The Interview with Noble Gaden Tripa 101st Lungrik Namgya

The interview with noble gaden tripa 101st lungrik namgya

“Gaden Tripa – Pemimpin Tertinggi Tradisi Gelugpa Buddha Tibet”

Berikut ini adalah interview dengan Yang Mulia Ganden Tripa ke-101 – pemimpin tertinggi Tradisi Gelug.

Interview ini dilakukan pada saat kunjungan resmi Ganden Tripa ke-101 ke Singapura.

Interview ini dilakukan oleh Kunga Nyima dan diterjemahkan oleh Associate Profesor Huang Yi Yang dari Taiwan. [Interview] ini dilakukan pada tanggal 18 Juni 2003 di kediaman Yang Mulia di Singapura.

Yang Mulia Ganden Tripa ke-101 dijamu oleh Charitable Assistance Society pada kunjungan resminya ke Singapura dari 25 Mei 2003 sampai 23 Juni 2003.

Mengenai Ganden Tripa:

Ganden Tripa, Sakya Trizin dan Karmapa adalah pemimpin resmi dari tradisi Gelug, Sakya dan Karma Kagyu. Je Tsongkhapa adalah pendiri tradisi Gelug. Garis Ganden Tripa adalah penerus spiritual Tsongkhapa dan karena itu pemimpin tertinggi resmi dari Tradisi Gelug Buddha Tibet. Garis Dalai Lama dan Panchen Lama berasal dari Tradisi Gelug.

Ganden Tripa ke-101, bersama dengan Mindroling Trichen, dinobatkan pada tahun 2002 sebagai pemimpin dari tradisi Gelug dan Nyingma.

Makhluk yang beruntung dapat berhubungan dengan Yang Mulia, hampir tidak ada yang tidak menyadari bahwa Yang Mulia adalah PERMATA…… sebuah tanda dari buah dan bunga ajaran suci sang Buddha. Benar-benar berkat untuk secara pribadi menyaksikan ketulusan absolut, kehangatan, kebijaksanaan, humor tak berdosa, kesabaran yang tak ada habisnya dan kejujuran Yang Mulia.

“Semoga ini bermanfaat !!”

Agama Buddha

Apa yang hal paling esensial dan fundamental bagi seorang penganut Buddha?

Penganut Buddha harus mengetahui bahwa samsara adalah penderitaan. Kita perlu menyadari bahwa samsara adalah penderitaan sebelum mencoba bebas darinya. Satu-satunya cara bebas dari samsara adalah dengan mengikuti Ajaran sang Buddha. Menurut Teks, hanya dengan mengikuti Ajaran Buddha akan ada kebebasan akhir dari samsara.

Apakah hal paling penting yang harus diingat oleh penganut Buddha?

Seorang penganut Buddha harus selalu mengingat 3 Permata: Sang Buddha, Ajaran-Nya [Dharma] dan Kumpulan dari Muridnya yang Mulia [Sangha]. Seorang penganut Buddha harus menginternalisasi kualitas tertinggi dari 3 Permata. Secara umum, sang Buddha adalah seperti seorang dokter, Dharma seperti obat, dan Sangha seperti suster dan asisten dari dokter.

Kita, makhluk hidup, di samsara, seperti pasien. Kita memerlukan resep dokter untuk sembuh. Selain itu, kita juga perlu mengandalkan dokter dan para asistennya juga. Seorang penganut Buddha harus selalu mengambil refuge dalam 3 Permata dan juga untuk mengingat kualitas dari 3 Permata.

Bagaimana kita mempertahankan “Bodhicitta”: sikap mendedikasikan diri kita sepenuhnya bagi kesejahteraan makhluk lain; ingin mencapai kondisi Pencerahan Sepenuhnya atau ke-Buddha-an demi kebaikan makhluk lain?

Sulit untuk mempraktekan ajaran. Bila kita dapat mempraktekan Ajaran, ini adalah Bodhicitta sebenarnya. Bila kita tidak bisa, maka ini bukan Bodhicitta. Untuk membangkitkan Bodhicitta, kita harus menumbuh-kembangkan Cinta-kasih [mengharapkan kebahagiaan dan penyebab kebahagiaan bagi semua makhluk] dan Kasih sayang [Mengharapkan semua makhluk untuk bebas dari penderitaan dan penyebab penderitaan].

Selanjutnya, kita harus memikirkan kebaikan ibu kita. Kemudian, kita perlu mengingat kebaikan semua makhluk karena mereka telah bertindak sebagai ibu kita dalam kehidupan masa lalu yang tak terhingga. Selanjutnya, kita perlu menumbuh-kembangkan harapan untuk membalas kebaikan semua ibu makhluk hidup yang tak terhingga. Sulit untuk mempraktekan Bodhicitta. Bila kita mempraktekan Bodhicitta, ini adalah Bodhicitta yang sebenarnya.

