Pelindung Dharma Dorje Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 1

PENGENALAN, SILSILAH AGUNG, DAN PRAKTEK DORJE SHUGDEN

 

 

 

 

 

 

PELINDUNG DHARMA

DORJE SHUGDEN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGENALAN, SILSILAH, DAN PRAKTEK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 2 

YAYASAN KECHARA INDONESIA

www.kecharaindonesia.org

2016

Kata Pengantar

Buku ini dicetak tanpa mengurangi rasa hormat dan toleransi terhadap agama dan kepercayaan lainnya di Indonesia.  Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai Budha Pelindung Dorje Shugden.  Informasi mengenai Pelindung Dharma ini diberikan oleh Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 yang merupakan pembimbing spiritual dari Yayasan Kechara Indonesia.

DEDIKASI

Untuk Guruku yang sempurna dan tanpa cela, Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25, semoga Rinpoche berumur panjang dan terus memutar roda Dharma demi memberi manfaat bagi semua makhluk hidup.

 

 

Cho Khi Gyal Po Tsong Kha Pa

Cho Tsul Nam Par Phel Wa La

Gek Ki Tshan Ma Zhi Wa Dang

Thun Kyin Ma Lu Tshang War Shok

Da Dang Shen Gi Du Sum Dang

Dril Wa Tsok Nyi La Ten Nay

Gyel Wa Lo Zang Drag Pa Yi

Tan Par Yun Ring War Gyur Chig

Jetsun Lama Ku Tse Rabten Ching

Namkar Trinley Chog Chur Gye Pa Dang

Lobsang Tenpe Dron Me Sa Sum Gyi

Dro We Munsel Taktur Ne Gyur Chig

Semoga semua halangan dihancurkan dan kondisi-kondisi yang kondusif dapat tercipta demi kelangsungan dan perkembangan ajaran Dharma murni nan Agung dari Raja Dharma, Tsongkhapa.

 

Dengan penyatuan dua akumulasi kebaikan antara diriku dengan makhluk lain, semoga ajaran dari Sang Penakluk Tsongkhapa Losang Drakpa selalu abadi untuk selama-lamanya.

 

Semoga Guru Yang Agung berumur panjang dan selalu diberkahi dengan kesehatan yang stabil,

semoga semua perbuatan-perbuatan baik menyebar ke 10 penjuru,

dan semoga pelita dari ajaran Lama Tsongkhapa senantiasa lestari,

melenyapkan kegelapan batin dan pandangan salah semua makhluk. 

 

 

 

DAFTAR ISI

BAGIAN 1: Pengenalan – Mengenai Pelindung Dharma

Sejarah Pelindung Dharma…………………………………………………………………………………………. 5

Sejarah singkat Pelindung Dharma di Tibet………………………………………………………………….. 6

Peran Pelindung Dharma…………………………………………………………………………………………….. 7

Kelas-kelas Pelindung Dharma…………………………………………………………………………………….. 8

Pelindung Dharma yang tercerahkan……………………………………………………………………………. 8

Pelindung Dharma yang tidak tercerahkan……………………………………………………………………. 9

Mengenal Dorje Shugden…………………………………………………………………………………………….. 10

Siapakah Dorje Shugden?…………………………………………………………………………………………….. 10

Makna dibalik nama Dorje Shugden……………………………………………………………………………… 10

Asal-muasal dan silsilah agung Dorje Shuden………………………………………………………………… 10

Manfaat Praktek Dorje Shugden……………………………………………………………………………………. 16

Ikonografi Dorje Shugden…………………………………………………………………………………………….. 21

 

BAGIAN 2: Praktek Dorje Shugden

Mantra Dorje Shugden…………………………………………………………………………………………………. 25

Tata Cara Pelafalan Mantra…………………………………………………………………………………………… 25

Kelas-kelas Pelindung Dharma……………………………………………………………………………………… 25

Doa Dedikasi……………………………………………………………………………………………………………….. 26

Doa Singkat Kepada Dorje Shugden oleh Y.M. Tsem Rinpoche ke-25……………………………… 26

BAGIAN 3: Pertanyaan-pertanyaan Umum Terkait Praktek Dorje Shugden

 

 

  

B A G I A N 1

Pengenalan: Mengenai Pelindung Dharma

SEJARAH PELINDUNG DHARMA 

Dalam tradisi Budhisme, pelindung Dharma atau dharmapāla dalam bahasa Sanskrit atau chos skyong dalam bahasa Tibet dan Hùfǎ / 護法 dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai pelindung dalam aspek hukum spiritual. Di balik semua penamaan yang diasosiasikan dengannya, pelindung Dharma tidak hanya terdapat dalam praktek dan tradisi Budhisme Tibet, tetapi juga ada dalam semua tradisi Budhisme.

Pelindung Dharma merupakan suatu tipe atau golongan makhluk yang melindungi ajaran Budha dan juga menolong para praktisi untuk mengatasi berbagai halangan baik dari luar maupun dalam (batin) yang mengganggu praktek spiritual mereka. Dalam ikonografi agama Budha, ekspresi murka menggambarkan energi yang sangat cepat dan kuat. Ekspresi ini sering disamakan dengan “menakutkan” atau “menyeramkan,” akan tetapi energi ini seperti kasih sayang dari seorang ibu yang memarahi anaknya bila dia melihat putranya bermain dengan api atau sedang akan mencelakakan dirinya. Pelindung Dharma tidak terlihat seperti para Budha atau Bodhisatva yang lemah lembut dan damai, namun bagaikan jenderal yang siap berperang dalam medan pertempuran spiritual.

Dalam literatur Budhisme, sejarah pelindung Dharma pertama kali dapat ditemukan dalam Āṭānāṭiya Sutta yang merupakan sutta ke-32 dalam Digha Nikaya (kumpulan ajaran-ajaran panjang Sang Budha). Dalam sutta tersebut, Empat Raja Surgawi (Caturmahārāja) yang tergolong dalam kelas Dewa menawarkan persembahan kepada Sang Budha untuk melindungi para praktisi ajaran Budha. Empat Raja Surgawi telah melindungi Pangeran Siddharta sejak sejak lahir hingga pada saat dia mencapai Pencerahan Sempurna. Bahkan jauh sebelum itu pada zaman Budha Kashyapa, mereka telah berjanji untuk melindungi ajaran-ajaran Budha Shakyamuni ketika ajaran tersebut turun ke dunia. Banyak sejarah tentang Pelindung Dharma yang tercatat dengan baik dalam literatur-literatur yang berasal dari Biara Nalanda, Vikhramasila maupun Bodhgaya. Kesimpulannya, tradisi pelindung Dharma berawal dari India yang kemudian tersebar ke negara-negara lain di kawasan Asia.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 3

Empat Raja Surgawi (Caturmahārāja)

5

Sejarah Singkat Pelindung Dharma di Tibet

Pelindung Dharma biasanya diasosiasikan dengan tradisi Tibet walaupun sebenarnya tradisi ini berasal dari India. Pada abad ke-8, seorang pemimpin biara Nalanda di India, Shantarakshita, diundang oleh raja Tibet, Trisong Detsen (742 – 797) ke Tibet untuk mengajarkan Dharma. Trisong Detsen dikenal sebagai salah satu dari tiga raja Dharma Tibet, dua raja  lainnya adalah Songsten Gampo (617 – 698) dan Tri Ralpachen (806 – 841).  Ketiga raja ini berkontribusi signifikan dalam mengembangkan Budhisme di Tibet.

Ketika Budhisme diperkenalkan di tanah bersalju Tibet untuk pertama kalinya, para praktisi Bon dan arwah-arwah yang mendiami wilayah tersebut merasa terancam dengan filosofi baru ini. Shantarakshita menjumpai banyak rintangan saat mencoba mengajarkan Dharma kepada masyarakat di Tibet. Para praktisi Bon dengan kekuatan sihir mereka menciptakan banyak musibah seperti badai dan penyakit yang mencegah orang yang berniat mendengarkan Dharma. Akan tetapi mereka tidak mampu membahayakan Shantarakshita karena beliau adalah seorang biksu.

Atas nasihat Shantarakshita, Trisong Detsen mengundang Guru Padmasambhava atau juga dikenal sebagai Guru Rinpoche, seorang praktisi Tantra agung dari India untuk beperang secara spiritual dengan praktisi Bonpo dan arwah-arwah jahat yang menyerang Shantarakshita. Dengan kebijaksanaan dan welas-asih, Padmasambhava menaklukkan beberapa arwah jahat dan mengikat mereka dengan sumpah untuk berhenti menyebabkan celaka dan melindungi Dharma. Salah satu arwah yang sangat berbahaya dan memiliki wujud enam lengan dan tiga wajah adalah Pehar yang merupakan dewa perang bangsa Mongolia yang berasal dari Persia. Setelah Pehar berhasil ditaklukkan oleh Guru Rinpoche, dia bersumpah kepada Guru Rinpoche untuk menjadi pelindung Dharma dan kemudian dikenal sebagai Nechung. Nechung adalah pelindung resmi biara Samye yang merupakan biara Budhis pertama di Tibet.  Pembangunan biara ini dibiayai oleh raja Trisong Detsen. Guru Rinpoche dan Shantarakshita bersama-sama mentahbiskan biksu pertama di Samye dan memulai proyek penerjemahan teks ajaran Budha dari bahasa India ke dalam bahasa Tibet. Hasil dari proyek penerjemahan ini adalah tersebarnya ajaran Budha di Tibet. Budhisme menjadi bagian dari budaya masyarakat Tibet. Dengan didukung oleh kondisi geografi Tibet yang terisolir dari wilayah sekitar, tradisi Budhisme tumbuh pesat tanpa gangguan dari pihak lain.

