebagai subyek yang dikendalikan oleh orang sebagai pengendali, dan kalian memandang pengendali ini, orang, sebagai sesuatu yang independen dari agregat ini, kalian akan menjaga pandangan keberadaan substansial dari orang yang independen.

Semua empat sekolah prinsip Buddha menerima bahwa tidak ada orang yang independen dari agregat mental dan fisiknya. Pengertian ini melemahkan kerinduan kita akan seseorang, yang menikmati kebahagiaan dan penderitaan, untuk menjadi sesuatu yang solid, tetapi sepertinya hal ini tidak terlalu efektif dalam melemahkan keterikatan, kemarahan dan seterusnya, hal ini digenerasikan dengan mengamati obyek kenikmatan lain. Secara umum, keterikatan, kebencian dan seterusnya, yang digenerasikan sehubungan dengan diri kita adalah lebih kuat, jadi kita berpikir obyek kenikmatan saya, keluarga saya, dan rosari saya.

Bila obyek kenikmatan bukan milik kalian, maka kalian tidak memiliki rasa yang kuat sebagai orang yang independen, tetapi bila kalian memiliki sesuatu, maka perasaan ini lebih kuat. Hal ini jelas bila kalian membandingkan dua sikap sebelum dan sesudah membeli sesuatu, katakan saja arloji.

Pertama-tama kalian membelinya, kemudian kalian mulai berpikir, “ini adalah arloji saya” dan “ini adalah pakaian saya” dan seterusnya. Jadi karena perasaan “milik saya”, perasaan memiliki benda tersebut, kalian menggenerasikan perasaan kuat mengenai orang dimana benda itu dimiliki.

Orang seperti ini disebut orang yang ada secara independen. Bila kalian berbicara mengenai ketiadaan dari diri yang independen dan substansial, kepada orang yang memiliki perasaan kuat sebagai orang seperti ini, ia akan membantu mengurangi keterikatan mereka kepada benda milik mereka.

Di samping penjelasan dari ketiadaan diri seseorang, ketika kita belajar di sekolah prinsip tertinggi, ada Hanya Pikiran dan sekolah Jalan Tengah, kita menemukan penjelasan yang lebih halus dari ketiadaan diri tidak hanya orang, tetapi juga fenomena.

Dengan hormat kepada penjelasan sekolah Pikiran Saja, ketika kita menghubungkan obyek kenikmatan yang berbeda-beda, seperti bentuk, dan suara, mereka nampak kepada kita karena bangkitnya jejak pada kesadaran kita.

Jadi, menurut penjelasan Pikiran Saja, semua fenomena yang beragam nampak pada kita dan kita mengalami dan menikmati mereka karena bangkitnya jejak yang ditinggalkan pada pikiran. Dengan kata lain, semua fenomena adalah sifat pikiran dan tidak memiliki keberadaan eksternal.

Ini adalah satu penjelasan dari makna kekosongan, dan merupakan cara untuk mengurangi keterikatan terhadap obyek kenikmatan. Tetapi penjelasan Jalan Tengah adalah tidak ada fenomena, apakah manusia, yang menikmati, atau obyek kenikmatan, ada secara inheren dari sisi mereka sendiri, karena mereka dirujuk oleh pikiran. Pikiran merujuk pada nama dan kemudian fenomena menjadi sesuatu. Fenomena tidak memiliki keberadaan dari sisi mereka sendiri, daripada makhluk yang dirujuk oleh kata dan pikiran.

Menurut penjelasan ini, semua fenomena memiliki karakter dan sifat masing-masing, tetapi semua karakteristik dari fenomena spesifik ada tergantung pada hal lain, mereka tidak memiliki modus keberadaan spesifik dari pikiran mereka sendiri.

Penjelasan yang paling halus ditemukan pada sekolah Jalan Tengah Konsekuensialis, yang mengatakan bahwa walaupun ada hal-hal seperti bentuk, suara, gunung, rumah, dan seterusnya yang dapat kita tunjuk, mereka tidak ada dengan cara kita biasanya mempersepsikan mereka. Biasanya fenomena nampak pada kesadaran kita seperti bila mereka ada dari sisinya, tetapi Konsekuensialis berkata fenomena tidak ada dari sisi mereka sama sekali. Mereka hanya memiliki keberadaan konvensional dan nominal.

The subtlest explanation is found in the Middle Way Consequentialist school, which says that although there are things like form, sound, mountain, house and so forth that we can point to, they do not exist in the way we ordinarily perceive them. Usually phenomena appear to our consciousness as if they existed from their own side, but the Consequentialists say phenomena do not exist from their own side at all. They have only a conventional and nominal existence.

Ketika kita mencoba untuk menganalisa dan menguji sifat fenomena yang telah kita persepsikan, kita tidak dapat menemukan mereka, melainkan mereka menghilang. Hal ini menunjukan bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheren dan tidak ada dari sisi mereka.

Menurut Sekolah Otonomi ukuran untuk membuktikan bahwa hal-hal ada, keberadaan dari sisi mereka. Tetapi Konsekuensialis berkata bahwa hal-hal tidak ada dari sisi mereka sama sekali, karena mereka hanya dirujuk oleh pikiran. Bagi mereka keberadaan fenomena dari sisi mereka adalah obyek negasi dan tidak adanya keberadaan inheren atau keberadaan dari sisi mereka adalah makna dari kekosongan.