Bila kita tidak bisa mempraktekan Bodhicitta, maka ini bukanlah Bodhicitta yang tulus. Selalu mencoba untuk mempertahankan hati yang baik. Jangan terganggu dengan apa yang dilakukan orang lain. Pertahankan hati yang baik. Ini adalah jalan penganut Buddha yang sebenarnya.

Apakah menjadi vegetarian diharuskan?

Telah diketahui bahwa memelihara tanaman membunuh banyak serangga sementara menyembelih satu sapi di Tibet kuno dapat memberi makan satu keluarga selama seminggu. Karena itu, dari sudut pandang numerik, kelompok ini menyatakan bahwa kita harus mengkonsumsi hewan berukuran besar daripada makan sayur yang menyebabkan kematian bagi makhluk tak terhingga. Di samping itu, beberapa guru telah mengharuskan vegetarianisme bagi penganut Buddha sementara orang lain mengutip teks ajaran Buddha yang berlawanan.

Apakah sudut pandang Yang Mulia?

Secara umum, Sang Buddha mengajar 3 hal yang berbeda terkait dengan vegetarianisme. Yang pertama, dalam tradisi Theravada, diajarkan bahwa kita tidak boleh makan tiga kategori dari “Daging Tidak Murni”: a) kita mempersepsikan melalui mata atau telinga kita pembunuhan daging tersebut; b) kita mencurigai bahwa daging tersebut dibunuh untuk kita; c) kita tahu bahwa daging tersebut telah dibunuh untuk kita.

Disamping 3 kategori daging, kita diperbolehkan untuk mengkonsumsi yang lain. Yang kedua, dalam tradisi Mahayana, diajarkan secara eksplisit bahwa mengkonsumsi daging tidak tepat dan salah. Jadi vegetarianisme diharuskan di sini.

Yang ketiga, dalam tradisi Vajrayana, diajarkan bahwa praktisi jalan ini harus makan daging. Alasannya dijabarkan dalan teks dan memerlukan penjelasan ekstensif. Tidak pantas bagi saya untuk merincikan hal ini sekarang. Murid ajaran Buddha dapat memilih untuk mengikuti ketiga ajaran ini. Tidak mungkin bagi saya untuk mendikte mana yang harus diikuti.

Ada beberapa wihara Buddha yang berkonsentrasi pada melakukan kegiatan sosial sementara yang lain berkonsentrasi terutama pada praktek spiritual. Apakah pendapat yang mulia mengenai apa yang harus dikonsentrasikan oleh wihara Buddha?

Melakukan kegiatan sosial dan praktek spiritual tidaklah berlawanan, melainkan saling melengkapi. Masing-masing memiliki alasan sendiri untuk melakukan pekerjaan mereka. Shantideva berkata dalam “Panduan Cara Hidup Bodhisattva” bahwa kemurahan hati yang sempurna tidak berarti orang tersebut hanya dapat menyempurnakan praktek murah hati setelah orang tersebut menghapuskan kemiskinan semua makhluk hidup.

Sang Buddha telah menyempurnakan praktek kemurahan hati. Akan tetapi, masih ada kemiskinan di dunia. Karena itu, hal ini membuktikan apa yang dijelaskan dalam “Panduan Cara Hidup Bodhisattva” bahwa untuk menyempurnakan praktek kemurahan hati berarti dapat menyempurnakan aktivitas kemurahan hati dari sudut pandang praktek spiritual seseorang daripada pemenuhan fisik menghapuskan kemiskinan dari semua makhluk hidup.

Mengikuti argumen ini, menumbuhkan kemurahan hati melalui berbagai praktek spiritual adalah penting. Bahkan bila saya dapat membantu, saya hanya dapat membantu sedikit makhluk dengan melakukan pekerjaan sosial. Bahkan bila saya dapat membantu 1000 makhluk, jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan populasi Singapura dan jumlah makhluk di alam semesta.

Ada 3 set sumpah: Sumpah Kebebasan Diri; Sumpah Bodhisattva dan Sumpah Vajrayana. Tiga set sumpah ini tercakup dalam Praktek 6 kesempurnaan termasuk praktek kemurahan hati. Beberapa contoh mengenai bagaimana kita dapat mempraktekan sumpah termasuk seseorang membantu makhluk manapun yang jatuh sakit atau mendapatkan kesulitan, seseorang membantu menjaga bank karena mereka menyimpan kekayaan dari banyak orang! Dari sudut pandang ini pekerjaan sosial adalah bagian esensial dari praktek dharma.

Selain itu, akan tetapi, kita juga harus mengingat ajaran Shantideva bahwa pencapaian kesempurnaan berada dalam pikiran seseorang melalui praktek spiritual juga. Karena itu, ada alasan yang valid dan baik untuk pekerjaan sosial dan juga praktek spiritual. Tidak perlu memisahkan mereka menjadi dua kelompok yang berbeda.