6

PERAN PELINDUNG DHARMA

Tugas utama pelindung Dharma adalah menghancurkan rintangan yang menghalangi para praktisi Budhis dalam mempraktekkan Dharma yang berasal dari ajaran Budha Shakyamuni yang dikenal dengan “Pandangan Benar.” Rintangan merupakan buah dari karma negatif kita yang diakibatkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah diakumulasi sejak masa lalu tanpa batas hingga saat ini.  Rintangan ini bermanifestasi dalam berbagai bentuk seperti penyakit, kesulitan finansial ataupun ketidak-harmonisan dalam ruang lingkup sosial kita. Mempraktekkan Dharma dapat menciptakan pahala (merit) dan/ atau karma baik (good karma) bagi praktisi, namun sayangnya karena rintangan yang kita alami, maka sulit bagi kita untuk mencapai kemajuan spiritual walaupun dengan kerja keras. Secara khusus, peran dari praktek pelindung Dharma adalah sebagai berikut:

  • Mengatasi rintangan dari dalam dan luar terhadap praktek Dharma dan untuk membantu kita mencapai kesadaran spiritual.
  • Menciptakan kondisi yang kondusif bagi praktek Dharma.
  • Menolong kita mengatasi masalah-masalah duniawi sehingga kita dapat maju secara spiritual.

Sebagai contoh, bila kita mengalami kesulitan finansial maka akan lebih sulit bagi kita untuk berkonsentrasi pada praktek spiritual kita. Dengan melakukan prakteknya, pelindung Dharma dapat menolong kita mempurifikasi karma negatif yang menyebabkan kita sulit mendapatkan berkah finansial untuk menunjang praktek kita dan sekaligus mengakumulasi kebaikan sehingga kita dapat mencapai kesadaran spiritual untuk terus ingin mempraktekkan Dharma. Pada akhirnya dengan kondisi yang kondusif, kita dapat mentransformasi batin kita dan membangkitkan kualitas ke-Budha-an dalam diri kita yaitu kebijaksanaan dan welas- asih. Apabila kita melakukan praktek pelindung Dharma Dorje Shugden dengan konsisten dan komitmen yang kuat, maka Dorje Shugden akan menjaga kita tidak hanya dalam kehidupan ini namun juga di kehidupan kita yang akan datang bagaikan kisah Empat Raja Surgawi yang menjaga Sang Budha sejak kelahirannya. Pelindung Dharma juga melindungi biara, silsilah agung, para biksu dan juga tradisi tertentu. Dorje Shugden sering dianggap sebagai pelindung khusus tradisi Gelugpa, namun sebenarnya dia melindungi semua praktisi yang tulus sama rata.

 7

KELAS-KELAS PELINDUNG DHARMA

Terdapat dua jenis pelindung Dharma: pelindung Dharma yang tercerahkan dan pelindung Dharma yang tidak tercerahkan.

Pelindung Dharma Yang Tercerahkan

Pelindung Dharma yang tercerahkan adalah emanasi dari makhluk-makhluk tercerahkan. Contoh pelindung Dharma yang termasuk dalam kelas ini adalah Dharmapala Dorje Shugden, Setrap, Mahakala dan Kalarupa. Tercerahkan disini artinya mereka telah terbebaskan dari enam alam samsara.

Makhluk-makhluk tercerahkan seperti para Budha dan Bodhisattva, karena kasihnya, rela turun ke alam samsara dan bermanifestasi dalam wujud duniawi untuk menolong makhluk hidup. Para Budha terus beremanasi dalam berbagai wujud sesuai dengan karma, jenis dan mental para makhluk di alam samsara di berbagai zaman. Bagi orang-orang biasa seperti kita yang memiliki sedikit kebaikan, kita memiliki hubungan karma yang lebih dekat dengan pelindung Dharma tercerahkan dalam wujud duniawi. Hal ini disebabkan oleh cara mereka bermanifestasi dalam wujud duniawi sehingga lebih efektif dan cepat dalam memberikan pertolongan kepada kita. Sebagai contoh pada sebuah masa, Avalokiteshvara bermanifestasi dalam wujud Avalokiteshvara berlengan 1.000 dan pelindung Dharma Mahakala. Di negara China, Avalokiteshvara juga bermanifestasi dalam wujud wanita yang dikenal sebagai Kuan Yin dan seorang biksu bernama ‘Chai Kung’ untuk dapat berhubungan dengan orang-orang pada masa tersebut. Seperti itu juga, Pelindung Dharma Dorje Shugden merupakan emanasi murka dari Budha Manjushri dalam bentuk duniawi sehingga beliau termasuk pelindung Dharma yang tercerahkan.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 4

Patung Dorje Shugden terbesar di dunia di Kechara Forest Retreat, Malaysia

8

Pelindung Dharma Yang Tidak Tercerahkan

Pelindung Dharma yang tidak tercerahkan masih berada di alam samsara dan merupakan makhluk yang kuat yang sebelumnya adalah arwah jahat. Mereka biasanya mendiami suatu tempat atau wilayah.  Namun mereka telah ditaklukkan oleh Lama agung dan diikat sumpah untuk melindungi institusi Dharma tertentu, praktisi Dharma dan praktek-praktek mereka. Kita tidak berlindung kepada pelindung Dharma yang tidak tercerahkan karena mereka memiliki kemampuan yang terbatas untuk melihat masa lalu dan masa depan dibandingkan dengan pelindung Dharma yang tercerahkan. Hal ini dikarenakan mereka belum menyempurnakan kebijaksanaan dan welas asih yang sempurna sehingga bantuan yang diberikan kepada kita mungkin hanya bermanfaat untuk jangka pendek. Akan tetapi kita dapat meminta bantuan mereka untuk melindungi kita pada saat kita melakukan praktek Dharma layaknya meminta perlindungan kepada seorang teman yang serba-bisa.

Salah satu pelindung Dharma yang tidak tercerahkan yang terkenal di Tibet adalah Nechung Dorje Dragden (bahasa Tibet: gnas chung rdo rje dregs ldan). Nechung selalu dimintai nasihat oleh para Dalai Lama selama ratusan tahun dan merupakan salah satu pelindung resmi pemerintah Tibet sejak zaman Dalai Lama ke-5, Ngawang Losang Gyatso (1617 – 1682).

9

MENGENAL DORJE SHUGDEN

Siapakah Dorje Shugden?

Dorje Shugden adalah emanasi Manjushri dan merupakan pelindung di zaman kita saat ini. Budha Manjushri mengambil wujud sebagai pelindung Dharma sehingga praktisi spiritual pada zaman kemerosotan (Kaliyuga) ini dapat memiliki keberuntungan untuk dapat berhubungan dengan Budha Kebijaksanaan ini. Dorje Shugden adalah pelindung Dharma yang masih relatif baru sehingga hubungannya dengan makhluk-makhluk di zaman ini sangat dekat dan karenanya pertolongan yang diberikannya relative cepat dan efektif. Dorje Shugden membantu mengatasi kesulitan kita, mengabulkan permohonan, dan melindungi mereka yang kita cintai.  Selain itu, Dorje Shugden juga menciptakan situasi yang kondusif bagi praktek spiritual kita. Dorje Shugden dapat menuntun kita untuk mencapai kebahagiaan duniawi dan membimbing kita sepanjang Jalan menuju Pencerahan. Ekspresi menyeramkan Dorje Shugden adalah simbol dari kemampuannya yang sangat cepat dan efektif dalam membantu dan menghancurkan kesulitan bagi praktisi Dharma. Di balik rupanya yang menyeramkan, setiap tindakan Dorje Shugden dilaksanakan berdasarkan kasih sayang.

Apa makna dibalik nama Dorje Shugden?

“Dorje” berarti berlian yang merupakan adalah elemen yang paling keras di bumi dan tidak bisa dihancurkan.  Dalam konteks agama Budha, tidak dapat dihancurkan berarti  “pikiran yang tercerahkan.”

“Shug” berarti “kekuatan” dan “Den” berarti “tak tergoyahkan.”

Bila digabung, “Dorje Shugden” berarti “Berlian dengan Kekuatan yang Tak Tergoyahkan.”

Asal-muasal dan silsilah agung Dorje Shugden

Dorje Shugden datang dari silsilah otentik para Guru Agung yang tercerahkan yang dapat ditelusuri hingga masa Budha Manjushri. Dengan mempelajari dan mengetahui silsilah-silsilah ini, maka keyakinan kita terhadap Budha Dharma akan meningkat, dan tidak mudah goyah.  Karena praktek ini valid dan metode prakteknya telah dibuktikan oleh para Guru Agung di masa lalu yang dapat membawa kita menuju Pencerahan. Setiap garis inkarnasi Dorje Shugden berkontribusi besar terhadap pertumbuhan Budha Dharma.  Dorje Shugden berasal dari garis inkarnasi Mahasiddha besar, cendikiawan agama Budha yang terkenal, biarawan dengan disiplin moral yang tinggi dan Guru Dharma yang istimewa.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 5

Budha Manjushri

Dorje Shugden adalah emanasi agung dari Yang Mulia Manjushri, Budha Kebijaksanaan. Guru-guru agung yang tercerahkan seperti Mahasiddha Tagpu Pemavajra, Kyabje Pabongkha Rinpoche, Trijang Rinpoche menyebutkan ini di setiap ajaran dan karya tulis mereka. Nama Manjushri merupakan kombinasi dari ‘Manju’ yang berarti berbudi dan ‘Shri’ yang berarti kecemerlangan. Secara harafiah Manjushri berarti ‘kecemerlangan yang berbudi’.

Manjushri adalah makhluk yang tercerahkan dan sempurna di masa lalu, jauh sebelum masa Budha Shakyamuni. Pada zaman Budha Shakyamuni, Manjushri bermanifestasi sebagai murid dari Budha Shakyamuni dengan cara-cara yang unggul, beliau mengajukan pertanyaan atau sengaja meminta Budha Shakyamuni untuk memutar roda Dharma demi memberi manfaat bagi semua makhluk pada saat itu. Beberapa orang yang datang kepada Budha Shakyamuni untuk meminta pertolongan dan nasihat diarahkan kepada Manjushri karena mereka memiliki karma yang lebih kuat dengannya.