Bila kalian dapat mempersepsikan sifat sebenarnya dari fenomena dengan menyadari bahwa mereka tidak ada secara inheren, tetapi tergantung pada sebab dan kondisi, seperti rujukan nama dan pikiran, kalian akan memasuki jalan yang menyenangkan Buddha. Biasanya ketika sebuah obyek, bentuk atau suara, nampak kepada kita, hal ini menunjukan bahwa ia memiliki keberadaan yang independen atau solid tidak tergantung pada sebab, kondisi, nama, pikiran dan seterusnya. Tetapi ini bukanlah modus keberadaan yang sebenarnya.

Karena itu, bila kalian mengerti bahwa keberadaan mereka tergantung pada hal-hal dan karena itu kalian mengeliminasi kesalah-pahaman bahwa fenomena ada secara independen, kalian telah mengerti jalan yang benar.

Di sisi lain, kalian mungkin berpikir mengenai bagaimana semua fenomena nampak dan kesempurnaan dari ketergantungan mereka, tetapi tidak dapat menggenerasikan kesadaran bahwa mereka kosong dari keberadaan inheren, atau ketika kalian berpikir mengenai kekosongan fenomena atau ketiadaan keberadaan inheren mereka, kalian mungkin tidak dapat menerima kesempurnaan dari ketergantungan mereka.

Ketika kalian harus melihat dua pengertian ini secara bergantian dan tidak dapat memikirkan mereka secara bersamaan, kalian belum menyadari pikiran sang Buddha. Seperti yang dikatakan bait berikut,

Penampakan adalah ketergantungan yang sempurna;
Kekosongan adalah bebas dari pernyataan.
Selama kedua pengertian ini dilihat sebagai terpisah,
Seseorang belum menyadari maksud dari sang Buddha.

Walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, mereka memiliki keberadaan nominal. Ketika kita melihat refleksi dari wajah kita di cermin, refleksi ini bukanlah wajah itu sendiri.

Dengan kata lain, refleksi adalah kosong dari wajah yang sebenarnya, karena ini hanya refleksi dan bukan wajah sebenarnya sama sekali. Walaupun refleksi wajah bukan wajah, karena kumpulan sebab dan kondisi, refleksi dari wajah ada. Refleksi adalah kosong dari wajah yang sebenarnya dan akan tetapi ia di sana. Ini dihasilkan dari sebab dan kondisi dan akan terdisintegrasi karena sebab dan kondisi.

Seperti itu juga, fenomena memiliki keberadaan nominal, walaupun semua fenomena nampak ada secara inheren, tidak ada fenomena yang ada dari sisinya sendiri atau seperti penampakan mereka kepada kita. Akan tetapi, mereka memiliki keberadaan nominal yang memberikan hasil, ia fungsional dan aktivitasnya sempurna.

Pada saat ketika dua kesadaran bersamaan
Dan tidak harus bergantian,
Hanya dari pandangan sempurna ketergantungan datang kepastian
Yang menghancurkan semua modus ketamakan seluruhnya.
Pada saat itu, analisa dari pandangan yang dalam adalah lengkap.

Bila kalian mengenalkan pikiran kalian dengan hal ini, ada waktu dimana kalian tidak harus melihat dua pengertian ini secara bergantian dari makna ketergantungan dan kekosongan keberadaan inheren. Kemudian kalian akan mengerti makna dari kekosongan keberadaan inheren, hanya dengan mengerti makna dari ketergantungan tanpa mengandalkan alasan lain.

Hanya dengan melihat ketergantungan sebagai sempurna, kalian akan dapat menghancurkan miskonsepsi mengenai keberadaan sebenarnya dari fenomena tanpa mengandalkan kondisi yang lain. Ketika kalian dapat menggenerasikan pengertian dari ketergantungan atau kekosongan dari keberadaan inheren sebagai memiliki makna yang sama, kalian akan mendapatkan pengertian yang lengkap dari pandangan sifat sebenarnya fenomena.

Sekarang, kita akan melengkapi sisa teks Tiga Aspek Utama Jalan. Ketika kita berpikir mengenai fenomena yang tidak memiliki keberadaan inheren, kita harus memulai investigasi kita dari diri kita dan mencoba menemukan apakah “Saya” adalah orang yang memiliki keberadaan inheren atau tidak.

Temukan siapa orang ini dan pisahkan agregat fisik dan kesadaran dengan bertanya apakah otak saya adalah saya, atau tangan saya adalah saya, atau apakah bagian lain dari tubuh adalah saya. Ketika menganalisa dengan cara ini, kemudian “Saya” tidak ditemukan. Kalian tidak mengidentifikasi “Saya” dengan faktor-faktor ini, bukan tubuh fisik utuh, atau bagiannya atau kesadaran dan berbagai tingkatan.

Bila kalian berpikir mengenai tubuh fisik itu sendiri dan mencoba menemukan apa itu, apakah itu adalah tangan dan seterusnya, ia tidak akan dapat ditemukan. Seperti itu juga, bila kalian menganalisa meja tertentu untuk menemukan apa itu, apakah itu adalah warnanya atau bentuknya atau kayu bahan membuat meja tersebut, kalian tidak akan dapat menunjuk pada kualitas tertentu dari meja sebagai meja.