Ada komentar bahwa penganut Buddha dari semua tradisi, apakah itu Tibet, Thai atau bahkan dari barat, telah membangun terlalu banyak patung, stupa, wihara dan bahkan biara besar dan daripada melakukan hal ini, penganut Buddha harus menggunakan sumber daya mereka untuk proyek kesejahteraan sosial seperti rumah sakit, pusat perlindungan hewan, rumah yatim-piatu, dan lainnya yang secara langsung memberikan manfaat lebih nyata bagi makhluk hidup. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Semuanya baik. Semua dapat mengumpulkan pahala. Membangun rumah sakit atau biara adalah baik. Kedua aktivitas ini tidak percuma.

Beberapa wihara Buddha hanya akan membantu atau mensirkulasi berita aktivitas yang diorganisir oleh wihara mereka. Beberapa bahkan melalui cara implisit atau bahkan eksplisit, melarang anggota mereka menghadiri program yang diorganisir wihara lain walaupun bila program ini dilakukan oleh guru besar dan sangat bermanfaat. Konon, wihara ini mencoba untuk menjaga jumlah murid dan pengikut dalam wihara mereka karena mereka takut sumber daya ini akan “hilang” ke organisasi lain. Dengan kata lain, wihara ini menyatakan bahwa mereka hanya mencoba untuk “melindungi” murid mereka dari beberapa guru penting, dimana bahkan beberapa dari guru ini adalah pembimbing spiritual wihara mereka. Apa yang Mulia pikirkan mengenai hal ini?

Saya tidak punya komentar. Bila saya mengatakan sesuatu, beberapa orang akan marah pada saya! [ tertawa ]

Apakah akan ada akhir dari samsara?

Sulit untuk dikatakan apakah samsara akan berarhir. Disebutkan dalam teks bahwa semua makhluk akhirnya akan menjadi Buddha. Tetapi sebelumnya, samsara ada di sana. Disebutkan juga dalam teks ini bahwa tidak ada waktu dimana semua makhluk akan bebas dari samsara.

Ada tuduhan konversi penganut Buddha ke agama lain melalui cara-cara disengaja dan agresif melalui penggambaran ajaran Buddha yang tidak akurat, bantuan materi terkondisi, kesempatan pendidikan dan lainnya. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Kita berusaha sebaik mungkin untuk menyebarkan Ajaran buddha. Kita tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan dugaan praktek ini. Juga tidak baik bagi kita untuk menghentikan konversi melalui cara-cara “adil”. Hal yang paling utama adalah untuk mengembangkan dan memperbaiki diri kita. Kita perlu membangun lebih banyak wihara Buddha. Kita perlu memperbaiki manajemen dari wihara yang ada.

Seperti bagaimana agama lain menyebarkan ajaran mereka, penganut Buddha juga harus mengikutinya. Akan tetapi, kita tidak boleh berpikir melawan agama lain! Melakukan upacara keagamaan atau “puja” demi kesejahteraan ajaran Buddha juga merupakan metode lain. Menurut Ajaran Buddha, menodai ajaran Buddha adalah karma negatif.

Seperti itu juga, kita tidak boleh menodai ajaran agama lain. Kita hanya perlu memperbaiki diri kita dengan giat. Dalam konteks Buddha Tibet, Sakyapa perlu melestarikan dan menyebarkan ajaran Tradisi Sakya. Kagyupa, Nyingmapa dan Gelugpa juga perlu melakukan hal yang sama.

Menurut Yang Mulia bagaimana kondisi agama Buddha di barat?

Ajaran Buddha telah diajarkan dan ditransmisikan di barat tetapi sulit untuk memastikan setiap Ajaran diajarkan dan dipelajari dengan baik. Ada ruang untuk perbaikan terkait dengan cara wihara Buddha dikelola, cara murid barat mempelajari ajaran, cara murid-murid ini mempraktekan ajaran, acara ajaran ini dipelajari dan lainnya. Masalah lain adalah banyak guru Tibet di barat tidak memiliki tempat sendiri.

Buddha Tibet

Apakah Yang Mulia merasa bahwa waktu yang tepat telah tiba dan pantas untuk memperkenalkan Bhikshuni atau Biksuni yang Ditahbiskan Penuh ke dalam agama Buddha Tibet?

Saya tidak memiliki banyak komentar mengenai masalah ini.

Apakah Yang Mulia merasa sistem “tulku” atau sistem menemukan reinkarnasi guru masih relevan hari ini?

Masih banyak guru yang diakui hari ini. Saya tidak tahu apakah hal ini masih relevan hari ini.

Apa pendapat Yang Mulia mengenai astrologi dan divinasi?