Beberapa makhluk yang memiliki hubungan yang kuat dengan Manjushri dan dengan berkat darinya, mampu membangkitkan realisasi spiritual yang luar biasa. Kisah dan ajaran Manjushri dapat ditemukan secara ekstensif dalam kitab-kitab ajaran Sutra dan Tantra.

Tangan kanan Manjushri memegang pedang kebijaksanaan yang memotong pandangan salah dan kebodohan. Di tangan kiri, dia memegang cabang sebuah bunga teratai dengan Sutra “Kebijaksanaan Sempurna” diatasnya. Pedang dan sutra melambangkan kemampuan Manjushri untuk membebaskan makhluk hidup.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 6

Magadha Zangmo

Magadha Zangmo atau Sumagadha (Sanskrit) atau Ma ga dha bZang mo’I (Tibet) merupakan figur inspiratif yang memberikan dampak yang besar bagi berkembangnya Budhisme. Kisahnya dapat ditemukan di dalam kitab suci berbagai tradisi Budhisme di India, China dan Tibet. Magadha Zangmo adalah putri bungsu dari Anataphindika, seorang kepala rumah-tangga yang merupakan murid dan penyandang dana utama Budha Shakyamuni. Tindak-tanduk Anataphindika menjadi contoh bagi semua umat Budha terutama mengenai motivasi yang harus dimiliki ketika berderma kepada Guru di dalam Dharma. Beberapa kebaikan agung yang dicapai atau dilakukan oleh Magadha Zangmo selama masa kehidupannya adalah:

  1. Mencapai tingkatan Arahat (pencapaian tertinggi/nibbana dalam aliran Theravada dimana praktisi telah melenyapkan semua akar-akar penderitaan dan terbebaskan sepenuhnya dari alam samsara) dalam satu kehidupan tanpa menjalani kehidupan monastik sebagai biksu/biksuni.
  2. Memberi manfaat yang tak terhitung banyaknya bagi makhluk yang ingin mendengarkan ajaran Budha dan berlindung kepada Sang Triratna.
  3. Tindakannya memberikan persembahan dupa dan melafalkan bait permohonan kepada Budha menjadi praktek yang hingga saat ini masih dilakukan dan merupakan bagian dari doa di semua tradisi Budhisme.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 7

Mahasiddha Birwapa (abad ke-9)

Salah satu inkarnasi awal dari Dorje Shugden lahir pada zaman India kuno sebagai Mahasiddha Birwapa. Mahasiddha adalah praktisi meditasi yang telah mencapai realisasi spiritual mendalam dan ditandai dengan pencapaian kekuatan gaib yang agung.

Birwapa adalah pemegang awal silsilah Chakrasamvara Tantra, yang dicapainya dengan mempraktekkan Tantra setiap malam secara disiplin di biara Nalanda. Setelah mempraktekkan Tantra dalam waktu yang sangat lama tanpa hasil, Birwapa bermimpi buruk yang diartikannya sebagai pertanda buruk. Dia merasa kecewa pada awalnya, namun dia kemudian menyadari bahwa mimpi tersebut adalah pertanda pencapaian spiritual.

Pada akhirnya Birwapa diusir dari biara oleh para biksu karena mereka melihat wanita misterius yang sering memasuki kediamannya. Sesungguhnya wanita ini adalah dakini yang datang untuk menerima persembahan Tsog dan ritual Tantra dari Birwapa. Setelah dikeluarkan dari biara, Birwapa menjadi pertapa pengembara dan menuntun banyak orang ke jalan Dharma melalui kewaskitaan dan keajaiban yang dilakukannya.

Salah satu kisah yang termashyur adalah saat Birwapa mengangkat tangannya ke arah langit untuk menghentikan kemunculan matahari. Kejadian luar biasa tersebut telah mengubah pandangan keseluruhan kerajaan untuk memasuki jalan Budhisme. Orang-orang pada masa tersebut dapat dengan mudah mengembangkan keyakinan terhadap Dharma dengan menyaksikan keajaiban yang dilakukannya. Birwapa memiliki murid-murid yang tak terhitung banyaknya dan beberapa diantaranya berhasil menjadi Mahasidha. Dengan cara ini, Birwapa bekerja tanpa mengenal lelah untuk menyebarkan Dharma hingga akhir hayatnya.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 8

Sakya Pandita (1182 – 1251)

Dorje Shugden kemudian bermanifestasi di Tibet Barat sebagai Sakya Pandita yang legendaris, pemegang utama silsilah tradisi Sakya di Tibet. Beberapa dekade kemudian, Dorje Shugden pertama kali dipraktekkan dalam tradisi Sakya karena memiliki hubungan yang mendalam dengan tradisi ini.

Sejak masih kanak-kanak, Sakya Pandita telah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah makhluk agung melalui kemampuannya melafalkan kitab-kitab Sanskrit dan mengingat kitab suci yang dibacanya dalam mimpi.

Sakya Pandita tumbuh menjadi pemimpin spiritual Tibet, pendebat yang tak tangguh dan cendekiawan agung ajaran Budha yang merupakan salah satu dari empat pendiri awal aliran Sakya. Künga Gyeltsen biasa dikenal sebagai Sakya Pandita, merupakan julukan yang diberikan kepadanya karena pengetahuannya yang mendalam tentang literatur Sanskrit. Selain di Tibet, Sakya Pandita dikenal sebagai cendekiawan agung di Mongolia, China dan India serta ahli dalam filosofi Budhisme, obat-obatan, tata bahasa, dan dialektika Sanskrit.

Kemashyuran Sakya Pandita tersebar luas hingga ke China dan Mongolia dimana seluruh anggota kerajaan mengembangkan keyakinan kepadanya dan Budha-dharma serta mengundangnya menjadi penasihat kerajaan.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 9

Buton Rinchen Drub (1290 – 1364)

Figur berikutnya dalam garis inkarnasi Dorje Shugden adalah seorang cendekiawan yang produktif, Buton Rinchen Drub yang berasal dari biara Zhalu. Dia lahir di Tibet Barat yang merupakan tempat dimana biara Tashi Lunpo kemudian dibangun. Semasa kecil, Buton mampu berkomunikasi secara langsung dengan Manjushri dan menunjukkan pencapaian welas asih dan Bodhicitta. Keistimewaan ini adalah tanda bahwa dia merupakan inkarnasi dari makhluk agung.

Saat remaja, Buton Rinchen Drub mampu mempelajari Bahasa Sanskrit kuno dengan relatif mudah. Dia menguasai Sutra dan Tantra yang membuatnya menjadi cendekiawan yang terpelajar. Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia mulai menerjemahkan teks-teks suci Sanskrit ke dalam Bahasa Tibet dan memperbaiki terjemahan yang sudah ada. Perlahan-lahan dia mulai dikenal sebagai seorang Lama.

Buton Rinchen Drub memulai sebuah proyek ambisius dengan menerjemahkan kumpulan 500 tahun kitab suci Sanskrit menjadi koleksi besar Kangyur dan Tengyur. Semua kumpulan kitab tersebut berisi ajaran lisan Sang Budha dan komentar tertulis dari murid sang Budha. Selama masa kehidupannya, Buton Rinchen Drub juga menulis 26 jilid komentar terkait pengalaman-pengalamannya dalam Budha-Dharma. Koleksi karyanya yaitu Kangyur dan Tengyur dipelajari hingga saat ini oleh semua tradisi Budhisme di Tibet dan menjadi referensi yang luas dan mendalam mengenai ajaran Sang Budha.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 10

Duldzin Drakpa Gyeltsen (1374 – 1434)

Pada tahun 1374, Dorje Shugden terlahir kembali di Tibet Tengah sebagai Duldzin Drakpa Gyeltsen. Seperti inkarnasi-inkarnasi sebelumnya, dia telah menunjukkan ketertarikan terhadap spiritualitas semenjak kanak-kanak dan menempuh pendidikan dengan semangat yang luar biasa dan hasil yang menakjubkan.

Beliau bertemu dengan banyak Guru yang agung namun hanya satu Lama saja yang dekat di hatinya yaitu Je Tsongkhapa yang agung. Sebagai salah satu murid utama Je Tsongkhapa, Duldzin Drakpa Gyeltsen dikenal dengan reputasinya yang memegang teguh sila Vinaya baik. Oleh karena itu, dia dijuluki Duldzin, versi pendek dari ‘Dulwa Dzinpa’, yang berarti Penegak Vinaya.

Bersama Je Tsongkhapa, Duldzin mempelajari dan kemudian menguasai Lamrim (tahapan jalan menuju ke-Budha-an), membangkitkan Bodhicitta, mempraktekkan dan menguasai empat kelas Tantra, dan menjaga komitmen Vinaya, Bodhisattva dan Tantra dengan sempurna.

Di tahun-tahun berikutnya, Je Tsongkhapa mengembara dan melakukan banyak pertapaan. Saat Je Tsongkhapa pergi, dia selalu menunjuk Duldzin Drakpa Gyeltsen untuk mewakilinya. Seiring dengan semakin lanjutnya usia Je Tsongkhapa, Duldzin merasa khawatir dengan kesehatan gurunya sehingga dia mengambil tantangan mendirikan biara Gaden demi gurunya. Dia mendirikan biara dengan mengacu pada aturan Vinaya. Duldin kemudian mempersembahkan biara ini kepada gurunya agar Je Tsongkhapa dapat tinggal dan mengajar disana. Ketika Je Tsongkhapa yang agung membabarkan Dharma dari atas tahtanya, makhluk-makhluk gaib selalu datang untuk turut mendengarkan ajaran. Dalam suatu sesi ajaran, Nechung muncul dalam wujud seekor merpati putih dan mengelilingi aula mengajar. Banyak Lama disana menyadarinya, namun mereka memilih untuk diam. Ketika sesi ajaran telah berakhir dan aula telah dibersihkan, Duldzin menghampiri Nechung dan bertanya mengapa dia datang mengganggu selama sesi ajaran. Nechung kemudian berubah menjadi seorang anak lelaki berpakaian putih dan mengatakan bahwa dia sedang mencari pelindung khusus untuk ajaran Je Tsongkhapa yang agung. Nechung menambahkan bahwa dia sendiri tidak dapat melakukannya karena telah berjanji kepada Guru Rinpoche untuk menjadi pelindung Budha-Dharma pada umumnya. Dengan mengatupkan kedua tangan, Duldzin dengan segera menyetujui permintaan Nechung untuk menjadi pelindung ajaran Je Tsongkhapa. Kemudian Nechung mengingatkannya untuk tidak melupakan janjinya dan kemudian menghilang dengan seketika.