Ketika kalian tidak dapat menemukan hal-hal melalui modus analisa ini, ia tidak berarti tidak ada. Hal ini akan melawan alasan dan pengalaman kalian. Tidak ditemukannya fenomena ini dibawah pengamatan mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki keberadaan obyektif dari sisi mereka dan mereka tidak ada seperti yang ditempatkan atau dirujuk oleh pikiran. Tidak ada cara lain untuk menempatkan mereka.

Karena mereka tidak memiliki keberadaan obyektif yang independen dari pikiran, keberadaan mereka adalah tergantung pada kekuatan obyek, rujukannya. Karena itu, fenomena memiliki keberadaan konvensional dan nominal.

Tetapi ketika kalian tidak menganalisa atau bereksperimen atau mempelajari dengan cara khusus dan fenomena nampak kepada kalian dengan cara mereka yang biasa, mereka nampak ada secara independen dari sisi mereka. Hal ini tidak nampak kepada kalian bahwa mereka hanya memiliki keberadaan nominal atau konvensional.

Tetapi karena kalian memiliki pengertian tertentu melalui analisa dan pelajaran, ketika hal-hal yang biasanya nampak kepada kalian sebagai ada secara independen, kalian akan dapat berpikir, “Walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, bagi pikiran saya yang tidak murni, mereka nampak ada secara independen dan inheren.”

Dengan kata lain, bila sebagai akibat kalian belajar kalian membandingkan modus penampakan biasa fenomena dan cara hal-hal nampak di bawah pengamatan, kalian akan mengerti cara yang salah dimana fenomena nampak ketika kalian tidak menganalisa mereka dan kemudian kalian akan dapat mengidentifikasi obyek negasi, keberadaan inheren.

Karena itu, ketika kalian berada dalam sesi meditasi aktual, penting untuk memastikan melalui penalaran bahwa hal-hal ada hanya dari rujukan dan tidak dari keberadaan independen dari sisi mereka. Akan tetapi, segera setelah kalian bangkit dari meditasi, hal-hal akan nampak dengan cara yang biasa.

Kemudian, karena pengertian yang kalian generasikan pada saat sesi meditasi, walaupun fenomena nampak seperti bila mereka ada secara inheren atau independen, kalian akan dapat mengkonfirmasi bahwa walaupun mereka nampak dengan cara ini, hal ini bukan bagaimana mereka ada.

Dari sudut pandang ini bait selanjutnya berkata:

Dan juga, keberadaan ekstrim dieliminasi dengan penampakan
Dan ekstrim ketiadaan dieliminasi dengan kekosongan
Dan bila modus dari bangkitnya sebab akibat dari kekosongan diketahui,
Kalian tidak akan tertarik dengan pandangan yang ekstrim.

Hal ini berarti bahwa bila kalian dapat mengerti semua fenomena ada secara konvensional, kalian akan dapat mengeliminasi ekstrim permanen, dan bila dengan mengerti bahwa hal-hal tidak memiliki keberadaan inheren, kalian akan dapat mengeliminasi ekstrim nihilisme total atau pemusnahan.

Dengan kata lain, kalian akan mengerti sifat fenomena, bahwa mereka ada secara konvensional dan nominal tetapi tidak memiliki keberadaan inheren. Karena mereka tidak ada secara inheren, hal-hal muncul pada kita sebagai sebab dan akibat. Bila kalian dapat menggenerasikan pengertian dari modus keberadaan seperti ini, kalian tidak akan dikalahkan atau tertarik dengan pandangan yang salah dari dua ekstrim, yaitu permanen dan nihilisme.

Akhirnya, bait kesimpulan berbunyi:

Karena itu ketika kalian menyadari yang esensial
Sesuai dengan tiga aspek utama jalan
Mencari kesendirian dan menggenerasikan kekuatan usaha,
Dan segera mengaktualisasikan maksud terakhir kalian, putraku.

Nasihat terakhir ini tidaklah cukut untuk dimengerti secara harafiah. Setelah mengerti makna dari tiga aspek utama jalan, adalah tanggung jawab kalian untuk menyendiri di tempat yang tenang dan mempraktekan mereka dengan tulus.

Setelah mengerti makna dari praktek, kalian harus terlibat dengannya dengan jernih karena tujuan dan maksud dari belajar adalah pencapaian maha tahu, tetapi hal ini hanya dapat didapat melalui praktek. Jadi Jey Tsongkhapa menasihati kita untuk berpraktek dengan baik.

Karena itu, seperti yang dijelaskan di atas, pertama-tama dapatkan pengertian mengenai pandangan fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, kemudian, berulang kali, kenalkanlah pikiranmu dengan pengertian sehingga melalui pengenalan keyakinan kalian menjadi lebih jelas, dalam, dan stabil.

Lebih jauh lagi, karena pikiran kita sekarang dipengaruhi dengan gangguan dan kegembiraan, sulit untuk berfokus dengan tenang pada satu obyek bahkan untuk waktu singkat. Di bawah kondisi seperti ini bahkan bila kalian menyadari pandangan yang utama sulit untuk bermanifestasi.

Agar dapat memiliki persepsi langsung akan kekosongan, penting untuk mengembangkan pikiran yang tenang melalui meditasi. Ada dua teknik untuk melakukan hal ini: Yang satu sesuai dengan penjelasan yang kalian temukan di sutra, dan yang lain, apa yang kalian temukan di tantra, mengandalkan dewa yoga.