Beberapa orang mempercayai hal ini dan beberapa orang tidak. Saya sendiri tidak memiliki banyak pendapat mengenai hal ini.

Ada kekhawatiran dan ketakutan diantara murid Vajrayana di timur dan barat mengenai perlunya, dengan cara apapun, untuk paling tidak membaca teks meditasi yidam mereka setiap hari seperti yang diperintahkan oleh guru mereka pada upacara inisiasi dimana mereka berpartisipasi. Murid-murid ini menganggap tidak melakukan meditasi yidam mereka atau tidak membaca teks yang relevan dalam sehari adalah pelanggaran serius dari sumpah dan komitment mereka. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Hal yang paling utama adalah tidak hanya dan secara buta membaca teks meditasi Yidam atau “sadhana” setiap hari tanpa pengertian. Hal yang paling utama adalah memegang sebaik kemampuan kita semua komitmen yang telah kita janjikan “komitment pembebasan diri, Bodhisattva dan Tantrik.

Baik dan penting untuk melakukan teks meditasi yidam kalian setiap hari khususnya bila kalian telah berjanji melakukan hal ini setiap hari. Tetapi ini bukanlah hal utama. Hal yang paling utama adalah memegang 3 set sumpah diatas sebaik kemampuan kalian. Bila kalian telah berjanji kepada Guru kalian untuk melakukan “sadhana” tertentu atau “Teks Praktek” setiap hari, kalian harus mencoba melakukan ini setiap hari.

Bila kalian benar-benar tidak dapat melakukannya karena sakit, maka tidak apa. Tetapi kalian harus melanjutkan setelah sembuh. Bila kalian tidak melakukan sadhana” karena kalian lupa melakukannya, maka kalian masih harus melanjutkannya pada hari berikutnya. Setidaknya kalian harus melakukan 21 kali mantra 100 suku kata Vajrasattva atau melakukan “Pengakuan kepada 35 Buddha” pada hari berikutnya.

Bila karena alasan apapun kalian tidak melakukan “sadhana” karena tidak punya waktu, kalian harus memberi-tahu Guru kalian dan mengambil inisiasi ini lagi. Sementara, sebelum kalian mengambil kembali inisiasi ini lagi, lanjutkan praktek kalian. Kalian harus melakukan paling tidak 21 kali 100 suku kata mantra Vajrasattva atau melakukan “Pengakuan kepada 35 Buddha.”

Bila karena komitmen pekerjaan, kalian tidak dapat melanjutkan praktek harian dari “sadhana” yang dijanjikan, kalian harus memberi tahu Guru kalian mengenai hal ini. Bila kalian tidak dapat memberi-tahu guru kalian karena dia sudah meninggal dunia dan kalian masih tidak bisa melakukan praktek harian ini, kalian setidaknya harus melakukan 21 kali 100 suku-kata mantra Vajrasattva atau melakukan “Pengakuan pada 35 Buddha” setiap hari.

Penting untuk memeriksa apakah ada komitmen yang harus dilakukan terkait dengan inisiasi tertentu. Bila kalian tidak dapat menjalankan komitmen ini, kalian tidak boleh mengambil inisiasi. Bila seorang murid berjanji melakukan contoh 5 “sadhana” setiap hari, maka murid tersebut tidak boleh memutuskan sendiri tanpa berkonsultasi dengan Guru mereka terlebih dahulu apakah dia boleh hanya melakukan satu “sadhana” untuk menggantikan sadhana yang lain. Akan tetapi, penting bahwa murid tidak boleh merasa sedih atau takut karena tidak melakukan praktek harian untuk alasan apapun.

Bagaimana Yang Mulia menggambarkan hubunganMu dengan HH Dalai Lama?

Yang Mulia Dalai Lama telah menjaga saya di kehidupan terdahulu. Yang Mulia telah menjaga saya ketika saya baru ditahbiskan, ketika saya menjadi Kepala Biara Universitas Tantrik Lhasa Atas, Kepala Biara Ganden Shartse, ketika saya menjadi Tuan Dharma Timur atau “Sharpa Choje” dan bahkan ketika saya sekarang menjadi Ganden Tripa atau Pemimpin tertinggi Tradisi Gelugpa.

Yang Mulia adalah Guru Utama saya yang berharga. Saya telah berfoto bersama dengan HH Dalai Lama tahun ini [Mei 2003]. Tidak ada yang lebih saya hargai di dunia. Kemudian, jangan lupa, Yang Mulia adalah, “boss” saya. [tertawa]

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai seorang murid yang tidak sekterian dan melakukan praktek atau menerima ajaran dan inisiasi dari 4 aliran Buddha Tibet?