Ketika kemudian Je Tsongkhapa meninggal dalam meditasi, Duldzin merasa sangat sedih dan kehilangan. Bersama dengan murid Je Tsongkhapa lainnya, dia menyimpan relik gurunya di dalam stupa. Banyak orang percaya bahwa Je Tsongkhapa dan Duldzin Drakpa Gyeltsen memiliki kesetaraan dalam kebijaksanaan, pengetahuan dan realisasi spiritual. Murid-nurid lainnya meminta Duldzin untuk menduduki tahta Gaden sepeninggal Je Tsongkhapa namun dia menolaknya dengan sopan dan memberikan tahta Gaden kepada murid utama Je Tsongkhapa yang lain yaitu Gyaltsab Je. Gyaltsab Je kemudian menjadi pemegang tahta pertama tradisi Gaden.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 11

Panchen Sonam Drakpa (1478 – 1544)

Pada tahun 1478, seorang anak yang istimewa lahir di Tsethang, daerah Lhoka di Tibet Tengah. Dia tumbuh menjadi cendekiawan yang agung bernama Sonam Drakpa. ‘Panchen’ diterjemahkan dari Bahasa Sanskrit yang berarti ‘Pandit’ dan merupakan gelar yang diberikan kepadanya karena pengetahuannya yang luar biasa tentang ajaran Sutra dan Tantra dan pencapaian spiritualnya yang legendaris.

Di masa mudanya, Panchen Sonam Drakpa menempuh pendidikan di biara Sera. Disini, dia belajar dibawah bimbingan guru-guru agung seperti Yang Mulia Donyo Dangden dan Yang Mulia Dalai Lama ke-2, Gyalwa Gendun Gyatso. Seperti layaknya calon cendekiawan, dia mempelajari semua aspek Sutra, Tantra dan penjelasannya secara intensif. Didukung dengan berbagai inisiasi, nasihat dan berkat dari gurunya, pencapaian spiritual Panchen Sonam Drakpa dapat bertumbuh pesat.

Panchen Sonam Drakpa termashyur sebagai satu-satunya Lama dalam sejarah tradisi Budhisme Tibet yang pernah mengepalai tiga biara sekaligus yaitu biara Gaden, biara Sera dan biara Drepung. Ketika memimpin biara Gaden, dia juga diangkat untuk menduduki tahta Gaden Tripa ke-15 yang merupakan pemimpin spiritual tertinggi aliran Gelugpa. Panchen Sonam Drakpa juga mengkompilasi 45 karya tulis yang digunakan dalam kurikulum pendidikan oleh tiga institusi monastik Budhisme termasuk Drepung Loseling dan Gaden Shartse. Hingga saat ini karya Panchen Sonam Drakpa masih digunakan sebagai teks utama oleh para biksu yang sedang belajar untuk mendapatkan gelar Geshe (gelar dalam pendidikan Budhisme yang setara dengan gelar PhD).

Panchen Sonam Drakpa merupakan pembimbing spiritual dari Dalai Lama ke-3 yang menerima sila pentahbisan dan pendidikan spiritual darinya. Panchen Sonam Drakpa meramalkan potensi yang luar biasa pada inkarnasi Dalai Lama muda apabila dia menanggalkan nama tradisional ‘Gendun’ dan Panchen Sonam Drakpa kemudian memberi nama Sonam Gyatso kepada Dalai Lama ke-3. Dengan demikian, Panchen Sonam Drakpa memulai garis silsilah Dalai Lama dengan nama ‘Gyatso’.

Di usia dewasa, murid Panchen Sonam Drakpa tersebut diundang ke Mongolia. Saat Sonam Gyatso tiba disana, raja Mongolia Altan Khan dan rombongannya mengembangkan rasa hormat kepadanya dan pandangan mereka berubah dari yang sebelumnya merupakan penjajah Asia melalui peperangan menjadi praktisi yang belajar dan mempraktekkan jalan damai sesuai Budhisme.

Dengan semangat, Panchen Sonam Drakpa bekerja untuk Dharma dan manfaat semua makhluk hingga akhir hayatnya.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 12

Tulku Drakpa Gyeltsen (1619 – 1656)

Pada masa Dalai Lama ke-5, Dorje Shugden bermanifestasi dalam wujud Lama yang sangat istimewa. Semenjak kecil, inkarnasi ini menunjukkan berbagai pertanda sebagai makhluk tercerahkan, seperti mampu melihat penampakan makhluk tercerahkan ketika dia masih berusia lima tahun. Di usianya yang ke-13, Lama muda ini telah menguasai Lamrim.

Tulku Drakpa Gyeltsen adalah salah satu dari dua murid utama Panchen Lama ke-4, Lobsang Chokyi Gyaltsen. Murid yang utama lainnya adalah Dalai Lama ke-5. Karena pengetahuannya yang mendalam tentang Dharma, Tulku Drakpa Gyeltsen dikenal luas dikalangan umum. Dia dikenal karena kasih sayang dan welas asihnya yang mendalam kepada semua makhluk. Seiring dengan ketenarannya yang meningkat dengan cepat, jumlah murid-muridnya pun semakin bertambah. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada pihak tertentu dalam pemerintahan.

Pada saat itulah, Nechung kemudian muncul dan berbicara kepada Tulku Drakpa Gyeltsen melalui media oracle. Nechung mengingatkannya akan janji yang pernah dia buat pada kehidupan sebelumnya. Namun Tulku Drakpa Gyeltsen tidak mampu mengingat janjinya itu dan kemudian Nechung memberikan beras yang telah diberkati kepada Tulku Drakpa Gyeltsen. Setelah memakan beras tersebut, dia mengingat kembali janjinya kepada Nechung dan bertanya tentang apa yang harus dia lakukan. Nechung memuji kemurnian praktek Dharma Tulku Drakpa Gyeltsen selama banyak kehidupan sebelumnya dan yakin bahwa Tulku Drakpa Gyeltsen adalah calon terbaik pelindung ajaran Je Tsongkhapa yang tiada taranya. Namun, Tulku Drakpa Gyeltsen mengatakan dia tidak memiliki energi murka yang diperlukan untuk bangkit menjadi pelindung Dharma. Kemudian Nechung mengatakan padanya agar tidak perlu khawatir karena ia akan membuat situasi yang kondusif agar energi murka dapat bangkit.

Pada saat itu, Dalai Lama menempati ‘rumah bawah’ dan Tulku Drakpa Gyeltsen tinggal di ‘rumah atas’ yang sebenarnya hanya karena rumah mereka berada di bukit yang lebih tinggi atau rendah dan tidak menggambarkan senioritas. Banyak orang mengunjungi Tulku Drakpa Gyeltsen untuk meminta nasihat dan hal ini membuat para pengikut Dalai Lama cemburu. Para asisten Dalai Lama memendam kecemburuan yang besar ketika dalam salah satu festival Doa Agung, tahta Tulku Drakpa Gyeltsen dibuat lebih tinggi dari Dalai Lama. Puncaknya, para pengikut Dalai Lama mulai berencana untuk membunuh. Tulku Drakpa Gyeltsen. Beberapa percobaan pembunuhan mulai dilakukan dengan meracuni makanan Tulku Drakpa Gyeltsen. Namun karena pencapaian spiritualnya yang agung, racun tersebut keluar dari tubuh Tulku Drakpa Gyeltsen tanpa mampu mencelakainya. Kemudian para pembunuh mencoba untuk melukainya dengan menusukkan pisau pada tubuhnya, namun pisau tersebut tidak mampu menembus tubuhnya dan konon sebuah mata akan muncul di setiap bagian tubuhnya yang ditusuk. Pada akhirnya Tulku Drakpa Gyeltsen memberi tahu pembunuhnya bahwa satu-satunya cara untuk membunuhnya adalah dengan mencekoki sebuah khata ke dalam tenggorokannya. Hal ini kemudian segera dilakukan oleh pembunuhnya. Tulku Drakpa Gyeltsen di momen kematiannya, membangkitkan sejumlah kecil energi yang serupa dengan kemarahan dan bermanifestasi menjadi pelindung Dorje Shugden dalam wujud murka.

10

Manfaat Praktek Dorje Shugden

Dorje Shugden telah menyingkirkan kesulitan dan menciptakan kondisi bagi pertumbuhan luar biasa ajaran Lama Tsongkhapa, dan yang paling penting, kesadaran yang ditimbulkan dari ajaran ini. Doktrin Lama Tsongkhapa sekarang ini tersebar di negara-negara di seluruh dunia dan menyentuh hidup banyak orang yang telah dapat mempelajari ajaran dan mempraktekkannya sehingga kehidupan mereka mengalami perubahan menjadi lebih baik.

Dorje Shugden bermanifestasi menjadi lima wujud berbeda dengan manfaat yang berbeda-beda. Disamping emanasi utamanya yang menunggangi singa salju dan mengenakan topi kubah bulat, Dorje Shugden dikenal memiliki empat emanasi lainnya dimana setiap emanasi memiliki fungsi masing-masing.