Metode yang kedua lebih mendalam. Dalam tantra juga, ada dua tingkat, menurut dewa yoga yang ditemukan dalam kelas tantra rendah dan dalam kelas tantra yang lebih tinggi.

Dalam Tantra Yoga Tertinggi ada modus khusus untuk melakukan dewa yoga dan mendapatkan ketenangan pikiran dengan menggunakan angin halus dan pikiran halus. Ketika kalian mengaktualisasikan pikiran yang tenang melalui proses ini, yang dikenal sebagai persatuan dari ketenangan dan pandangan khusus mengenai kekosongan dicapai.

Bila kita menjelaskan persatuan dari pandangan khusus dan ketenangan hanya menurut sifat dari kestabilan meditasi, tidak ada kepastian bahwa ini akan menjadi sebab pencerahan. Tidak diragukan karena pencapaian pandangan yang khusus adalah praktek Buddha tetapi kurang pasti bahwa hanya dari persatuan ketenangan dan pandangan khusus akan menjadi sebab pencerahan.

Apakah ini akan menjadi sebab kebebasan atau maha tahu tergantung dari motivasinya. Karena itu kita memerlukan tekad untuk bebas dari siklus keberadaan, sebagai fondasi, dan kemudian, berdasarkan kepedulian untuk memberi manfaat bagi semua makhluk hidup, dengan aspirasi altruisme untuk mencapai pencerahan. Bila kalian kemudian mempraktekan yoga persatuan pandangan khusus dan ketenangan, ia akan menjadi kekuatan yang aktif untuk mencapai pencerahan.

Agar supaya praktek seperti ini bermanfaat, penting bagi kalian untuk pertama-tama menerima ajaran tantrik. Agar dapat mencapai ajaran tantrik untuk mematangkan kontinum mental kalian, kalian harus menerima inisiasi untuk membuat pikiran kalian subur. Karena itu, penting untuk mempraktekan kombinasi metode dan kebijaksanaan.

Ketika kita terlibat dalam aspirasi altruisme untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup, ia akan mempengaruhi dan mendukung pandangan pengertian dari sifat sebenarnya fenomena, dan kemudian kesadaran kita akan kekosongan, sifat sebenarnya dari fenomena, juga akan mempengaruhi dan mendukung aspirasi kita demi pencerahan. Modus praktek ini dikenal sebagai persatuan dari metode dan kebijaksanaan.

Ketika kalian mengikuti jalan tantrik, pertama-tama kalian menggenerasikan pikiran yang berharap untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup, dan kemudian mempengaruhi aspirasi altruisme ini, menggenerasikan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, sifat sebenarnya dari fenomena, dan atas dasar kesadaran ini menggenerasikan dewa.

Bila kalian berfokus lagi pada sifat dewa tersebut, kalian akan menemukan bahwa bahkan dewa tidak ada dari sisinya sendiri. Kemudian, kalian memvisualisasikan Tubuh Kebenaran yang akan kalian dapatkan ketika kalian mendapatkan pencerahan.

Jadi teknik meditasi mengenai kedua metode dan kebijaksanaan ini sangatlah penting dan mencakup meditasi mengenai lingkaran ekstensif sang dewa dan juga mengenai kekosongan yang mendalam. Persatuan dari kedua metode dan kebijaksanaan ini adalah kekosongan. Persatuan dari kedua metode dan kebijaksanaan ini terlibat dalam praktek tantrik ini, karena pada satu sisi kalian berpikir mengenai sifat dari dewa itu sendiri, yang memvisualisasikan sifat sebenarnya dari fenomena, dan kemudian pada sisi lain kalian berpikir mengenai dewa sendiri sebagai Tubuh Kebenaran yang akan kalian dapatkan ketika kalian tercerahkan, yaitu untuk berpikir mengenai obyek dari pencapaian kalian. Jadi ini juga adalah meditasi mengenai aspirasi pencerahan.

Melalui proses dewa yoga ini, kalian mempraktekan metode dan kebijaksanaan pada saat yang sama. Inilah yang membuat jalan ini sangat cepat dan sukses. Ketika kalian mengikuti Tantra Yoga Tertinggi khususnya, ada teknik untuk memanifestasikan angin dan kesadaran terhalus. Melalui teknik khusus kalian akan dapat menghentikan tingkat angin dan kesadaran yang lebih kasar dan tercemar dan membuat tingkat terhalus mereka bermanifestasi.

Apakah kalian mengikuti jalan sutra atau tantra, bila kalian ingin mempraktekan dengan cara ini, pertama-tama kalian harus membuat fondasi yang solid dalam praktek moralitas atau murid.

Ada banyak tingkatan disiplin yang diamati, mulai dari disiplin emansipasi individu, yang seperti fondasi dari semua tingkat disiplin yang lebih tinggi. Hal ini terkadang merujuk pada disiplin dari Pendengar, dan atas dasar ini kalian menggenerasikan disiplin Bodhisattva, atas dasar dimana kalian menggenerasikan disiplin Mantra.

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah Yang Mulia akan mengklarifikasi apakah tekad untuk mencapai kebebasan tidak berhubungan sama sekali dengan konsepsi keberadaan yang benar atau konsepsi dari fenomena sebagai ada secara inheren?