Saya rasa sangat baik bila seorang praktisi dapat melakukan praktek semua aliran ini tanpa diskriminasi. Akan tetapi, mungkin sulit bagi beberapa orang kecuali mereka memiliki kapasitas. Dengan kata lain, mungkin juga bagi seorang praktisi untuk berkonsentrasi hanya pada satu aliran. Akan tetapi, praktisi yang hanya berkonsentrasi pada satu aliran, perlu memiliki rasa hormat dan menghargai yang tulus bagi semua aliran yang tidak dipraktekannya.

Kami sebagai penganut Buddha, kita berkata Doa Refuge menyatakan bahwa kita mengambil refuge dari Komunitas Mereka Yang Mulia. Hal ini berarti makhluk yang telah mencapai pencerahan. Para makhluk ini dapat ditemukan dalam semua aliran. Karena itu, ketika kita mengambil refuge, kita mengambil refuge pada Makhluk Tercerahkan dari semua aliran.

Bila kita hanya menerima Makhluk Tercerahkan yang terdapat pada aliran kita dan menolak Makhluk Tercerahkan dari aliran lain, apa yang kita lakukan dan katakan berbeda. Saya menganggap sikap atau tingkah laku sekterian seperti ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap komitmen agama Buddha.

Singkatnya, bila kita memiliki kemampuan, baik bagi kita untuk mengikuti ajaran dari semua aliran. Bila tidak, kita dapat berkonsentrasi pada ajaran dari salah satu aliran dimana kita memiliki afinitas tetapi pada saat yang sama, menghormati dan menghargai aliran lain dengan tulus.

Tradisi Gelugpa

Bisakah Yang Mulia memberi tahu kami karakteristik yang membedakan dari Tradisi Gelugpa dimana anda adalah pemimpin resminya?

Di barat dan timur, orang mengenali biksu Gelugpa dari topi kuning dengan ujung lancip yang dikenakan mereka. Ini adalah karakteristik khusus! [tertawa] fitur Gelugpa yang tidak biasa dari luar, biksu Gelugpa mengadopsi bentuk tenang dan lembut dari praktisi Shravaka yang hidup menurut peraturan Vinaya dari Kendaraan Sutra sementara di dalamnya memiliki kesadaran penuh dari Generasi dan Penyelesaian Kendaraan Tantra. Tradisi Gelugpa mempersepsikan Kendaraan Sutra dan Tantra sebagai pelengkap dan tidak berlawanan.

Apakah Yang Mulia merasa agama Buddha Tibet, khususnya, Tradisi Gelugpa, telah dipegang dengan baik di pengasingan?

Saya merasa pada umumnya, agama Buddha Tibet telah dilestarikan dengan baik. Di India, jumlah biksu di biara besar telah meningkat karena usaha giat. Akan tetapi, usaha untuk membuat kemajuan melebihi situasi sekarang mungkin sulit karena hampir semua usaha telah dilakukan untuk pelestarian ini. Salah satu kesulitan yang dihadapi para biksu adalah mereka sekarang berada di pengasingan, mereka harus memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri seperti menanam di ladang. Di Tibet di masa lalu, para biksu hanya perlu belajar dan berpraktek tanpa perlu bekerja untuk menghidupi diri.

Apakah Yang Mulia merasa ada beberapa perubahan yang dapat dilakukan terhadap program belajar Geshe yang diikuti oleh biara besar dari Tradisi Gelugpa?

Ada beberapa saran mengenai hal ini. Lima teks utama yang membentuk kurikulum program belajar Geshe bukanlah bertujuan untuk memenangkan debat. Debat tidak hanya dilakukan di mulut tetapi juga diikuti dengan tindakan selama 20-30 tahun belajar. Debat bukanlah hanya permainan. Sebelum kita bisa mulai melakukan praktek, pertama-tama kita perlu tahu apa dan bagaimana melakukan praktek dan ini bisa dilakukan melalui belajar.

Sang buddha dan Je Tsongkhapa telah berkata bahwa sebelum kita menerima Ajaran mereka, kita perlu bertindak seperti pengrajin emas yang memeriksa kemurnian barangnya. Seorang pengrajin emas pertama-tama perlu mencium materi yang diinvestigasinya. Kemudian, dia perlu membelah emas menjadi ukuran yang wajar. Akhirnya, dia perlu membentuk materinya.

Seperti itu juga, sebelum kita menerima atau memulai praktek apapun, kita perlu melakukan investigasi dengan hati-hati sumber dari praktek ini dengan mengadopsi ketiga proses ini, apakah mereka berasal dari Buddha atau Guru India atau Tibet. Belajar akan membantu pekerjaan ini.

Ada beberapa saran untuk memperkenalkan pejalaran ilmu pasti dalam program belajar Geshe. Secara umum, saya merasa mempelajari ilmu pasti adalah baik. Akan tetapi, mempelajari atau mempraktekan ajaran Buddha adalah cara untuk membebaskan semua makhluk dari samsara dan bagi kita untuk menjadi Buddha jadi kita dapat membebaskan semua makhluk dari samsara.