Kelima wujud ini dikenal sebagai lima keluarga Dorje Shugden. Kelima emanasi Dorje Shugden merupakan manifestasi dari panca skandha (lima kelompok kemelekatan) dan masing-masing mewakili lima Dhyani Budha.

 

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 13

Lima Keluarga Dorje Shugden

Duldzin Dorje Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 14

Emanasi Utama

Merupakan wujud utama yang melambangkan kesadaran. Dia memakai topi berbentuk kubah bulat di kepala dan mengenakan jubah layaknya seorang biksu yang telah ditahbiskan sepenuhnya. Di tangan kanannya, dia menggenggam pedang kebijaksaan layaknya Manjushri yang memotong kebodohan dan pandangan salah. Di tangan kirinya, dia memegang jantung musuh (melambangkan ketidak-tahuan) dan juga sebuah kait penjinak.

Dorje Shugden menunggangi singa salju yang melambangkan keberanian. Dia memberkahi kita dengan kebijaksanaan dan menuntun kita ke jalan kebenaran.

“Engkau berkata, “Aku akan melindungi esensi tertinggi dari ajaran Sugata tanpa cela bagaikan permata berharga dari kebaikan semua makhluk!” Oh Manjushri Yamantaka yang gagah dalam penyamaran wujud duniawi, yang diberkahi dengan kekuatan setara 10 juta pelindung Dharma, kepadamu aku bersujud.”

Vairochana Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 15

Shize

Dalam emanasi ini, Shize melambangkan bentuk. Dia memiliki senyum setengah murka dan berkulit putih. Di tangan kanannya, dia memegang anak panah dengan cermin yang diikat di ujungnya sementara tangan kirinya memegang jerat.

Dia mengenakan jubah sutra putih dan menunggangi seekor gajah. Para praktisi mengandalkannya untuk mengatasi karma negatif, kesulitan dan menyembuhkan penyakit serius.

“O Engkau yang mempurifikasi semua kemelekatan terhadap bentuk, melalui tarian penakluk, dalam wujud tubuh yang indah bagaikan ratusan ribu bulan di musim semi, memegang jerat dan anak panah berbalut sutra, menunggangi raja dari semua gajah, penghancur semua kondisi dan rintangan yang negatif, kepadamu aku bersujud.”

Ratna Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 16

Gyenze 

Emanasi ini melambangkan perasaan dan berwarna emas (kuning). Di tangan kanannya, dia memegang sebuah bejana emas yang berisi cabang pohon pengabul harapan dan di tangan kirinya, dia memegang sebuah mangkuk berisi permata. Gyenze mengenakan jubah pangeran berwarna kuning dan menunggangi kuda palomino.

Para praktisi mengandalkannya untuk meningkatkan semua energi positif dalam semua aspek hidup seperti kekayaan, memperpanjang usia dan meningkatkan kesadaran spiritual.

“O Engkau yang mempurifikasi semua kemelekatan terhadap perasaan, dengan tarian peningkatan, dengan wujud yang cemerlang bagaikan sepuluh juta matahari. Memegang bejana berisi permata dan vas pengabul harapan, menunggangi palomino kuning, peningkat kekayaan, kemakmuran dan semua harapan, kepadamu aku bersujud.”

Pema Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 17

Wangze

Emanasi ini melambangkan persepsi. Wangze bermanifestasi dengan kulit berwarna merah darah dan tersenyum menggoda dengan gaya murka. Dia memegang pengait Vajra berbalut sutra merah di tangan kanannya dan sebuah jerat yang berlapis permata di tangan kirinya.

Dia mengenakan jubah sutra merah yang dihiasi bunga-bunga dan menunggangi seekor naga. Wangze dapat membantu kita untuk mencapai kedamaian batin dan mampu mengendalikan situasi, orang atau pikiran yang sulit yang tidak dapat diatasi dengan cara biasa.

“O Engkau yang mempurifikasi segala bentuk kemelekatan, persepsi, dengan tarian penakluk, dalam wujud berkobar bagaikan kemegahan gunung batu delima, memegang jerat dan pengait, menunggangi naga berwarna pirus, penakluk tiga alam, kepadamu aku bersujud.”

Karma Shugden

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 18

Trakze

Emanasi ini melambangkan pikiran atau faktor-faktor mental. Trakze bermanifestasi dengan kulit berwarna merah gelap dan berpenampilan sangat murka. Dia memegang sebilah pedang besar di tangan kanan dan menggenggam jantung berdarah di tangan kirinya.

Trakze mengenakan jubah sutra berwarna hitam dan menunggangi seekor garuda yang kuat. Prakteknya sangat manjur khususnya untuk mengatasi halangan negative yang paling kuat seperti arwah jahat, ilmu hitam, karma negatif dan situasi yang sangat berbahaya.

“O Engkau yang mempurifikasi segala bentuk kemelekatan faktor-faktor mental, dengan tarian yang mengerikan, dalam wujud berwarna merah gelap bagaikan gemuruh badai api, menunggangi garuda yang lincah, memegang pedang tajam dan jantung musuh, penghancur semua musuh dan pengganggu menjadi abu, kepadamu aku bersujud.”

Di samping membantu mengatasi masalah-masalah duniawi, dengan melakukan praktek lima keluarga Dorje Shugden, kita juga mengumpulkan pahala atau dalam bahasa Inggris disebut merit. Pahala adalah potensi positif yang tidak akan habis digunakan. Berbeda dengan karma karena pahala tidak bisa habis sementara karma bisa habis setelah hasilnya digunakan/ dialami. Pahala terakumulasi karena motivasi untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk dan bukan hanya untuk menguntungkan diri sendiri. Pahala akan membantu kita untuk memegang komitmen dan sumpah kita dan mendapatkan pencapaian dalam praktek tantra.

Akhir kata, praktek Dorje Shugden sangatlah bermanfaat.  Karena kasihnya, dia akan menolong siapa saja yang meminta bantuannya, terlepas dari siapapun mereka.

16

Ikonografi Dorje Shugden

Ikonografi adalah simbol representatif dari kualitas tercerahkan para Budha yang merupakan petunjuk yang dapat membimbing kita dalam jalan spiritual untuk mencapai tujuan akhir yaitu ke-Budha-an. Setiap bagian dari figur Budha seperti mudra (posisi tangan), posisi duduk, alat-alat ritual yang digenggam dan ornamen yang dikenakan merupakan ajaran bagi kita. Begitu pula dengan Dorje Shugden, setiap bagian tubuhnya memiliki makna yang mendalam dan merupakan peta menuju pencerahan.

Apabila kita mempelajari ikonografi Dorje Shugden, maka sebenarnya kita sedang mempraktekkan ajaran Budha karena Dorje Shugden adalah makhluk tercerahkan.

Ketika kita mempelajari dan melakukan praktek dengan tulus maka semua kondisi lingkungan dan situasi di sekitar kita seperti teman-teman, keluarga, kondisi keuangan, dan perkembangan spiritual kita akan semakin membaik.

Berikut ini adalah simbol-simbol dan makna dari bagian tubuh Dorje Shugden.

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 19

Topi Berkubah

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 20

Topi Dorje Shugden melambangkan dirinya yang menegakkan ajaran tertinggi sang Budha. Tujuan Dorje Shugden bangkit sebagai pelindung Dharma adalah untuk melindungi ajaran agung Je Tsongkhapa. Di Tibet, ketika para Lama sedang melakukan perjalanan, mereka selalu mengenakan topi berkubah sebagai perlindungan. Hal ini menandakan bahwa Dorje Shugden tidak pernah menetap di suatu tempat melainkan selalu bergerak dan berpindah untuk menolong semua makhluk yang memohon bantuannya. Topi berkubah juga melambangkan pandangan tertinggi dari kebijaksanaan yang dibabarkan oleh Nagajurna.

Mata Kebijaksanaan dan Jubah Biksu

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 21
Dorje Shugden memiliki mata ketiga, mata kebijaksaan yang terletak di tengah dahinya. Mata ini mengindikasikan kemampuan Dorje Shugden untuk mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan kita. Dorje Shugden bermanifestasi dalam wujud biksu karena dia bangkit dari garis silsilah biksu murni di masa lalu. Salah satu inkarnasi Dorje Shugden yang paling termashyur adalah seorang guru Dharma yang agung yang dikenal dengan nama Tulku Drakpa Gyeltsen. Tulku Drakpa Gyeltsen adalah biksu yang terkenal pada masa Dalai Lama ke-5.

Pedang Kebijaksanaan

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 22

Dorje Shugden memegang pedang kebijaksanaan di tangan kanannya dan hal ini menandakan bahwa Dorje Shugden adalah Manjushri, Budha kebijaksanaan. Di bagian ujung pedangnya terdapat nyala api yang berarti dia dapat melenyapkan rintangan-rintangan dalam hidup kita sehingga kita dapat mempraktekkan Dharma. Pedang ini juga mampu menghancurkan karma buruk kita dan menciptakan kondisi agar kebijaksanaan dapat tumbuh dalam batin kita. Bentuk pedang yang bergelombang dapat menciptakan kerusakan yang lebih besar, yang merupakan pertanda Dorje Shugden dapat memotong ego, delusi dan pikiran-pikiran negatif yang menyebabkan ketidak-puasan dalam diri kita dengan cepat.

Kait Penjinak

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 23

Dorje Shugden memegang kait penjinak di lekukan lengan kirinya. Kait penjinak melambangkan kekuatan Dorje Shugden untuk menjinakkan pikiran liar yang negatif dan kebiasaan buruk yang biasanya mengakibatkan kita melakukan perbuatan negatif. Kait penjinak juga membantu menarik sumber daya yang kondusif seperti umur panjang, kesehatan, keuangan, lingkungan, dan sahabat spiritual agar kita dapat mempraktekkan Dharma.