Biasanya, ketika kita berbicara mengenai menggenerasikan harapan yang kuat untuk bebas dari siklus keberadaan, pikiran yang berharap untuk mendapatkan kebebasan, dengan rujukan kepada seseorang yang telah mengerti melalui belajar bahwa ada hal seperti kebebasan dan ini adalah sesuatu yang dapat dicapai, yang memiliki pengertian yang dalam berdasarkan, penalaran, maka kita dapat berkata bahwa harapannya untuk mendapatkan kebebasan tidak tercemar oleh konsepsi keberadaan yang benar atau konsepsi fenomena yang ada secara inheren. Hal ini karena orang tersebut biasanya dapat memiliki kognisi yang valid dari kebebasan hanya setelah menyadari kekosongan.

Bila kalian mengerti makna kekosongan, kemudian walaupun kalian tidak dapat mencabut akar konsepsi dari keberadaan yang benar seluruhnya, kebebasan yang harus ditetapkan atau jalan yang menetapkan hal ini tidak terpolusi oleh konsepsi keberadaan yang benar.

Karena itu, kita dapat berkata bahwa harapan untuk mendapatkan kebebasan tidak dibantu oleh konsepsi dari keberadaan yang benar atau konsepsi fenomena sebagai ada secara inheren.

Akan tetapi, dalam kasus makhluk biasa seperti kita, yang tidak memiliki pengertian yang benar dan otentik mengenai modus keberadaan kebebasan, tetapi hanya berharap mendapatkannya, sementara tidak ada keraguan bahwa harapan ini tulus, karena tidak mengerti sifat sebenarnya dari fenomena, kita mungkin melihat kebebasan itu sendiri sebagai ada secara inheren.

Dengan kata lain, tidak memiliki pengertian yang baik akan fenomena yang tidak memiliki keberadaan inheren, harapan untuk mencapai kebebasan terpolusi dengan konsepsi dari keberadaan yang benar.

Dalam bait sutra sang Buddha berkata bahwa bila melihat rupa ilusi dari seorang wanita cantik kalian merasakan gairah terhadapnya, bodoh untuk menyesali hal ini setelahnya ketika kalian menyadari bahwa dia hanyalah ilusi, karena tidak ada wanita di sana sejak awal.

Seperti itu juga, bila kalian berpikir bahwa kebebasan benar ada, walaupun sebenarnya dia tidak ada, maka benar bila dikatakan bahwa aspirasi kalian terhadap kebebasan tidak otentik

Apakah kita bisa menggunakan kata seperti kebahagiaan dalam kebebasan?

Ya, tentu saja, karena ketika kita mendapatkan kebebasan, hal ini hanya penghentian lengkap dari delusi. Tetapi orang tersebut masih manusia dengan tubuh fisik. Ada perasaan menyenangkan dan kebahagiaan dari mendapatkan kebebasan, walaupun tidak ada keinginan dari perasaan bahagia tersebut.

Sebagai contoh, bila kita berbicara dalam kata-kata tantrik maka individu yang superior yang telah mengeliminasi konsepsi dari keberadaan yang benar memiliki kebijaksanaan kebahagiaan besar dalam aliran mentalnya dan kebahagiaan adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Saya rasa juga pantas untuk berbicara kebahagiaan individu pada tahap tidak berlatih lagi.

Jadi, kita dapat berkata bahwa bahkan sang Buddha memiliki perasaan senang dan karena itu kita dapat berbicara mengenai kebahagiaan dari kebebasan.

Tetapi bila kalian bertanya pertanyaan ini dari sudut pandang apakah kebebasan sendiri adalah kebahagiaan, maka jawabannya adalah tidak, karena ini adalah fenomena yang tidak personal. Sebenarnya, kebebasan atau penghentian sebuat kualitas, penghentian penuh dari delusi dalam diri seseorang yang telah dicapai dan kebebasan yang diaktualisasi.

Dengan referensi kepada orang tersebut dan ketika dia mencapai kebebasan, orang itu sendirilah yang mengalami kebahagiaan. Jadi, bila kalian bertanya apakah orang tersebut mengalami kebahagiaan kebebasan, jawabannya adalah ya, tetapi bila kalian bertanya apakah kebebasan itu sendiri adalah kebahagiaan, maka jawabannya adalah negatif.

Bagaimana meditasi berhubungan dengan menjauhkan penderitaan makhluk hidup?

Ketika seorang Bodhisattva terlibat dapat pelatihan sebelum pencerahan, dia tidak hanya bermeditasi mengenai kualitas seperti kasih sayang dan altruisme, dia sebenarnya terlibat dalam mempraktekan enam kesempurnaan. Dari enam kesempurnaan, memberi dan disiplin etika secara langsung berhubungan dengan memberi manfaat bagi makhluk hidup.

Seperti itu juga, seorang bodhisattva juga terlibat dalam empat cara mengumpulkan murid, seperti memberikan hal-hal yang dibutuhkan makhluk hidup, berbicara dengan menyenangkan dan seterusnya. Menggenerasikan kasih sayang dan cinta dalam meditasi sebenarnya menggenerasikan maksud dan praktek memberi, mengamati disiplin etika dan seterusnya adalah ekspresi sebenarnya dari maksud dalam tindakan.