Untuk mencapai tujuan ini, mempelajari ajaran Buddha cukup. Semua 500 Arahant di masa lalu telah mencapai ini tanpa mempelajari ilmu pasti. Mempelajari Ajaran bukan hanya mendapatkan pengetahuan atau mendapatkan surat sertifikat resmi. Mempelajari Ajaran adalah untuk membebaskan seseorang dari samsara dan juga seseorang dapat menjadi Buddha untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan mereka.

Sekali lagi, untuk mencapai tujuan ini, mempelajari Ajaran sudah cukup. Tidak ada keperluan untuk memasukan ilmu pasti. Akan tetapi, untuk menjadi cendikiawan yang diakui dunia, kita perlu mempelajari Ajaran dan ilmu pasti! [tertawa]

Mempelajari Ajaran adalah agar kita mendapatkan kebijaksanaan untuk menyadari Kekosongan sebagai sifat fenomena akhir. Mempelajari ajaran terdiri dari tiga tahap: Mendengar ajaran; merenungkan apa yang kita dengar; mempraktekan apa yang kita pelajari.

Kita perlu mendengar ajaran terlebih dahulu sebelum kita merenungkan mereka. Sebelum kita dapat merenungkan, kita perlu mendengar apa yang telah dipelajari. Bila kita tidak mendengar, kita tidak dapat merenungkan dan tidak ada yang kita praktekan! Karena itu, pertama-tama, kita perlu mencari pengetahuan dengan mendengar dan mempelajari ajaran ini.

Secara pribadi saya mulai mempelajari teks besar ini ketika saya berusia 25 tahun. Saya sekarang 77 tahun dan saya merasa belum cukup belajar. Di samping tradisi Gelugpa, 3 tradisi Buddha Tibet lain, Sakya, Nyingma, dan Kagyu juga memiliki contoh guru-guru tersadarkan yang mempelajari Ajaran secara ekstensif.

Dalam tradisi Sakya, kita memiliki Sakya Pandita. Dalam tradisi Nyingma, kita memiliki Longchen Rabjampa. Dalam tradisi Kagyu, garis Karmapa dan Dhakpo Lhaje atau Gampopa adalah makhluk besar. Semua guru ini mempelajari teks besar secara ekstensif dan tidak hanya mengandalkan satu teks saja.

Pada tahun-tahun belakangan ini, beberapa guru telah mengajar bahwa cukup untuk mengandalkan praktek tantrik Vajrayogini [Naro Kachodma] saja dan Yamantaka Terpencil. Di sisi lain, dikatakan bahwa penekanan praktek tantrik Vajrayogini [Naro Kachodma ] dan Yamantaka Terpencil daripada gabungan praktek Tantra 32 Dewa Guhyasamaja, 62 Dewa Heruka Chakrasamvara dan 13 Dewa Yamantaka yang direkomendasikan oleh Je Tsongkhapa adalah tanda kemerosotan dari praktek tantrik tradisi Gelugpa. Apa pendapat Yang Mulia mengenai hal ini?

Praktek Vajrayogini atau Naro Kachodma tidak diperkenalkan kepada Tradisi Gelugpa oleh Trijang Rinpoche tetapi dipopulerkan terlebih dahulu oleh guru seperti Pabongka Rinpoche karena Pabongkha Rinpoche dianggap sebagai emanasi Naropa yang dia sendiri adalah Guru Aliran dari siklus tantrik ini. Trijang Rinpoche sendiri terafiliasi kuat dengan siklus Vajrayogini karena bahkan HH Dalai Lama menyatakan bahwa Trijang Rinpoche adalah praktisi dari siklus Heruka dan Vajrayogini.

Secara umum, tiga dewa atau yidam meditasi Je Tsongkhapa adalah 32 Dewa Guhyasamaja, 62 Dewa Heruka Chakrasamvara dan 13 Dewa Yamantaka. Diantara 3 yidam ini, Tsongkhapa khususnya bermeditasi pada Guhyasamaja dan menulis mengenai praktek ini secara ekstensif dan mendalam. Guhyasamaja adalah praktek utama Tsongkhapa.

Teks meditasi Guhyasamaja dan Heruka cukup panjang sementara teks Yamantaka relatif lebih singkat. Praktisi yang baik dan tulus dari tradisi Gelugpa harus melakukan ketiga praktek ini tanpa terpisahkan.

Saya secara pribadi mendengar HH Dalai Lama mengajar bahwa melakukan praktek 3 yidam ini bukan berarti membaca teks meditasi tiga yidam ini secara terpisah. Tujuannya adalah mengutip fitur esensial dan kritikal dari 3 yidam ini dan mengintegrasikan mereka menjadi salah satu dari 3 yidam yang telah yang telah diadopsi menjadi yidam utama orang tersebut.