Permata Pengabul Harapan

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 24

Dorje Shugden memegang permata pengabul harapan di tangan kirinya yang menandakan kemampuannya untuk memberikan pada kita apapun yang kita inginkan dan meningkatkan kesempatan kita untuk bertemu Dharma serta memahami Dharma. Dengan memegang permata ini adalah pertanda ketika kita berdoa, percaya dan bermeditasi kepadanya maka dia dapat memenuhi semua permintaan kita.

Sepatu Boot Kulit Macan

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 25

Dorje Shugden mengenakan sepatu boot dari kulit macan yang menunjukkan bahwa dia bermanifestasi dalam wujud duniawi yang berarti kita memiliki hubungan karma yang lebih dekat dengannya sehingga dia mampu membantu kita dengan lebih cepat ketika kita berdoa kepadanya. Ini juga menandakan kasih sayang Dorje Shugden untuk selalu membantu orang-orang biasa seperti kita.

Luwak yang Memuntahkan Permata

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 26

Menandakan bahwa Dorje Shugden akan memberkati praktisi yang tulus dengan berkah material yang cukup bagi kita untuk fokus dalam praktek spiritual kita.

Singa Salju

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 27

Singa adalah raja diantara para hewan. Dorje Shugden menunggangi singa salju menandakan bahwa dia mampu menaklukkan ego dan kualitas negatif para praktisi. Hal ini juga merepresentasikan kekuatan Dorje Shugden yang luar biasa. Di dalam sadhananya, Dorje Shugden memiliki kekuatan setara 10 juta pelindung Dharma.

Api Kebijaksanaan

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 28

Dorje Shugden dikelilingi dengan api kebijaksanaan di seluruh tubuhnya yang melambangkan bahwa dia telah merealisasikan kasih yang luar biasa. Ketika kita mendekat kepadanya, maka api kebijaksanaan tersebut akan membakar semua kebodohan dan pandangan salah kita.

Teratai, Musuh dan Bundaran Matahari

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 29

Dorje Shugden berdiri diatas figur musuh, teratai dan bundaran matahari. Musuh disini digambarkan menyerupai wujud manusia yang melambangkan batin kita yang dipenuhi dengan kebodohan, kemelekatan dan kebencian. Bundaran matahari merepresentasikan hancurnya kekotoran batin kita. Teratai melambangkan tindakan Dorje Shugden yang digerakkan oleh kasih sayang universal untuk menolong kita. Hal ini menandakan bahwa Dorje Shugden adalah Budha dan dia akan menolong makhluk apapun, dimanapun, kapanpun ketika kita melakukan prakteknya.

21

B A G I A N 2

PRAKTEK DORJE SHUGDEN

Memulai Praktek Dorje Shugden

Mantra Dorje Shugden

Kita melafalkan mantra untuk mengundang pelindung Dharma agar datang membantu kita dan mengabulkan permohonan kita.  Melafalkan mantra sangat efektif untuk memberkati tubuh kita.

Terdapat lima mantra yang akan menjadi mantra utama dalam praktek Dorje Shugden yaitu :

  • Mantra utama Dorje Shugden (untuk mendapatkan kombinasi dari semua Siddhi)

          OM BENZA WIKI BITANA SOHA

  • Mantra Dorje Shugden untuk kesehatan

          OM BENZA WIKI BITANA SHANTI SIDDHI HUNG

  • Mantra Dorje Shugden untuk meningkatkan kekayaan material dan spiritual

          OM BENZA WIKI BITANA SOHA TSESO PALJOR LONG CHO TAMCHED PUTRIM KURU OM

  • Mantra Dorje Shugden untuk perlindungan

          OM BENZA WIKI BITANA RAKYA RAKYA HUNG

  • Mantra Dorje Shugden untuk kendali dan pengaruh

OM BENZA WIKI BITANA WANGSHA GURU OM

 

Tata Cara Pelafalan Mantra

Untuk perlindungan harian, para praktisi dianjurkan untuk melafalkan mantra utama Dorje Shugden (OM BENZA WIKI BITANA SOHA) sebanyak 1x putaran mala atau 108x pelafalan setiap hari atau lebih.

Namun bagi para praktisi yang menerima instruksi khusus dari guru mereka disarankan untuk melafalkan mantra sebanyak jumlah yang diinstruksikan.

Setelah selesai melafalkan mantra-mantra diatas, lanjutkan dengan melafalkan mantra untuk rombongan Dorje Shugden sebanyak 21x atau lebih.

OM DHARMAPALA MAHA RANDZA BENDZA BEGAWAN RUDRA PANTSA KULA SARVA SHATRUM MARAYA HUM PHAT!

Pelafalan mantra Dorje Shugden bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja namun hindari pelafalan mantra di dalam toilet.

25

Doa Dedikasi 

Di akhir setiap sesi setelah kita melakukan praktek Dharma atau kebaikan lainnya termasuk setelah melafalkan mantra Dorje Shugden, disarankan untuk mengakhiri dengan melafalkan doa dedikasi sesuai apa yang kita inginkan. Doa dedikasi sangat penting dalam tradisi Budhisme untuk menyegel semua kebajikan yang dihasilkan dari melakukan praktek Dharma dan meditasi.

26

Doa Singkat Kepada Dorje Shugden

Sebuah Permintaan Harian untuk Sampatti1, Śānti2 dan Surakṣā3

Dikompilasi oleh Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25

Di surga4 terdapat perwujudan makhluk-makhluk ilahi yang tak terhingga banyaknya. Semua perwujudan tersebut secara khusus menunjukan kepada kita aspek-aspek ilahi5 yang berbeda dengan tujuan untuk memberikan manfaat kepada semua makhluk hidup. Semua wujud rupakaya6 ilahi memiliki kasih sayang, cara-cara yang tepat dan kebijaksanaan. Kita memohon kepada mereka ketika kita bahagia, sedih, terpuruk, tersesat, tercukupi, bingung, kosong, dan dalam berbagai jenis emosi yang terus kita alami karena batin yang tak terlatih.

Memahami sifat kita, Makhluk bijaksana nan Agung Dorje Shugden, karena itu, dekaplah kami di hatimu seperti orang tua kepada anak tunggalnya.

Meskipun perwujudan ilahi tidak membutuhkan persembahan dan hadiah dari kita, kami mempersembahkan kepadamu Manjushri7 tertinggi Dorje Shugden persembahan teh, dupa dan kumpulan mantra, untuk memintamu agar memberkahi kami, menjadikanmu sebagai bagian hidup kami, untuk menetap di kediaman kami dan memberikan kami pertanda dan isyarat baik maupun buruk. Ketika hal negatif muncul, hancurkanlah dengan segera. Mohon tingkatkanlah hal yang positif dalam pikiranku yang lelah dan usang saat aku membaringkan harapanku kepadamu.

Ketika kesulitan, masalah dan kebingungan muncul, kami memohon kepadamu, yang tidak lain adalah puncak dari semua kuasa, maha suci dan maha mengetahui untuk memberkahi diriku, keluarga, orang yang kucintai, lingkungan dan bahkan hewan peliharaanku. Semoga aku melihat kebijaksanaan, menemukan harapan dan kedamaian.

Aku memohon kepadamu, Oh Bhagavān8 Ilahi Dorje Shugden, yang mengenakan topi berkubah bundar dan tiga jubah biksu9 berwarna kuning jingga, yang memegang pedang kebebasan, keadilan dan kebijaksanaan dan mencengkram sebuah permata pengabul harapan, yang menunggangi singa unggul penakluk semua hal negatif, untuk mengabulkan semua harapanku. Aku memahami bahwa doaku mungkin bukan yang terbaik, sehingga aku berserah pada kebijaksanaanmu untuk hasilnya meskipun mungkin bukan seperti yang kuharapkan. Mohon berkahilah diriku dan semuanya semoga kita dapat menapaki kota kebebasan tertinggi.

Bhagavān Agung Dorje Shugden, aku memohon kepadamu dengan tulus dari hatiku agar menjadi bagian dari hidupku, memberkahi tempat tinggalku, dan memberikanku kebijaksanaan, pelipur lara dan kenyamanan, sehingga aku dapat melayani makhluk lain tanpa agenda, dan aku dapat berfokus kepada mereka dan tidak terpaku pada diriku sendiri, yang menciptakan lebih banyak masalah bagi semua yang aku sayangi.

Berkahilah aku agar menjadi lebih baik, lebih bijaksana, lebih welas asih, bertoleransi dan memaafkan semua yang menyakiti dan mencintaiku. Agar dekat denganmu, kami harus menanggalkan kedangkalan batin kami. Kami harus membuang pandangan yang salah, proyeksi dan kekakuan. Di saat-saat terakhirku ketika aku hendak meninggalkan alam keberadaan ini, hanya tindakan-tindakan positif yang telah kulakukan yang akan bermanfaat karena segala sesuatu dan semua orang akan kutinggalkan. Izinkan aku menyadari hal ini dan bertingkah laku seperti ini sekarang juga! Di saat-saat genting ini, semoga aku mendapatkan penglihatan dirimu, Dorje Shugden yang masa kuasa dan maha pengasih, untuk membawaku ke tempat yang mungkin akan kutuju di langit10 untuk melanjutkan perjalanan spiritualku.

Aku mempersembahkan kepadamu teh berwarna kuning emas dan keyakinanku untuk memenuhi semua doa-doaku dan memperoleh siddhi11. Dengan melafalkan mantramu, semoga kesembuhan, kedamaian, cinta, umur panjang, perlindungan dan pandangan sempurna terhadap sunyata12 muncul.

Mantra pengabul permohonan, kedamaian dan kebijaksanaan: OM BENZA WIKI BITANA SOHA

(Adalah sangat baik untuk melafalkan mantra ini sebanyak 1 putaran mala atau lebih per hari. Berpatisipasilah dalam retret dimana anda melafalkan mantra sebanyak 100.000 kali atau lebih per tahun, setiap tahun. Konsistensi membuahkan hasil!)