Karena itu, aplikasi yang praktis dan meditasi berjalan bersama berdampingan. Kalian juga menemukan penyebutan kondisi seimbang dan pencapaian selanjutnya. Pada saat meditasi keseimbangan kalian terlibat dalam meditasi dan pada saat setelah kondisi meditasi kalian bangkit dari meditasi dan terlibat dalam mengumpulkan pahala. Hal ini berarti secara praktis melakukan aktivitas yang secara langsung memberikan manfaat bagi makhluk hidup.

Bagaimana aspirasi seseorang terhadap kebebasan berhubungan dengan pengalaman penderitaan?

Agar dapat menggenerasikan harapan untuk mendapatkan kebebasan, kalian pertama-tama harus dapat melihat kesalahan dari siklus keberadaan. Tetapi pada saat yang sama bila kalian tidak memiliki pengertian mengenai kemungkinan mendapatkan kebebasan, maka hanya melihat kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan tidaklah cukup.

Ada banya kasus dimana orang-orang yang dihadapkan pada penderitaan, tetapi tidak sadar akan kemungkinan untuk mendapatkan kebebasan. Tidak menemukan solusi dari masalah mereka, dalam frustasi mereka bunuh diri atau mencelakakan diri mereka dengan cara lain.

Ketika Pendengar dan Buddha Penyendiri telah menghancurkan delusi sepenuhnya dan menjadi Penghancur Kesedihan, apakah mereka memiliki pikiran netral?

Ya, mereka memiliki kesadaran netral. Setelah mendapatkan status Penghancur Kesedihan, Pendengar dan Buddha Penyendiri tidak hanya memiliki kesadaran netral, tetapi juga menggunakan kualitas lain seperti perkataan kasar dan merujuk pada orang lain sebagai orang inferior dan seterusnya.

Walaupun tindakan seperti ini tidak didasari oleh delusi seperti kemarahan dan keterikatan, mereka muncul karena makhluk yang sangat mengenal kualitas negatif di masa lalu, yang sekarang mengekspresikan diri mereka secara fisik, verbal dan mental dengan cara yang buruk.

Manusia yang belum menyadari kekosongan melihat semua fenomena sebagai ada secara inheren dan karena itu mereka menggenerasikan kemarahan, keterikatan dan seterusnya. Tetapi bagaimana orang-orang ini yang telah menyadari kekosongan menggenerasikan kemarahan dan keterikatan karena kesadaran akan kekosongan adalah penawar langsung bagi pengalaman keberadaan yang benar?

Pembatasan antara kedua pengalaman ini adalah mereka yang telah menyadari kekosongan yang belum memiliki keberadaan yang benar yang melihat hal-hal sebagai ada secara inheren. Walaupun hal-hal nampak kepada mereka sebagai ada secara inheren, mereka tidak memiliki konsepsi dari keberadaan yang benar. Bahkan mereka yang telah mencapai tanah yang lebih tinggi dan menjadi Penghancur Kesedihan hal-hal ini nampak seperti ada secara inheren.

Jadi tidak ada kepastian bagi mereka kepada siapa hal-hal nampak ada secara inheren harus memiliki keterikatan dan kemarahan. Karena itu, kemarahan dan delusi lain digenerasikan tidak hanya ketika hal-hal nampak benar-benar ada, tetapi ada juga tekad bahwa hal-hal benar-benar ada. Tidak mungkin untuk mengeliminasi delusi dan penindasan secara keseluruhan, hanya dengan melihat kekosongan atau hanya dengan menyadari tidak adanya diri. Kalian tidak hanya menyadari kekosongan atau tidak adanya diri, kalian akan sangat mengenalnya.

Ketika kalian tidak hanya mengerti kekosongan tetapi juga melihatnya secara langsung, kalian mendapatkan apa yang kita sebut jalan melihat. Dan ketika kalian mencapai jalan melihat, kalian akan dapat untuk sementara menekan semua manifestasi superfisial dari delusi. Tetapi kalian hanya menekan manifestasi dari delusi ini dan bukannya mengeliminasi bibit mereka. Delusi bawaan masih ada.

Bahkan setelah kalian mendapatkan kesadaran langsung dari kekosongan ada jalan yang lebih tinggi seperti jalan melihat dan jalan meditasi. Secara intelektual mendapatkan delusi adalah mereka yang telah dieliminasi oleh jalan melihat dan karena itu mengeliminasi ketika seseorang melihat kekosongan secara langsung. Mereka muncul sebagai hasil dari mempelajari ide filosofi yang salah.

Dengan kata lain, mereka ada produk dari pandangan yang salah. Ketika kalian melihat kekosongan atau realita akhir secara langsung, secara alami, delusi yang didapat secara intelektual, produk dari pandangan yang salah akan dieliminasi secara otomatis. Karena itu, kalian menjadi mengenal seluruhnya kesadaran dari sifat sebenarnya fenomena. Kemudian secara bertahap kalian mendapatkan jalan meditasi, kalian akan dapat mengeliminasi akar sebab delusi.

Sekarang, bagaimana konsepsi dari kesadaran yang benar, atau konsepsi bahwa hal-hal ada secara inheren, bertanggung jawab untuk menggenerasikan delusi seperti kemarahan, keterikatan, dan seterusnya. Biasanya membicarakannya tidak tentu bahwa kasusnya adalah bilamana ada konsepsi dari keberadaan yang benar, delusi seperti keterikatan dan kemarahan digenerasikan karena ada saat-saat dimana kalian hanya memiliki konsepsi dari keberadaan yang benar.