Sebagai contoh, bila yidam utamamu adalah Yamantaka, kalian mengintegrasikan fitur penting dari 3 yidam ini menjadi Yamantaka dan kalian kemudian berkonsekonsentrasi pada praktek Yamantaka. Seperti itu juga, bila yidam kalian adalah Guhyasamaja, kalian dapat mengintegrasikan fitur esensial dari masing-masing dari ketiga yidam menjadi Guhyasamaja dan bila kalian kemudian berkonsentrasi mengenai praktek Guhyasamaja. Hal ini juga dapat diaplikasikan bila yidam kalian adalah Heruka. Guru Gelugpa terdahulu juga melakukan praktek dari 3 yidam ini sekaligus.

Guru aliran Gelugpa masa kini seperti Ling Rinpoche [yang merupakan Ganden Tripa ke-97 dan Guru Senior Dalai Lama], Trijang Rinpoche [Guru Junior Dalai Lama] dan Zong Rinpoche semuanya mempraktekan 3 yidam ini sekaligus.

Para guru besar ini juga menguasai praktek 3 yidam. Beberapa guru telah mengajar murid mereka agar hanya berkonsentrasi pada Vajrayogini dan Yamantaka Terpencil karena murid mereka mungkin tidak memiliki kemampuan untuk melakukan praktek dari 3 yidam ini. Akan tetapi, secara umum, praktisi Gelugpa juga memiliki kemampuan untuk melakukan praktek 3 yidam seperti yang disarankan oleh Yang Mulia Dalai Lama.

Umum

Apa pendapat Yang Mulia mengenai pembunuhan karena kasihan atau eutanasia?

Membunuh makhluk lain sebelum kematian alaminya melibatkan karma negatif membunuh bahkan bila dia sendiri yang meminta agar hidupnya diakhiri atau bila mereka sudah tidak sadar dan butuh alat bantu hidup dan kerabat terdekat memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka untuk mewakili mereka.

Apakah Yang Mulia berpikir diperbolehkan untuk mengaborsi bayi bila mereka dikonsepsi melalui pemerkosaan atau bila melahirkan sang bayi akan membahayakan hidup sang ibu atau bila sang bayi cacat kronis dan dia akan meninggal dalam beberapa detik atau menit setelah dilahirkan?

Segala bentuk aborsi melibatkan karma negatif membunuh makhluk hidup.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai percobaan yang dilakukan atas hewan untuk memberi manfaat makhluk hidup?

Menurut ajaran Buddha, memberikan penderitaan kepada makhluk lain adalah salah.

Bagaimana pendapat Yang Mulia mengenai homoseksualitas?

Sepertinya Homoseksualitas menjadi lebih umum di dunia sekarang ini. Homoseksualitas, seperti heteroseksualitas, adalah aktivitas samsara. Sepertinya tidak ada yang lebih baik atau buruk daripada yang lain. Apakah seorang pria atau wanita lurus atau gay tidak membuat mereka lebih baik atau buruk daripada yang lain. Secara umum, keduanya adalah aktivitas orang awam. Bukannya tidak ada karma yang terlibat dalam homoseksualitas, hanya saja seperti heteroseksualitas, aktivitas samsara yang lain.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai rekayasa genetika?

Saya tidak tahu apakah hal ini benar atau salah.

Apakah menurut Yang Mulia diperbolehkan untuk membasmi “hama”: hewan atau serangga yang berbahaya bagi manusia seperti nyamuk, kecoa, tikus dan lainnya?

Semua makhluk adalah sama. Membunuh makhluk manapun dianggap sebagai karma negatif. Bahkan bila hewan ini memberikan penyakit bagi manusia, menurut ajaran Buddha, adalah tindakan yang tidak tepat untuk mencelakakan atau membasmi mereka. Akan tetapi, untuk tidak menghentikan penyakit dari menyebar kepada manusia sebagai hasil infeksi dari hewan-hewan ini juga sepertinya tidak benar. Sulit untuk memutuskan. Tidak peduli di pihak mana kau berada, hal ini sangat sulit.

Apakah pendapat Yang Mulia mengenai “serangan pencegahan”? ini adalah pandangan yang menyatakan bahwa melemahkan sumber daya militer musuhmu terlebih dahulu sebelum mereka mencelakakan orang awam adalah cara tepat untuk melindungi kehidupan. Pandangan lain adalah “serangan pencegahan” dengan melakukan agresi terlebih dahulu dari satu sisi tanpa provokasi dari pihal lain dan karena itu salah.

Sulit untuk memutuskan.

Apakah harapan Yang Mulia untuk dunia?