Aku mendedikasikan doa agung yang tulus ini kepada semua makhluk sempurna yang maha tahu dan Pelindung yang Agung Dorje Shugden, semoga aku dapat secepatnya menjadi makhluk yang penuh kasih sayang, cahaya, cinta dan tercerahkan.

*****

Doa harian kepada Dorje Shugden ini disusun oleh Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 pada hari Kamis, 26 Februari 2015 pukul 02:03 pagi untuk Datin MJ. Ada banyak ritual, teks, doa dan tata cara untuk Dorje Shugden. Namun bagi seseorang yang mempunyai banyak tanggung jawab dan tidak memiliki waktu, doa ini sangat cocok untuk mereka. Saya menyusun ini dengan motivasi untuk menyederhanakannya untuk Datin. Doa ini dapat dipraktekkan oleh siapapun kapanpun. Lagipula, kata-kata hanyalah sebuah ekspresi dari harapan universal dan keinginan yang kita semua miliki. Tidaklah perlu untuk berfokus pada kata-kata, namun kita memerlukannya untuk mengungkapkan aspirasi kita. Semoga doa singkat ini memberikan manfaat untuk Datin, dan saya akan membuatnya tersedia untuk dapat diakses bagi banyak orang lain. Siapapun bisa melafalkan doa ini tanpa izin khusus, terlepas dari kepercayaan mereka. Dorje Shugden menolong semua makhluk tanpa memandang agama, suku, kepercayaan atau latar belakang. Datin adalah inspirasi saya dalam menyusun ini. Banyak orang yang akan menggunakan ini untuk ‘menghubungi’ Budha Perdamaian Dunia harus berterima kasih kepada Datin. Saya mempersembahkan doa yang terbaik. Sarva Manggalam!

1 Kekayaan

2 Kedamaian

3 Perlindungan

4 Berbagai perwujudan alam pencerahan

5 Makhluk agung yang memiliki enam paramita. Dalam bahasa Tibet dan Sanskrit, yaitu: (1) Jinpa (dana, “kemurahan hati”), (2) Tsultrim (shila, “moralitas”), (3) Zopa (kshanti, “kesabaran, penerimaan, pengampunan”), (4) Tsondru (virya, “usaha gembira, ketekunan, semangat”), (5) Samten (dyana, “konsentrasi meditasi”), dan (6) Sherab (prajna, “kesadaran-kebijaksanaan yang membedakan, pengetahuan yang dalam”).

6 Inkarnasi/ emanasi/ tulku

7 Seorang Arya Bodhisattva yang merupakan perwujudan dari kebijaksanaan semua makhluk tercerahkan.

8Julukan untuk Tuhan, dalam kitab Buddhis Pali, sebutan ini digunakan untuk Budha Gautama, mengacu padanya sebagai Bhagavān Budha (diterjemahkan sebagai ‘Raja Agung Budha’ atau ‘Yang Terberkahi’) Sebutan Bhagavān juga ditemukan di dalam teks Budhisme Theravadin, Mahayana dan Tantrik. Bhagavān secara umum diterjemahkan sebagai Raja atau Tuhan.

9 Biarawan yang Ditahbiskan Penuh

10 Kelahiran kembali yang baik di masa yang akan datang di alam keberadaan dan/atau tanah suci para makhluk tercerahkan

11 Pencapaian lazim yang membawa pada ketenangan dan kemampuan luar biasa seperti menghilangkan halangan-halangan, menurunkan/ menghentikan hujan, menaklukkan makhluk-makhluk negatif yang tak kasat mata, mendatangkan sumber daya, kewaskitaan yang lebih tinggi, dan lain-lain.

12 Pandangan benar tentang keberadaan kita; kekosongan

26

 

B A G I A N 3

PERTANYAAN-PERTANYAAN UMUM TERKAIT PRAKTEK DORJE SHUGDEN

Dari mana awal mula praktek Dorje Shugden di Kechara berasal?

Dorje Shugden bangkit sebagai Pelindung utama dari ajaran Lama Tsongkhapa sekitar 350 tahun yang lalu yaitu pada zaman Dalai Lama ke-5, yang mengkompilasi bait-bait pujian pertama untuknya.

Akan tetapi, aliran dan praktek ini baru mulai dipraktekkan secara umum dan berkembang pesat di seluruh dunia berawal dari Mahasidha agung yang bernama Tagpu Pemavajra. Tagpu Pemavajra memiliki kemampuan khusus untuk melakukan perjalanan astral ke tanah-tanah suci Budha. Pada suatu hari atas permintaan dari murid utamanya, Kyabje Pabongka Dechen Nyingpo untuk keperluan mengkompilasi teks-teks baru untuk praktek Dorje Shugden, Tagpu Pemavajra melakukan perjalanan astral ke surga Tushita, yang merupakan tanah suci kediaman Budha Maitreya. Disana, Tagpu Pemavajra meminta Lama Tsongkhapa dan Duldzin Drakpa Gyeltsen, yang merupakan murid utama Lama Tsongkhapa dan juga inkarnasi Dorje Shugden di masa lampau, untuk menjelaskan secara terperinci mengenai ajaran dan praktek Dorje Shugden.

Untuk pertama kalinya, seluruh pengikut dan mandala Dorje Shugden beremanasi keluar dari tahta Lama Tsongkhapa. Dorje Shugden kemudian mentransmisikan praktek ini secara langsung kepada Tagpu Pemavajra, sama seperti pada saat Budha Maitreya mentransmisikan lima ajaran filosofi utama kepada guru Asanga di Surga Tushita sebelumnya.

Tagpu Pemavajra kemudian mentransmisikan instruksi ini kepada murid-muridnya yaitu Kyabje Pabongka Dechen Nyingpo, yang menulis karya “Gendang Merdu”, praktek doa-doa, dan menurunkannya kepada Kyabje Trijang Rinpoche yang kemudian menulis penjelasan mengenai doa ini. Dari Trijang Rinpoche, yang juga merupakan guru junior Dalai Lama ke-14, ajaran ini diturunkan kepada Kyabje Zong Rinpoche yang merupakan Guru utama dari Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25, pendiri dan penasihat spiritual Organisasi Kechara yang pada akhirnya diturunkan kepada kita semua.

Oleh karena itulah, pada masa ini kita sangat beruntung dapat memperoleh berkat ajaran dan praktek Dorje Shugden yang sangat otentik dan agung ini. Semua ini tidak terlepas dari welas asih universal dari para Guru agung yang terus bereinkarnasi dengan tujuan memberikan manfaat kepada semua makhluk yang tak terhitung jumlahnya di alam samsara.

Apakah diperlukan inisiasi sebelum memprakekkan Dorje Shugden?

Tidak, kita tidak membutuhkan inisiasi untuk melafalkan doa dan mantra Dorje Shugden.

Apa yang akan terjadi bila saya lupa melakukan praktek ini ketika, contohnya, saya sakit atau sedang melakukan perjalanan?

Dorje Shugden adalah emanasi dari Manjushri, Budha Kebijaksanaan yang tercerahkan. Dia bangkit sebagai Pelindung Dharma sekitar 350 tahun yang lalu khususnya untuk melindungi Pandangan Tengah Nagarjuna, seperti yang diajarkan oleh Lama Tsongkhapa.

Dorje Shugden sering dianggap sebagai pelindung dari tradisi Gelugpa, tetapi sebetulnya, dia melindungi semua praktisi Dharma yang tulus sama-rata. Bila karena alasan apapun kalian tidak bisa melafalkan doa atau mantranya selama satu atau dua hari, lanjutkan praktek kalian disaat kalian bisa.  Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kalian. Namun, untuk mendapatkan hasil yang terbaik, akan lebih bermanfaat bila kalian bisa melakukan praktek secara konsisten.

Saya telah memiliki praktek Pelindung Dharma jadi mengapa saya harus melakukan praktek Dorje Shugden?

Dorje Shugden bermanifestasi secara khusus pada zaman kemerosotan untuk membantu para praktisi pada masa ini. Karena kesulitan dan gangguan yang jauh lebih besar sekarang ini, maka praktek Dorje Shugden sangatlah efektif untuk membantu kita mempurifikasi rintangan-rintangan ini dan memberkahi kita dengan situasi luar maupun dalam yang kondusif agar kita dapat mempraktekkan Dharma. Prakteknya melengkapi semua praktek-praktek kita dan tidak ada konflik sama sekali.

Kalian harus melanjutkan praktek Pelindung Dharma kalian yang sekarang, tetapi kalian juga dapat menambah praktek Dorje Shugden ke dalam doa harian kalian. Kalian dapat menambahkan doanya setelah doa Pelindung kalian, atau hanya melafalkan mantranya.

Bolehkan saya melakukan praktek Dorje Shugden bila saya sudah memiliki praktek spiritual lainnya?

Ya. Tidak ada konflik atau masalah jika menambahkan praktek Dorje Shugden bersama dengan praktek lain yang telah kalian lakukan. Kalian juga dapat meletakkan patungnya di altar bersamaan dengan patung Budha lainnya. Akan tetapi bila kalian telah memiliki seorang Guru yang telah menasihati kalian untuk melakukan doa-doa tertentu, kalian harus tetap melakukan apa yang telah diajarkan.

Bila kalian ingin melakukan praktek Dorje Shugden (atau praktek lainnya dalam hal ini) diluar nasihat yang telah diberikan sebelumnya oleh Guru kalian, mintalah nasihat dari Guru kalian karena seorang Guru mengetahui praktek apa yang baik dan bermanfaat bagi kalian.

Apakah Dorje Shugden akan mencelakakan kalian bila kalian berhenti melakukan prakteknya?

Tidak mungkin bagi makhluk tercerahkan seperti Dorje Shugden untuk mencelakakan siapapun. Seluruh tindakannya adalah berdasarkan kasih sayang dan kebijaksanaan dan dia tidak akan melakukan apapun yang mencelakakan makhluk manapun.