Tetapi, dimana ada keterikatan atau kemarahan, sudah pasti bahwa karena konsepsi dari keberadaan yang benar dari fenomena. Ketika kalian menggenerasikan keterikatan, kalian tidak hanya melihat obyek sebagai sesuatu yang menarik, tetapi kalian melihatnya sebagai sesuatu yang sangat menarik, menarik sepenuhnya, dan ada secara inheren dari sisinya sendiri. Karena konsepsi fenomena seperti ini, kalian menggenerasikan keterikatan yang kuat.

Seperti itu juga, ketika kalian melihat sesuatu sebagai tidak menarik, kalian tidak melihatnya seperti itu, kalian melihatnya sebagai tidak menarik, kalian tidak melihat seperti apa adanya, kalian melihatnya sebagai fenomena. Sebab utama dari semua delusi yang beragam ini, seperti keterikatan dan kemarahan, adalah konsepsi “Saya” dan “Milik saya.”

Pertama-tama kalian menggenerasikan keterikatan terhadap “Saya” dan karena hal ini kalian mulai menggenerasikan segala jenis delusi. Biasanya kalian tidak berpikir mengenai apakah itu “Saya”, tetapi ketika ia muncul secara otomatis, kalian memiliki rasa “Saya” yang kuat, yang tidak hanya ada secara nominal, tetapi “Saya” yang solid yang ada secara inheren dari sisinya.

Mengenali keberadaan dari “Saya” yang konvensional adalah baik, tetapi ketika kalian membesar-besarkannya sebagai memiliki keberadaan yang independen, hal ini adalah salah. Ini adalah pandangan yang salah dari koleksi sementara. Karena kalian memiliki konsepsi bahwa “Saya” ada dengan sebenarnya, kalian menggenerasikan delusi lain seperti konsepsi “milik saya” berpikir, “Ini atau itu adalah milik saya.”

Ketika kalian memiliki konsepsi bahwa hal-hal ini adalah “milik saya” kalian membagi semua hal menjadi dua kelas: mereka yang kalian suka, yang kalian pikir sebagai milik saya, sebagai menarik, sebagai teman saya dan seterusnya, berdasarkan apa kalian menggenerasikan banyak keterikatan: dan mereka yang tidak menjadi milik kalian atau yang telah mencelakakan kalian atau mungkin akan mencelakakan mereka, kalian mengklasifikasikannya menjadi kategori yang berbeda dan tidak mengindahkan mereka.

Karena konsepsi kalian “Saya” dan perasaan bahwa saya adalah yang tertinggi, seseorang yang sangat penting, kalian menjadi bangga. Karena kebanggaan ini, ketika kalian tidak mengetahui sesuatu kalian menggenerasikan keraguan yang terdelusi dan ketika kalian menemukan tantangan dari orang-orang yang memiliki kualitas atau kekayaan yang mirip seperti milikmu, kalian menggenerasikan delusi iri hati dan persaingan terhadap mereka.

Apakah arti dari tindakan yang pasti dan tidak pasti?

Tindakan yang pasti adalah dimana semua bagian persyaratan lengkap. Sebagai contoh, setelah melakukan persiapan untuk melakukan tindakan tertentu, benar melakukannya dan akhirnya berpikir kalian telah melakukan tindakan yang benar. Bila kalian melakukan tindakan melalui proses ini, hasilnya akan pasti, jadi ini disebut tindakan pasti.

Di sisi lain, bila kalian tidak memiliki maksud untuk melakukan tindakan tertentu, maka walaupun kalian melakukan sesuatu, hasilnya tidak pasti. Jadi, ia disebut tindakan tidak pasti.

Secara umum, ada banyak jenis tindakan yang dijelaskan dalam Kompedium Memanifestasikan Pengetahuan oleh Asangan (Abhidharma Samuccaya): tindakan yang dilakukan dan diakumulasi, tindakan yang diakumulasi dan tidak dilakukan dan tindakan yang dilakukan dan diakumulasi

Tindakan yang diakumulasi dan tidak dilakukan adalah tindakan pasti. Tindakan yang dilakukan dan tidak diakumulasi adalah tindakan tidak pasti karena, sebagai contoh, tidak dimotivasi.

Sekarang, untuk menjelaskan poin ini dengan lebih jelas, mari kita mengambil contoh membunuh hewan. Secara umum, membunuh membawa pada kelahiran buruk. Tetapi bila kalian membunuh hewan tertentu tanpa bermaksud membunuhnya, sebagai contoh, kalian tidak menyadari telah menginjak serangga dan membunuhnya, maka menyadari apa yang telah kalian lakukan, kalian menggenerasikan perasaan penyesalan yang kuat, hasilnya tidak pasti.

Karena kalian telah membunuh serangga kalian telah melakukan tindakan membunuh, tetapi kalian tidak mengakumulasi tindakan karena kalian tidak bermaksud membunuhnya. Dalam kasus ini hasilnya tidak pasti, yang berarti tindakan membunuh tidak akan membawa hasil yang biasanya, kelahiran yang buruk, karena tidak adanya maksud dan setelahnya merasa menyesal. Akan tetapi karena tindakan membunuh telah dilakukan, ia akan akan berbuah sendiri, ia tidak akan membawa pada keuntungan.