Saya mengharapkan kebahagiaan, kesehatan dan juga kehidupan yang lebih baik bagi semua makhluk di dunia.

Pengenalan singkat Ajaran Buddha

[Sebagai catatan informal untuk menemani interview di atas dengan HH Ganden Tripa ke-101 untuk sahabat yang tidak akrab dengan ajaran Buddha ]

Secara umum

Sebab dari samsara Buddha, Yang Tercerahkan, mengajar bahwa semua makhluk menderita karena mereka tidak mengenali sifat Kekosongan inheren.

-Dari Tidak mengenali Kekosongan atau Kebodohan muncul Diri.

-Dari Diri muncul Sikap mementingkan Diri yang menempatkan seseorang diatas yang lain.

-Dari Sikap mementingkan Diri semua Pencemaran lain: Kemarahan, Keterikatan, dan sejenisnya.

-Sebagai hasilnya menciptakan tindakan yang dimotivasi oleh Pencemaran ini, makhluk menderita dari “Karma” atau Efek dari Tindakan mereka.

-Dari penciptaan “Karma” yang tak ada habisnya, makhluk dipaksa untuk lahir, mengalami kematian yang tidak diinginkan, lahir kembali, mengalami kematian lagi dan seterusnya, lagi dan lagi dalam siklus penderitaan yang tak ada habisnya.

Cara untuk mengakhiri samsara

-Untuk menyadari Kekosongan sehingga mereka bisa bebas dari samsara, makhluk perlu mempraktekan Delapan Jalan Mulia: Pandangan Benar/ Maksud Benar/ Perkataan Benar/ Tindakan Benar/ Kehidupan Benar/ Usaha Benar/ Pikiran Benar/ Konsentrasi Benar.

-Ketika makhluk menyadari Kekosongan, mereka kemudian dibebaskan dari samsara.

Mahayana

Bodhisattva

Makhluk yang tidak hanya ingin membebaskan diri mereka dari samsara tetapi di samping itu, ingin mencapai ke-Buddha-an, karena ini adalah cara terbaik bagi mereka untuk membebaskan makhluk tak terhingga dari samsara, dikenal sebagai “Bodhisattva”.

Bodhicitta Biasa

Harapan untuk ingin mendapatkan ke-Buddha-an tidak peduli berapa lama yang dibutuhkan atau seberapa sulit demi membebaskan semua makhluk dari samsara dikenal sebagai “Bodhicitta biasa”.

Cara praktek bagi para Bodhisattva

Tradisi Sutra – Bodhisattva mempraktekan Enam Kesempurnaan selama kalpa tak terhingga sehingga mereka dapat mencapai kondisi ke-Buddha-an. Enam Kesempurnaan adalaha Kemurahan hati/ Moralitas/ Kesabaran/ Keteguhan/ Meditasi/ Kebijaksanaan. Kelompok Bodhisatva ini melakukan praktek menurut Tradisi Sutra Mahayana.

Bodhicitta Tidak Biasa

Kelompok praktek Bodhisattva lain menurut Tradisi Tantra Mahayana. Kelompok Bodhisattva ini memiliki motivasi “Bodhicitta Tidak Biasa” yang ingin mencapai ke-Buddha-an demi kebebasan dari samsara bagi semua makhluk melalui cara apapun karena mereka tidak tahan, karena kasih mereka yang besar, penderitaan dari semua makhluk sementara mereka menuju ke-Buddha-an.

Cara praktek Bodhisattva

Tradisi Tantra – kelompok Bodhisattva ini mempraktekan Dewa Yoga dan praktek tantrik lainnya yang akan menghasilakn kondisi ke-Buddha-an dengan waktu tersingkat termasuk dalam kehidupan ini. Secara umum, praktek Bodhisattva ini memandang kemurnian dan potensi akhir dari semua makhluk. Mereka melakukan hal ini dengan menganggap Guru Spiritual mereka sebagai Buddha, mereka sendiri dan semua makhluk lain sebagai Buddha.

Sumber: http://www.trisurlungriknamgyal.com/blog-2/

560 total views, 1 views today

Leave a Comment

DISCLAIMER IN RELATION TO COMMENTS OR POSTS GIVEN BY THIRD PARTIES BELOW

Kindly note that the comments or posts given by third parties in the comment section below do not represent the views of the owner and/or host of this Blog, save for responses specifically given by the owner and/or host. All other comments or posts or any other opinions, discussions or views given below under the comment section do not represent our views and should not be regarded as such. We reserve the right to remove any comments/views which we may find offensive but if due to the volume of such comments or limited resources, the non removal and/or non detection of any such comments/views does not mean that we condone the same.

We do hope that the participants of any comments, posts, opinions, discussions or views below will act responsibly and do not engage nor make any statements which are defamatory in nature or which may incite and contempt or ridicule of any party, individual or their beliefs or to contravene any laws.