 

Tentang Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 30

Memenuhi doa dalam kehidupan sebelumnya, Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 memilih untuk terlahir kembali dalam kondisi sulit agar dapat dekat dengan mereka yang benar-benar membutuhkannya. Dengan penuh keyakinan dan ketekunan, dia menghadapi berbagai tantangan seperti kondisi terasing, hidup dalam keluarga yang berantakan, mengalami penyiksaan fisik dan penolakan tanpa henti terhadap apa yg dia cintai yaitu Dharma. Pada saat ini, Rinpoche telah menjadi Guru spiritual dan sahabat yang banyak memberikan inspirasi bagi kita semua.

Rinpoche telah diakui oleh Y.M. Dalai Lama ke-14 sebagai reinkarnasi dari kepala Biara Gaden Shartse ke-72 yaitu Gedun Nyedrak, dan sebelumnya merupakan salah satu dari delapan murid utama Je Tsongkhapa, tokoh suci penemu tradisi Gelugpa dalam Budhisme Tibet.

Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 belajar dari banyak Guru agung yang dihormati, termasuk diantaranya Y.M. Dalai Lama yang ke-14, Y.M. Kyabye Zong Rinpoche, Y.M. Kyabje Ling Rinpoche dan Y.M. Lati Rinpoche.

Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 berasal dari keturunan Mongolia-Tibet. Dia menjalani masa kanak-kanak di Taiwan dan Amerika serta pendidikan yang intensif di Biara Gaden, India. Beliau adalah Guru yang jarang ditemukan dan sangat berharga. Beliau memiliki kemampuan mengajar yang unik dan dapat menjembatani dunia Timur dan Barat.

Dengan mengorbankan keinginan pribadinya untuk menjalankan pertapaan selama hidupnya, Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 telah mengajar di Asia Tenggara sejak tahun 1992 untuk memenuhi keinginan Gurunya Y.M. Lati Rinpoche dan Y.M. Kensur Jampa Yeshe Rinpoche.

Manfaat luar biasa melalui kegiatan Dharma Beliau telah diramalkan di wilayah ini, termasuk China. Hal tersebut tidaklah mengherankan setelah menyaksikan kemampuan mengajar Beliau yang menarik, pengetahuan dan kebijaksanaan yang dalam, dan tindakan yang penuh kasih terhadap murid dan temannya yang senantiasa bertambah jumlahnya.

Tanpa menghilangkan atau mengurangi makna dalam ajaran Budha, Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 sangat berbakat dalam menyampaikan ajaran suci Budha dengan cara yang mudah diterima oleh kita yang hidup di abad ke-21 ini.

Dengan proses metode pengajaran yang berdasarkan logika dan nilai-nilai kemanusiaan, pesan-pesan yang disampaikan Beliau bersifat universal, bebas dari batasan dogma, kebudayaan dan latar belakang pribadi.

Cara mengajar Rinpoche yang berkharisma membangkitkan rasa tertarik kita untuk menjelajahi kondisi kemanusiaan dengan lebih dalam lagi. Kebaikan, kemurah-hatian dan semangat Beliau telah menarik dan meyadarkan banyak orang untuk memasuki mempelajari, perenungan dan meditasi sesuai ajaran Budha.

Dengan tradisi “Mahasidha yang suci”, Rinpoche membantu dan membimbing kita untuk mencapai Pencerahan. Dia menolak memisahkan antara Dharma dan kehidupan sehari-hari. Beliau dapat mengalihan setiap situasi menjadi metode kontemporer untuk menyebarkan makna ajaran Budha. Dia diakui oleh Guru dan muridnya sebagai Bodhisattva yang hidup di antara kita.

Saat ini Rinpoche berdomisili di Malaysia dan beliau adalah pendiri dan Guru Spiritual Organisasi Kechara, yang merupakan cabang Gaden di Malaysia.

Informasi lebih lanjut mengenai Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25 dapat ditemukan di www.tsemrinpoche.com atau kecharaindonesia.org

 

Tentang Yayasan Kechara Indonesia

PELINDUNG DHARMA DORJE SHUGDEN 31

Kechara Indonesia adalah organisasi nirlaba dan berafiliasi dengan organisasi Kechara di Malaysia. Kami secara resmi disahkan sebagai Yayasan Kechara Indonesia pada tanggal 17 Oktober 2012 oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Terinspirasi oleh Y.M. Tsem Tulku Rinpoche ke-25, pembimbing spiritual organisasi Kechara, berikut ini adalah visi dan misi kami :

VisiCompassion Knows No Barrier:  Membantu sesama yang membutuhkan tanpa membedakan suku, ras, agama, dan jender

  • MisiBerperan aktif dalam memperbaiki taraf hidup kaum marginal dan membangun individu yang mandiri melalui program pemberian santunan kebutuhan pokok dan dana pendidikan
  • Mendukung program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan melalui program-program yayasan baik yang bersifat tetap maupun tidak tetap
  • Menanamkan rasa peduli dan cinta kasih kepada masyarakat untuk berperan aktif dalam membantu mereka yang membutuhkan melalui sosialisasi kegiatan Yayasan kepada donatur melalui media sosial, cetak dan sarana lainnya.
  • Melaksanakan kegiatan dengan jujur, kreatif dan transparan dengan menerima masukan dari stakeholder Yayasan Kechara Indonesia

Informasi lebih lanjut mengenai Yayasan Kechara Indonesia dapat ditemukan di www.kecharaindonesia.org

 

BIBLIOGRAPHY

H.E. Tsem Rinpoche. “Why We Need Dharma Protector”. www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/dorje-shugden-teaching-videos.html#teach01. Web. 29 Jul 2015

H.E. Tsem Rinpoche. “The Iconography of Dorje Shugden”. www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/dorje-shugden-teaching-videos.html#teach06. Web. 29 Jul 2015

H.E. Tsem Rinpoche. “Magadha Sangmo”. www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/magadha-sangmo-%E9%A1%BB%E6%91%A9%E6%8F%90%E5%A5%B3.html. Web. 18 Sep 2015

H.E. Tsem Rinpoche. “How To Begin Dorje Shugden Practice”. www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/dorje-shugden-teaching-videos.html#teach11. Web. 29 Jul 2015

H.E. Tsem Rinpoche. “The Lineage of Dorje Shugden in Kechara”. www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/buddhas-dharma/dorje-shugden-teaching-videos.html#teach05. Web. 29 Jul 2015

Suhendra, Valentina. Yayasan Kechara Indonesia. “About Kechara Indonesia”. www.kecharaindonesia.org. Web. 17 Okt 2012

Suhendra, Valentina. Yayasan Kechara Indonesia. “About H.E. Tsem Tulku Rinpoche”. www.kecharaindonesia.org. Web. 17 Okt 2012

Dorje Shugden Community. “FAQS – About Dorje Shugden Practice”. www.dorjeshugden.com/introduction/faqs/where-did-dorje-shugdens-practice-come-from. Web. 3 Jul 2012

Dorje Shugden Community. “Dorje Shugden’s Five Families”. www.dorjeshugden.com/introduction/mandala/dorje-shugdens-five-families. Web. 3 Jul 2012

Dorje Shugden Community. “Dorje Shugden Lineage”. www.dorjeshugden.net/dorjeshugden.net/lineage. Web

“Skandha: The Five Aggregates”. https://en.wikipedia.org/wiki/Skandha. Web. 15 August 2015

“Buddhist Protector”. https://en.wikipedia.org/wiki/Dharmapala. Web

 

2,270 total views, 2 views today

In Category: Information & Resources


History and the importance of dharmapala

Sejarah dan Pentingnya Dharmapala

‘Dharmapala’ – hoary Sanskrit from India, terra firma giving birth to the Vedas;’ The End of All Knowledge’, innumerable deities, home of the Ganges river and Buddha The Awakened One – means “…guardian of the teachings[i]” Variously, the term is also used to mean defenders or protectors of the law of the ‘Diamond Vehicle’. Continue reading…

708 total views, no views today

In Category: Information & Resources


Life, Legend, and to works Nagarjuna

Precious little is known about the actual life of the historical Nagarjuna. The two most extensive biographies of Nagarjuna, one in Chinese and the other in Tibetan, were written many centuries after his life and incorporate much lively but historically unreliable material which sometimes reaches mythic proportions.

However, from the sketches of historical detail and the legend meant to be pedagogical in nature, combined with the texts reasonably attributed to him, some sense may be gained of his place in the Indian Buddhist and philosophical traditions.

Nagarjuna was born a “Hindu,” which in his time connoted religious allegiance to the Vedas, probably into an upper-caste Brahmin family and probably in the southern Andhra region of India. The dates of his life are just as amorphous, but two texts which may well have been authored by him offer some help. Continue reading…

654 total views, no views today

In Category: Information & Resources


Dorje Shugden Trakze for clear out disturbance of black magic and spirits

COMMENTARY ON TRAKZE PRACTICE

A Practice to Dispel Black Magic and Spirits

This commentary on Trakze practice was compiled from traditional sources by His Eminence Tsem Rinpoche. Date: 30th January 2015

[NOTE: This is a commentary on Trakze’s practice and can be done daily by anyone who wants to receive protection even if you are not afflicted by black magic and spirits. This practice does not require any initiations] Continue reading…

1,335 total views, 1 views today

In Category: Information & Resources


Largest Dorje Shugden in the world

Dorje Shugden Terbesar di Dunia 1

This is our Dorje Shugden statue in Wisdom Hall located in Kechara Forest Retreat. This Dorje Shugden chapel is our space dedicated to Dorje Shugden’s practice, activities, learning, rituals, prayers and liturgies. We also screen videos, and hold classes, teachings and meditations dedicated to Dorje Shugden in front of this statue. Our Dorje Shugden chapel is large enough to fit 700 people. In front of Dorje Shugden is Buddha Shakyamuni, who has been temporarily placed here until the construction for our larger hall is complete then Shakyamuni will be officially escorted there. Continue reading…

1,504 total views, no views today

In Category: Information & Resources