Bagaimana mungkin, khususnya bagi seseorang yang datang dari Barat untuk menggenerasikan rasa pelepasan, ketidak-inginan untuk menikmati kesenangan dari dunia dimana kita hidup?

Sepertinya tidak mungkin bagi setiap orang untuk menggenerasikan semangat pelepasan, atau perlu karena manusia memiliki berbagai ketertarikan dan kecenderungan. Beberapa mungkin menyukai siklus keberadaan. Jadi apa yang harus kita lakukan? Bila kita mengambil sudut pandang Buddha dan berusaha mendapatkan kebebasan, maka kita akan dapat melatih pikiran kita dengan cara ini. Bila kalian melirik cara hidup Barat, kalian mungkin merasakan ketertarikan yang superficial, kecukupan dari fasilitas modern dan seterusnya.

Tetapi bila kalian memeriksa pada tingkatan yang lebih dalam, Orang Barat tidak kebal terhadap penderitaan duniawi yaitu kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, dan khususnya terjangkit perasaan persaingan dan iri hati. Saya yakin hal ini akan mengganggu kebahagiaan kalian, jadi mereka disebut penderitaan dari siklus keberadaan.

Kita juga dapat mengklasifikasi penderitaan menjadi tiga tingkat: Penderitaan dari penderitaanl penderitaan dari perubahan dan penderitaan komposisi meresap. Yang terakhir, penderitaan komposisi meresap, merujuk pada fakta bahwa tubuh fisi kita; diproyeksikan oleh tindakan terkontaminasi dan delusi, bertindak sebagai basis untuk mengalami berbagai tingkatan penderitaan. Penting untuk mengetahui berbagai tingkatan dan tahapan penderitaan dan bagaimana melakukan meditasi.

Secara umum, bila kalian tidak memiliki kekhawatiran, tanpa masalah, ini adalah yang terbaik. Kita berpikir bahwa mempraktekan doktrin Buddha karena kita memiliki penderitaan, kekhawatiran, tetapi bila kalian tidak memiliki hal ini maka tidak perlu melakukan praktek; nikmati saja diri kalian.

Karena kita memiliki konsepsi diri yang benar ada, mungkinkan memberi manfaat bagi makhluk lain?

Mungkin saja. Sebenarnya ada dua jenis sikap yang salah terkait dengan diri: yang pertama adalah untuk menganggapnya sebagai ada secara inheren, yang lain adalah sikap terpusat pada diri. Bila kalian memiliki sikap terpusat pada diri, selalu peduli mengenai kesejahteraan diri sendiri dan tidak mempedulikan yang lain, kalian akan secara otomatis meninggalkan kesejahteraan makhluk lain.

Konsepsi dari keberadaan diri sulit untuk dihilangkan, tetapi bila kalian melakukannya sehingga kalian dapat melatih sikap altruisme yang mempedulikan kesejahteraan makhluk lain dan terlibat dalam aktivitas untuk memberikan manfaat bagi mereka. Pendengar dan Buddha Penyendiri Penghancur Kemalangan telah menghancurkan delusi dengan bibit mereka dan telah menyadari sifat sebenarnya dari fenomena. Karena itu mereka telah mengeliminasi konsepsi dari keberadaan yang benar, tetapi karena sikap terpusat pada diri, mereka tidak terlalu peduli dengan kesejahteraan makhluk lain.

Akan tetapi juga mungkin bagi seorang Bodhisattva, untuk berasal dari sekolah prinsip Vaibhashika, yang tidak menegaskan kekosongan dari keberadaan yang benar. Jadi walaupun Bodhisattva mungkin belum mengeliminasi bibit dari konsepsi keberadaan yang benar, tetapi karena dia telah berlatih untuk mengembangkan sikap peduli pada orang lain, dia akan bekerja dengan dedikasi penuh untuk memberi manfaat bagi makhluk hidup lain.

665 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan sebuah Komentar

SANGGAHAN SEHUBUNGAN DENGAN KOMENTAR ATAU POSTING YANG BERASAL DARI PIHAK KETIGA DI BAWAH

Untuk catatan komentar atau posting yang berasal dari pihak ketiga dari bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan dari pemilik dan/atau penyelenggara situs ini, kecuali tanggapan yang secara spesifik diberikan oleh pemilik dan/ atau penyelenggara. Semua komentar atau posting atau pendapat, diskusi atau pandangan lain yang diberikan di bagian komentar di bawah tidak mewakili pandangan kami dan tidak boleh dianggap seperti itu. Kami memiliki hak untuk menghapus komentar/ pandangan yang menurut kami ofensif, tetapi bila karena jumlah atau keterbatasan sumber daya komentar atau pandangan tersebut tidak terdeteksi dan tidak dihapus, bukan berarti kami menyetujui komentar tersebut.

Kami berharap para pemberi komentar, posting, pendapat, pandangan, atau peserta diskusi di bawah akan bertindak secara bertanggung jawab dan tidak terlibat atau pernyataan yang bersifat fitnah atau menghasut dan menghina atau mengejek pihak dan individu manapun atau keyakinan mereka atau melanggar hukum.